Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 22 : MISTERI BOX HITAM



Sementara itu di Malang.


Pagi yang dingin Ezra dan Agha baru saja mendarat di Bandara Malang di jam 3 pagi.


Ezra menguap menutupi mulutnya dengan satu tangannya “ Hoaam..gila gue ngantuk banget capek juga.”


“ Gue juga masih ngantuk sih, ini kita pisah di sini atau gimana Zra? Tanya Agha.


“ Kayanya loe ikut kerumah gue saja istirahat disana, lagian rumah gue kan dekat dari sini. Besok pagi kita kerumah loe ngambil baju ganti, tolong bawain koper gue dong Gha.” Ucap Ezra sembari berjalan menuju taksi.


“ Boleh juga gue pengen cepat-cepat tidur juga bro, bye the way ada nyokap loe ngga di sana sampe sekarang gue masih agak takut ke nyokap loe.” Sahut Agha sembari menarik koper-koper mereka.


Sesampainya dirumah Ezra, mereka berdua langsung tidur di kasur Ezra.


Sementara itu di rumah Naca.


Kriiiing...ddrrzz kriiing...ddrrzz


Naca terbangun mendengar suara alarm handphone nya. “ Ah pagi banget alarmku bunyi, sekarang ngapain ya kalau tidur terlalu nangggung. ” Ucap Naca sembari mengucek- ngucek matanya.


Naca bangun dari tempat tidurnya sambil sesekali meregangkan badannya. Lalu pergi kebawah untuk menemui Omanya yang biasanya sudah terbangun di jam segini untuk meminum teh.


“ Yey benar kan Oma pasti bangun.” Ucap Naca sembari menuruni anak tangga dan sesekali melihat Oma nya yang sedang santai di ruang tamu.


Mendengar suara cucunya yang sedang berbicara sontak membuat Oma mencari asal suara tersebut “ Loh tumben sekali Nona Muda dirumah ini sudah bangun.” Ucap Oma.


“ Hehe iya Oma aku bangunnya lumayan pagi, gara-gara salah nyetel alarm, oh iya Oma aku ada cerita nih baru kejadian kemarin loh.” Sahut Naca sambil berjalan ke arah Oma.


Oma mengangguk sambil menyeruput tehnya “ Iya cerita saja Naa, memangnya ada apa di Sekolahmu?” Ucap Oma penasaran.


“ Jadikan disekolah aku diomongin orang-orang gitu katanya aku ngerebut cowo dari temen kelasku, padahal kan aslinya ngga begitu, tapi aku diem aja.” Cerita Naca ke Omanya.


Mendengar itu sontak membuat alis Oma terangkat dan matanya melebar “ Terus bagaimana? Kenapa kamu diam saja Naa??” Ucap Oma terkejud.


“ Awalnya aku ingin menceritakan yang sebenarnya tapi pasti akan percuma kalau tidak ada yang percaya, jadi aku diam saja. Untungnya semua sudah jelas sekarang bukan aku yang mendekati atau mengambil Dave dari siapapun.” Ucap Naca.


Oma menyipitkan matanya “ Ooh Oma paham sekarang kamu sudah punya Pacar toh.”


Naca menggerak-gerakkan kakinya “ Iya Oma, hanya saja terkadang aku lupa saat ingin menceritakan tentang Dave ke Oma, jadi hanya bisa cerita tentang Dave hari ini.” Ucap Naca sesekali menggaruk hidungnya.


Mereka melanjutkan pembicaraan mereka.


☆☆☆


Di kamar Ezra.


“ Zraa bangun bro, ayo sekolah loe belum siap-siap.” Ucap Agha sembari mengeringkan rambutnya.


“ Bentar-bentar 5 menit lagi, masih belum bisa buka mata nih.” Sahut Ezra.


Selesai bersiap-siap mereka menuju ke rumah Agha untuk mengganti baju. Lalu berangkat ke Sekolah bersama.


“ Aduh sudah jam segini saja tadi kelamaan cerita sama Oma sih, jam segini aku masih otw ke sekolah. Pak Darmo agak cepat ya nyetirnya takut telat nih.” Ucap Naca sesekali melihat jam tangannya.


“ Siap Nona sebentar lagi juga sampai kok.” Sahut Pak Darmo.


“ Sudah berapa hari ya Kak Ezra ngga masuk Sekolah? Di grub juga dia jarang muncul. Apa sih Naa kenapa selalu mikirin orang itu sih.” Celetuk Naca dalam hati sembari menepuk dahinya.


Sesampainya di Sekolah.


Naca dan Ezra berpapasan di depan gerbang Sekolah.


“ Yes Kak Ezra sudah masuk sekolah.” Ucap Naca lirih.


Melihat Naca yang baru juga sampai di sekolah sontak membuat Agha mengode Ezra.


“ Tuan Putri loe baru sampai tuh, loe ngga nyapa dia?” Ucap Agha sembari menepuk pundak Ezra.


Ezra memutar kedua bolah matanya lalu mengalihkan pandangannya “ Buat apa!?” Ucapnya.


Mendengar ucapan Ezra membuat Agha bangga “ Siip bro, gini dong teman gue ngga sia-sia kita berangkat ke Bali kemarin.” Sahut Agha.


Naca berjalan memasuki sekolah sembari berfikir “ Tumben Kak Ezra ngga nyapa aku, kayanya dia emang sudah ngga suka aku lagi deh yasudah lah. Naca kamu juga harus move on!” Ucap Naca lirih.


Baru saja Naca memasuki kelasnya, Ia sudah disambut oleh teman-teman di kelasnya.


“ Naca maaf selama ini kami tidak tau kebenaran yang sebenarnya, kami sembarangan menuduhmu yang tidak-tidak.” Ucap Reni dengan kepala yang terus menunduk kearah bawah.


“ Aku juga maaf tidak bisa membelamu di depan anak-anak yang lain Caa.” Ucap Tsabina.


Faris dan Abimanyu menarik tangan Naca dan menggenggamnya “ Maafkan kami juga, selama ini kami tidak mengetahui hal ini dan malah sibuk mengurus tournament kami saja.”


“ Maaf juga sudah mengatakanmu wanita ******.”


“ Maaf sudah mengatakan kau sok pintar.”


Semua teman dikelasnya meminta maaf kepada Naca.


“ Sudah-sudah cukup, aku sudah memaafkan kalian semua, tapi kalian harus lebih belajar membaca situasi dan harus tau siapa yang benar dan yang salah ya.” Sahut Naca dengan senyum manisnya.


Tiba-tiba Tiara datang, anak-anak yang lain langsung mengutuknya dengan kata-kata yang jahat.


“ Sudah cukup apakah kalian tidak belajar dari pengalaman. Sudahlah akupun sudah memaafkan Tiara jadi kalian jangan mengatakan hal yang buruk tentangnya lagi.” Ucap Naca membela Tiara.


Mendengar ucapan tersebut sontak membuat anak yang lain terkejut terkhususnya Tiara, Ia langsung meminta maaf dengan tulus kepada Naca di hadapan teman-temannya.


Triing tring tring...


Pembelajaran dimulai, murid-murid kembali kebangku tempat duduknya masing-masing. Naca mengikuti pelajaran dengan hati senang karena akhirnya Ia sudah bisa berbaur dengan teman-temannya dikelas, rumor yang beredar selama ini tidak benar membuat anak yang lain mau berteman dengannya.


Waktu istirahat Naca bergegas ke tempat pembinaan intensif lalu ke kantin. Kantin begitu ramai di jam istirahat pertama.


“ Naca kamu mau beli apa?” Tanya Dave di chat.


“ Apapun yang cepat Dave, soalnya aku cuman punya waktu istirahat 10 menit lalu kembali ke kelas pembinaan.” Balas Naca di obrolan chat sambil duduk menunggu Dave yang sedang antri.


Beberapa menit kemudian.


“ Oh my god waktu istirahatku habis aku harus cepat kembali ke kelas.” Ucap Naca ke Dave yang baru saja selesai memesan makanan.


Naca kembali ke kelasnya tanpa memakan apapun di kantin tadi.


Setelah pembinaan pada waktu istirahat selesai, Naca kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran di kelas biasa.


“ Jangan lupa kumpulkan tugas yang sudah saya berikan.” Ucap guru lalu pergi keluar kelas.


Kelas ramai di pergantian jam. Nacapun ikut meramaikan kelas dengan asik bercengkrama dengan teman-temannya.


Sementara itu Zidan masih saja menunggu di depan rumah Helen sesekali menekan bel rumahnya.


“ Bii jangan bukakan pintu untuk orang yang sedang menunggu di depan sana ya, pokoknya siapapun yang membukakan pintu untuk pria itu akan aku hukum.” Gertak Helen kepada pelayan dirumahnya.


Pelayan itu mengangguk “ Siap Non tidak akan saya buka gerbangnya untuk orang di depan sana.”


☆☆☆


Di kelas Ezra.


“ Zra sebenarnya gue masih kepo tentang loe, beneran nih loe sudah move on dari Naca.” Ucap Agha penasaran sembari menyeringai.


Ezra tersenyum “ Kalau iya memangnya kenapa, loe sebenarnya ngedukung gue ngapain sih.” Sahut Ezra kesal.


“ Ya bagus sih kalau loe sudah move on tapi bukannya terlalu cepat ya.” Ucap Agha.


Ezra menggebrakkan mejanya lalu keluar kelas sampai pembelajaran hampir berakhir.


“ Gue mau kemana ini ke perpus kali ya tiduran.” Batin Ezra.


Tiing ting ting ( pembelajaran terakhir telah dimulai )


“ Astaga sudah bel jam terakhir aja, harus cepat-cepat ke kelas pembinaan nih.” Ucap Naca sembari mengemasi barang-barangnya lalu segera pergi ke ruang pembinaan.


Di tengah perjalanannya Naca teringat kalau dia harus membawa buku soal-soal tentang kebumian yang ada di Perpustakaan untuk teman-teman sekelasnya.


“ Hoos-hoss pengap banget capek lari-lari.” Ucap Naca di depan perpustakaan sembari menulis absen daftar kunjungan perpustakaan.


Sambil memilah-milah buku mana saja yang harus dibawa ke kelas, perut Naca berbunyi “ Astaga malu banget di dengerin orang-orang.” Ucap Naca lirih menahan malu, lalu Ia lekas pergi ke kelas.


Kelas pembinaanpun sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu, Naca sedikit terlambat karena harus membawa buku-buku dari perpustakaan.


“ Maaf Pak saya terlambat, karena harus ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengambil buku-buku ini.” Ucap Naca dengan tumpukan buku-buku ditangannya.


“ Iya silahkan langsung bagikan ke teman-temanmu saja.” Sahut guru itu.


Pembinaan intensif ini pun kembali di lanjutkan.


Tiba-tiba setelah 40 menit berlalu terdengar suara pengumuman dari sound sistem yang ada di kelas itu.


‘ Naca Alisyndria dari kelas X IPS 1, silahkan menuju ke ruang Tata Usaha secepatnya.'


Mendengar pengumuman tersebut Naca langsung meminta izin untuk keluar kelas sebentar.


“ Ini panggilan apaan sih dari tadi aku lari-lari terus, lama-lama aku jadi atlet lari juga bukan anak Olim.” Celetuk Naca sembari terus berlari.


Setelah sampai di Ruang Tata Usaha tersebut Naca mendapat satu kotak besar berwarna hitam bentuknya mirip seperti kado.


Kemudian Naca kembali ke kelas pembinaannya untuk melanjutkan pelajaran.


Pembinaan intensif selesai pada pukul 6 sore.


“ Akhirnya selesai juga kelas hari ini, pengen cepat-cepat pulang, pengen makan seharian ini aku cuman makan cemilan yang dikasih waktu pembinaan saja.” Ucap Naca sembari berjalan ke arah parkiran mobil.


Sesampainya dirumah Naca langsung membersihkan badannya dan makan malam.


“ Bibi agak cepat dong, aku laper banget nih seharian belum makan nasi cuman makan cemilan saja.” Ucap Naca sembari duduk di meja makan.


Bii Aish dan pelayan lainnya langsung terburu -buru menghidangkan masakan yang telah mereka masak “ Silahkan di makan Non.” Ucap Bii Aish.


Sambil melahap makanannya Naca teringat tentang bungkusan kado tadi “ Oh iya bungkus kadonya belum aku buka isinya apa ya.” Celetuk Naca dalam batinnya lalu mengunyah makanannya dengan cepat.


Melihat perilaku Naca yang terlalu terburu-buru menyantap makanannya membuat Bii Aish prihatin “ Astaga Non beneran selaper itu ya.” Ucap Bii Aish sembari menambahkan lauk di piring Naca.


“ Hehe iya Bii aku pengen cepat-cepat balik ke kamar juga ini, sudah Bii jangan di tambah lagi makanannya aku sudah hampir selesai kok.” Ucap Naca.


Selesai makan Naca langsung ke kamarnya dan membuka kotak hitam tersebut. Di dalam kotak itu terdapat roti-rotian dan susu serta secarik kertas surat yang isi tulisannya.


‘ Hai Naca maaf aku ngasih ini mendadak, aku cuman mau bilang kamu sehat-sehat ya! Makan yang teratur juga, tenang ya aku bukan orang jahat aku gabakal ngepaparaziin kamu juga. Aku tulus ngasih kamu ini semua, jangan lupa di makan kalau bisa dibuat bekal disekolah besok ya. ~ Anonymous ~.’