
“ Bro makan dulu ayo! Buat ngisi perut, gaenakkan kalau harus minum tapi perutnya kosong.” Ucap Agha di dalam mobil.
“ Ide bagus itu, ayolah makan dulu lagian si Zidan belum makan dari pagi.” Sahut Ezra sambil fokus menyetir.
Zidan masih saja melamun memikirkan Helen yang tidak ingin bertemu dengannya.
Menghela nafas dalam-dalam “ Menurut kalian, gue bisa ketemu sama Helen ngga ya di dalam klub nanti.” Tanya Zidan.
“ Mungkin bisa bro, biasalah cewekkan emang suka sok jual mahal. Gue yakin dengan tampang lo mudahlah dapetin Helen. Apalagi kemarin kan kalian sudah pernah satu kamar bareng.” Sahut Agha optimis.
Mendengar ucapan Agha tersebut membuat Zidan lumayan bersemangat lagi.
Dengan “ Ayo cepat kita makan, gue ngga sabar ketemu sama Helen.”
Setelah itu mereka lanjut pergi ke klub malam.
Makin lama alunan musik makin berdentum dengan begitu keras. Bunyi terompet yang memekikkan pendengaranpun sudah berbunyi.
Orang-orang disana menari dan bersenang-senang bagaikan hidup hanya sekali dan kita harus merayakannya dengan party bersama. Sesekali meneguk minuman yang ada di tangannya.
“ Heleen, kenapa loe ninggalin gue.” Ucap Zidan dengan muka memerah bagaikan udang rebus.
Sudah beberapa jam Zidan menunggu kedatangan Helen sembari terus menambah minuman disana tetapi Helen tak kunjung datang.
“ Sudah bro percuma loe gini terus, kalau loe mabuk yang ada malah ngga bisa ketemu Helen.” Ucap Agha menarik gelas Zidan dari tangannya.
Melihat temannya yang hampir tidak sadarkan diri itu membuat Ezra tergerak untuk membawanya ke hadapan Helen.
Ezra memberi isyarat ke Agha kalau mereka harus segera keluar dari tempat itu.
Di parkiran mobil.
“ Gue ada ide Ghaa gimana kalau kita bawa Zidan kerumah Helen saja, lagian kitakan ngga mungkin pulang ke Malang dengan Zidan yang masih ngga sadar kaya gini.” Ucap Ezra.
Mendengar ide dari Ezra sontak membuat Agha mengangguk “ Kayanya ini juga bisa buat mereka jadi lebih dekat lagi, ide yang cukup bagus sih Zra.”
“ Tapi sekarang masalahnya cuman satu si Helen mau ngga ngejaga Zidan yang mabuk kaya gini?” Tanya Ezra.
“ Sudahlah kita berangkat dulu saja, kalau bisa Helen harus mau kita alasan apapun biar Helen mau jagain Zidan.” Ucap Agha sembari menyetir menuju rumah helen.
Sesampainya di rumah Helen.
Ezra terus membunyikan bel rumah Helen, karena tidak ada yang kunjung keluar menemui mereka sudah sekitar 10 menit mereka menunggu di depan gerbang.
Dari kejauhan terdengar suara “ Sebentaaar.”
Setelah di persilahkan masuk, Ezra dan Agha masuk ke dalam dan menunggu Helen turun menyambangi mereka. Sedangkan Zidan menunggu di dalam mobil sambil terus mengigau memanggil nama Helen.
Dari tangga Helen melihat Ezra dan Agha “ Untuk apalagi kalian kesini?” Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melupakan kejadian malam itu.” Ucap Helen dengan memutar bola matanya.
Dengan memijat-mijat tangannya Agha menjawab “ Maaf mengganggu waktumu yang berharga tapi ada yang ingin kami tunjukan kepadamu.” Ucap Agha sembari menarik pergelangan tangan Helen.
Sampailah mereka bertiga ke dalam mobil.
Zidan terus saja mengigau dengan mata yang berkaca-kaca “ Heleen,...., Helen kenapa kau meninggalkanku.”
“ Coba kau lihat apa yang telah kau lakukan kepada temanku ini.” Ucap Ezra dengan dahi berkerut dan kepalan tangan yang kuat.
Helen mengelak “ Aku tidak melakukan apapun sampai membuat pria ini mabuk-mabukan.”
Ezra terus saja menekan Helen agar Ia merasa bersalah.
“ Sudahlah aku tidak mau ribut, aku masih ada urusan setelah ini. Kau jaga Zidan! Cepat kemasi barang-barangmu dan ikut kami ke hotel.” Ucap Ezra tegas.
Mendengar ucapan Ezra yang terus saja membuatnya terpojokan dan dengan kata-kata yang membentak, membuat Helen tidak memiliki pilihan lain selain menjaga Zidan.
Setelah beberapa menit menunggu Helen mengemasi barang-barangnya. Kemudian mereka berangkat ke hotel yang sudah mereka sewa.
“ Sebenarnya aku menolak Zidan bukan karena ada sesuatu hal yang salah di Zidan. Aku hanya takut untuk memulai sebuah hubungan lagi. Ucap Helen di dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sesampainya di hotel.
Helen menemani Zidan dikamarnya sesekali memperhatikan tingkah Zidan yang semakin lama dilihat, semakin lucu.
“ Zidaaaan.”
“ Sebenarnya apa yang membuat kamu suka sama aku?” Tanya Helen, Ia berfikir pasti Zidan menjawab mungkin karena wajah, badan atau bagian fisik lainnya.
Dengan terbata-bata seperti orang linglung Zidan menjawab “ A—ku suka Dia ka-karena apa ya? A—ku juga ngg—a tau sepertinya karena aku sudah jatuh hati saat melihat dirinya yang a-apa adanya dan ju-jur, Dia juga m-anis.” Ucap Zidan.
“ Apakah kau sudah pernah bercinta sebelumnya?” Tanya Helen lagi.
“ Ti-dak aku tidak sembarangan memberikan si kecilku, tapi ntah mengapa aku ingin memberikannya kepada Helen, mungkin aku sudah cukup percaya kepadanya.”
“ Lalu apa kau...” Ucap Helen ingin bertanya lagi tetapi Zidan sudah tertidur lelap.
Helen menyelimuti Zidan lalu tidur bersamanya di samping kanan.
Tok tok tok ~~~~
Helen membukakan pintu kamarnya, didepan sudah ada Ezra dan Agha yang sudah membawa barang-barang mereka di dalam koper.
“ Kami ingin pulang duluan ya, kau tolong jaga Zidan disini karena tidak mungkin untuk Dia ikut kami pulang.” Ucap Agha memohon.
“ Kau hanya perlu menjaganya sampai Ia sudah siuman saja, sebelummya terima kasih. Kami pergi dulu.” Timpal Ezra sembari membawa kopernya dan pergi menuju lobby hotel.
Beberapa jam kemudian Zidan terbangun.
“ Kau si—siapa, mengapa kau seperti Nona Helen. Apakah kau benar-benar Helenku?” Tanya Zidan sembari meraba-raba wajah Helen.
Mendengar ucapan Zidan membuat Helen terbujur kaku dan memejamkan matanya dalam waktu yang lama “ Bu—kan, ak—aku bukan Helen.” Sahutnya.
Zidan mengangguk dengan sudut bibir yang turun “ Aku benar-benar berharap kalau kau sebenarnya kau Helen, tapi kalau dilihat-lihat kau tidak secantik Helenku. Aku sekarang percaya kau memang buka Helen.”
Mendengar ucapan Zidan, Helen hanya menghela nafas berat.
“ Karena kau lumayan mirip dengan Helen, bolehkan aku memelukmu untuk kali ini saja?” Tanya Zidan raut wajah memelas.
Helen mengangguk, mereka berpelukan semalaman.
Hingga saat pagi tiba Helen terbangun lebih dahulu. Lalu memeriksa keadaan Zidan.
“ Sepertinya Ia sudah tidak apa apa, aku akan pulang kalau begitu.” Ucap Helen dengan suara pelan.
Kemudian Helen beranjak dari kasur dengan sangat hati-hati, agar tidak membangunkan Zidan yang masih tertidur lelap.
Kemudian mengemasi barang-barangnya dan pergi. Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Zidan setengah terbangun.
“ Siapa wanita itu.” Ucap Zidan setengah sadar lalu kembali tertidur.
Beberapa menit kemudian Zidan kembali terbangun dengan beberapa ingatan yang terlintas dibenaknya tentang malam tadi.
“ Bukankah malam tadi itu Helen. Aku yakin 100% kalau Helen bersamaku malam tadi, tapi kenapa sekarang aku sendirian.”
Zidan bergegas menghubungi teman-temannya.
“ Kalian dimana, gue baru bangun nih. Ayo nyari makan!” Ucap Zidan di dalam telpon.
“ Gue sama Agha masih disekolah nih, bye the way kami sudah balik ke Malang.” Sahut Ezra.
Mendengar ucapan Ezra membuat Zidan kaget bukan kepalang. Lalu Ia juga menanyakan tentang kejadian malam tadi, Ezra menceritakan semua yang terjadi, kemudian mereka menutup telponnya.
“ Jadi benar ingatan gue malam tadi.” Ucap Zidan sembari bersiap-siap, Ia segera menuju rumah Helen.
Di cerita Ezra tadi, Ezra juga menceritakan detail alamat Helen.
Sesampainya disana tidak ada seorangpun yang membukakan pintu rumah Helen. Dengan tekat bulat Zidan menunggu di depan rumah Helen sampai Helen mau bertemu dengannya.