
Kurang tiga hari lagi Naca akan mengikuti olimpiade tingkat provinsi di Surabaya. Mulai hari ini Naca hanya akan mengikuti pembinaan intensif dan mendapat dispensasi pelajaran biasa.
“ Tiap hari harus belajar kebumian terus, lama-lama pengen pindah planet saja deh rasanya.” Celetuk Naca di kelas pembinaan belum ada yang datang selain dirinya.
Karena merasa bosan menunggu teman yang lainnya datang Naca pergi berkeliling sekolah dan sekalian pergi ke Hypermart dekat sekolahnya.
“ Hoos-hoos capek juga jalan pagi-pagi kaya gini, pembelajaran masih di mulai 40 menit lagi huhu.” Ucap Naca sembari memakan cemilan yang Ia beli di hypermart.
Setelah kekenyangan memakan cemilan itu Naca kembali ke kelasnya.
“ Oh iya aku hari ini harus nyari tau siapa yang sudah ngasih aku box hitam kemarin, tapi kayanya aku ngga nyari tau dan ngga tau lebih baik deh. Sudahlah lagian kapan-kapan juga bakal ketahuan siapa yang ngasih box itu.” Ucap Naca sembari terus berjalan di lorong sekolahnya.
Sesampainya di kelas Ia mendapati misteri box untuk kedua kalinya dan kali ini langsung di tempat duduknya. Sontak Naca langsung pergi mencari pelaku yang sudah memberikannya kotak box tersebut.
“ Ini aku sudah muter-muter sekolah berapa kali, baru juga sarapan sudah dibikin bakar kalori saja.” Celetuk Naca sembari menduduki bangku di dekatnya.
Naca memikirkan kalau Ia harus meminta bantuan orang lain untuk bisa menemukan orang yang sudah memberikan kotak tersebut, apabila besok Ia mendapatkan kotak seperti itu lagi.
“ Oke kalau besok aku dapat kotak kaya gitu lagi aku bakal nyari orangnya, tapi ngga mungkin deh kayanya besok kan yang masuk ke sekolah hanya orang-orang tertentu dan berkepentingan khusus saja yang bisa memasuki sekolah.” Ucap Naca sembari berjalan menuju kelasnya untuk membuka isi kotak tersebut.
Kemudian Naca langsung membuka kotak tersebut ternyata isinya adalah kotak bekal dan minuman kemasan.
“ Wih ada makanannya juga, yaudah sambil nunggu yang lain dateng aku makan saja deh, ngga mungkinkan isinya racun.” Batin Naca sembari memakan bekal tersebut dengan penuh senyuman sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.
Triing triing tring.
Pembelajaran intensif dimulai Naca masih saja senang setelah memakan makanan enak tersebut.
“ Ih kalau makanannya seenak ini sih, dikasih tiap hari juga bakal aku makan tapi siapa ya yang ngasih kalau ini cowok dan dia ganteng pokoknya tipe aku bakal aku jadiin cowokku ah.” Ucap Naca lirih sambil menghentakkan meja karena terlalu excited.
Mendengar suara gebrakan tersebut membuat semua orang terkejud.
“ Iya Naca apa ada masalah. Apa ada yang tidak kamu mengerti?” Tanya guru dikelasnya tegas.
Naca baru sadar kalau Ia terlalu bersemangat memikirkan penggemar rahasianya, sampai- sampai tidak memperhatikan pelajaran dan malah ribut sendiri.
“ Eh maaf Pak saya tidak sadar, mohon lanjutkan saja pelajarannya.” Ucap Naca sambil berdiri memohon maaf dengan kedua tangan didada dan menundukan kepalanya.
Sekarang waktunya istirahat Naca membawa bekal tadi ke kantin untuk melanjutkan makannya di kantin.
“ Bu saya pesan milkshakenya satu ya kaya biasa.” Ucap Naca sembari membayar.
Di kantin lumayan dipenuhi oleh orang-orang yang sedang antri, Naca mencari tempat duduk yang kosong namun seperti biasa hanya ada tempat duduk kosong di dekat geng Ezra. Kursi di dekat Ezra selalu kosong karena tidak ada yang mendekati Ezra disekolah ini.
“ Baiklah tidak ada pilihan lain, lagian hari ini Dave tidak bisa menemaniku makan di kantin.” Celetuk Naca lirih sembari berjalan ke arah kursi kosong tersebut.
“ Kak apa aku boleh duduk disini? Soalnya ngga ada kursi lain yang kosong selain disini.” Ucap Naca sembari menghindari kontak mata.
Mendengar hal itu Agha langsung terkejut dan menatap Ezra. Ezra hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sekatah katapun.
“ Apa kau membuat bekal itu sendiri seperti nasi goreng dahulu?” Tanya Agha.
“ Ha-hah oh kok Kakak tau masalah nasi goreng? Tidak Kak aku mendapatkan bekal ini di atas meja kelasku.” Sahut Naca dengan senyum manisnya.
Agha langsung menatap Naca dengan matanya yang melebar “ Kenapa kamu makan bukannya bisa saja orang itu berniat negatif!?” Ucap Agha.
Dengan tersenyum lebar dan manis Naca menjawab “ Aku yakin orang ini tidak jahat, walaupun aku tidak bisa memastikannya tapi aku percaya dengan feelingku.”
“ Kenapa Kak Ezra hanya diam saja ya? Kenapa dia tidak mengajakku berbicara sama sekali, tidak seperti Kak Agha.” Ucap Naca lirih dengan bibir yang turun membentuk bulan sabit.
Agha menatap Ezra dengan sinis “ Loe kenapa diem terus sih Zra dari kemarin loe kaya gini, capek gue liat loe kaya gini. Semangat hidup dong !” Ucap Agha.
Ezra menatap Agha dan diam untuk beberapa detik lalu menjawab “ Oke gue harus banget ngomong ya?” Ucap Ezra sembari menyeringai.
“ Semuanya dengerin ucapan gue, hari ini kalian boleh makan sepuasnya biar gue yang bayar.” Teriak Ezra yang memekakkan telinga satu kantin.
“ Sudah puas kan loe, sudah gue mau balik ke kelas dulu. Tolong bayarin ya bro.” Ucap Ezra sambil menepuk bahu Agha dan memberikan dompetnya.
Selesai menghabiskan makanannya Naca kembali ke ruang pembinaan dan melanjutkan pelajarannya.
(DAVE)
“ Caa maaf ya aku ngga bisa nemenin kamu makan di kantin, tadi mendadak aku disuruh bantuin guru.”
“ Oh iya apa kamu sudah sampai di kelas?”
“ Nanti pulang sekolah bareng aku aja ya!” Ajak Dave dari pesan obrolan.
^^^“ Iya ngga apa-apa Dave, aku sudah sampai di kelas kok.”^^^
^^^ ^^^
^^^“ Oke tapi sepertinya aku akan pulang agak terlambat apa tidak apa-apa?”^^^
“ Aku akan menunggumu Caa, tenang saja! Apa yang ngga buat kamu.” Ucap Dave dalam pesan obrolan mereka.
^^^“ Oke.”^^^
Triing tring tring....
Pembelajaran sekolah telah selesai. Naca melanjutkan pembinaan intensifnya sedangkan Dave melanjutkan Ekskul Basketnya.
Beberapa jam kemudian, jam menunjukan pukul 6 sore Dave dan Naca sudah ada di parkiran sekolah.
“ Caa kita makan malam dulu ya, ngga apa-apa kan.” Tanya Naca sembari menghidupkan mesin mobilnya.
“ Ngga apa-apa Dave hanya saja, kita masih memakai seragam sekolah tidak enak untuk dilihat apabila kita berkeliling dengan baju seperti ini.” Ucap Naca sambil meringkuk.
“ Kita bisa pergi ke Mall dulu untuk membeli baju Caa.” Sahut Dave sambik tersenyum manis mengarah ke pacarnya.
“ Hah aku ngga suka Dave kamu selalu boros, sudahlah kita begini saja, lagian cuman untuk kali ini saja.”
Merekapun langsung menuju tempat yang sudah Dave tentukan.
Sesampainya di tempat tersebut.
“ Dave aku lagi males ke tempat mewah seperti ini, aku ada ide bagaimana kita pergi ketempat yang sering di kunjungi oleh pelajar saja.” Ucap Naca dengan menunjukan layar handphonenya.
“ Apapun yang kamu mau Caa.” Sahut Dave merekapun menuju ke tempat yang Naca inginkan.
Sesampainya disana mereka pergi ke tempat photoboat dan mencari makanan yang paling di rekomendasikan di internet tadi.
Selesai melakukan itu semua mereka menuju arah pulang.
“ Aku cerita ke Dave atau ngga ya masalah box hitam itu, tapi aku mikir itu dari Dave jadi sepertinya tidak usah saja. Daripada nanti akhirnya Ia malu dan tak mau memberikanku hadiah seperti itu.” Ucap batin Naca sambil melihat jendela mobil dan menikmati angin malam.
“ Eh Caa Senin depan kamu sudah olimpiade di Surabaya ya, tapi sepertinya aku ngga bisa ikut kesana untuk menemanimu, kamu tau sendiri kan aku ada turnamen Futsal.” Ucap dave tanpa sadar memajukan bibir bawahnya.
Mendengar itu Naca langsung tersenyum manis “ Memang tidak perlu kamu kesana Dave dengan mendukungku saja aku sudah senang. Semoga kamu menang ya.”
“ Iya Caa, sudah sampai saja nih, kalau begitu sampai ketemu besok, daah.” Ucap Dave sambil menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
“ Oke makasih Dave, hati-hati ya daah.” Sahur Naca sembari melambaikan tangannya.
Naca berjalan menuju kamarnya dengan sempoyongan sambil memikirkan “ Kenapa setiap ketemu Dave aku tidak merasakan apapun ya, senang juga biasa saja, tapi setiap memikirkan orang yang selalu menyemangatiku melalui box hitam itu aku begitu gembira.”
“ Capek langsung tidur saja deh.” Ucap Naca sambil merebahkan dirinya.