Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 38 : PERNYATAAN CINTA



Sementara itu di kamarnya Ezra baru terbangun dari tidurnya. “ kenapa kamu meninggalkanku, sayaang.” Suara film yang Ezra tonton.


Ezra mematikan filmnya dan melihat jam “ Apa...sekarang sudah jam 11.39 aku harus cepat-cepat ketemu sama Naca, kalau ketemunya besok nanti aku ngga dapat pelukan dari Naca.” Ucap Ezra sambil memakai jaketnya dan keluar dari kamarnya.


Sejak tadi Naca hanya berguling-guling di kasurnya sambil memikirkan Ezra “ Ini Kak Ezra kemana sih bikin khawatir saja, apa sekarang Kak Ezra masih di perjalanan menuju kesini ya..huss kamu ngga boleh berharap Caa inget!” Celatuknya sambil menampar kecil pipinya.


Sementara itu Ezra di perjalanan “ Sekarang sudah jam 11.48 apakah masih sempat..kenapa jalanan di penuhi orang konvoy menggunakan motor trail.” Batin Ezra sambil menyetir mobil, Ia merental mobil sesampainya di Jakarta.


...Ay, ay, ay...


...I'm your little butterfly...


...[ Suara dering ponsel Ezra berbunyi ]...


“ Ini siapa lagi nelpon...ngga tau apa aku sedang terburu-buru.” Ucapnya sambil meraih ponsel di saku celana kirinya.


“ Ada apa?” Tanya Ezra dalam telpon sambil membunyikan klakson mobilnya.


Terdengar suara wanita “ Hei Kak, aku hanya ingin mendengar suara Kakak..karena sejak tadi Kakak tidak membalas pesanku, aku pikir terjadi sesuatu kepada Kakak.” Sahut wanita itu, lalu Ezra melihat nama di layar ponselnya dan ya wanita itu ternyata Naca.


“ Oh aku habis ketiduran Naa..yasudah aku matikan dulu.” Ucap Ezra di telpon lalu mematikan handphonenya.


Ezra melanjutkan perjalanannya menuju hotel Naca. Sesampainya di sana waktu sudah menunjukan pukul 11.53 WIB, Ia pun bergegas menghampiri Naca.


Setelah beberapa kali menelpon Naca akhirnya di angkat juga “ Naa masih bangunkan..bisa ke lobby hotel sebentar ngga, aku sudah menunggumu disini.” Ucap Ezra.


Tanpa pikir panjang lagi Naca bergegas turun ke lobby hotel “ Apa? Iya Kak aku kesana sekarang juga.” Sahutnya.


Sehabis keluar dari liftnya Naca mencari Ezra, pandangan matanya kemana-mana untuk mencari Ezra di setiap sudut ruangan lobby.


Melihat tingkat Naca yang kebingungan sambil mencari dirinya itu, Ezra tertawa kecil “ Naa kamu sedang mencari siapa..aku ada di belakangmu.” Ujar Ezra sambil tersenyum.


Naca membalikan badannya ke arah Ezra “ Apa?”


“ Aku belum telatkan? Sekarang masih 11.56 WIB, berarti aku memenangkan tantangan ini jadu mananih pelukan buat aku.” Goda Ezra dengan tampang maskulinnya.


Wajah Naca mendadak merah merona dan terasa terbakar “ Kita ngobrol di taman luar saja Kak..disini terlalu banyak orang.” Ucapnya sambil menarik tangan Ezra, merekapun berjalan menuju taman.


Sesampainya di taman mereka duduk di ayunan dan duduk bersebelahan “ Kakak ngga bakal dapat pelukan, karena Kakak curang...pertama Kakak ngga bilang-bilang kalau sedang otw kesini..kedua Kakak tidak mungkin mendapatkan surat dispen dan yang pasti besok Kakak pasti bolos sekolah.” Ucap Naca serius.


“ Oh ya? Tapi itukan menurut kamu..terus ini apa dong kalau bukan surat dispen.” Sahut Ezra sambil mengeluarkan kertas dari saku jaketnya, kertas itu berisikan surat dispensasi Ezra.


“ Kakak curang banget ternyata, kok bisa ngurus surat dispen secepat itu..biasanyakan membutuhkan beberapa hari atau paling cepat dari pagi sampai sore.” Tanya Naca sambil cemberut karena Ia kalah.


Ezra berdiri dan berjalan ke arah Naca, sekarang tepat di depan Naca lalu membuka kedua tangannya “ Jadi mana pelukan buat aku? Bukankah aku sudah menang.” Tanyanya.


Naca hanya diam membisu di atas ayunannya.


“ Sudah jam 11.58 nih..nanti keburu kelewat jam 12, percuma dong aku kesini.” Ucap Ezra sambil berpura-pura sedih. Padahal niat awal Ia ke Jakarta hanya untuk bertemu Naca, Ia tidak menyangka kalau mereka akan bertaruhan seperti ini.


Naca berdiri dan mendekati Ezra. Merekapun berpelukan walaupun Naca masih sangat malu-malu.


“ Kamu benaran mau aku peluk Naa?” Ucap Ezra terkejud karena sekarang mereka sedang berpelukan.


“ Naa ternyata aku masih menyukaimu..bukan lebih tepatnya aku mencintaimu...aku yakin kamu mungkin masih belum bisa membuka hati lagi setelah masa lalumu dengan Dave, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia.” Ucap Ezra sambil mengelus wajah Naca, mereka sekarang saling menatap satu sama lain.


Naca mengalihkan pandangannya ke arah lain “ A—apa yang Kakak lakukan, a-apa yang Kakak maksud. Aku akan menganggap ini semua hanya bercanda dan melupakannya.” Ucap Naca sambil mengipas-ngipas dirinya menggunakan kedua tangannya.


Ezra mengalihkan pandangan Naca menuju dirinya dan mereka saling menatap “ Aku sama sekali ngga bercanda Naa..selama ini aku membohongi diriku dengan berpura-pura tidak mencintaimu, tapi sekarang aku sadar bagaimanapun keadaannya kamu selalu ada di sini.” Ezra meraih tangan Naca dan menaruhnya ke dadanya.


Sontak Naca langsung melepaskan tangannya dari dada Ezra “ Su—sudah Kak jangan di bahas lagi..aku akan kembali ke kamarku.” Ucap Naca canggung lalu berjalan ke arah hotel.


Ezra meraih tangan Naca “ Tolong luangkan waktumu sebentar saja untuk bersamaku, aku sangat merindukanmu Naa..makanya aku kesini.” Ucapnya memelas.


“ Aa—ah baiklah tapi aku hanya bisa sebentar Kak, karena besok masih ada kelas pagi.” Sahut Naca, Ia masih terngiang-ngiang ucapan Ezra tadi.


Lalu kembali duduk di ayunannya dan berusaha merilekskan hati serta pikirannya “ Apa Kakak ngga mau menceritakan kronologi kenapa Kakak bisa tiba di sini?” Tanyanya mencoba mencairkan suasana.


“ Oh iya, jadi sebenarnya ini semua atas bantuan Agha dialah yang telah membuatkan surat dispen untukku..aku hanya mengemasi barang-barang lalu pergi kesini.” Kata Ezra.


Disaat sedang asik mengobrol, Leo datang menghampiri mereka.


“ Bukankah itu Naca dengan siapa dia, bukankah itu pria.” Ucap Leo dengan kresek hitam berisikan sampah di tangan kirinya.


Leo membuang sampah tersebut dan menghampiri Naca “ Hallo Naa, sedang apa kamu?” Tanyanya tanpa menghiraukan Ezra di sebelahnya.


“ Bukankah sudah jelas Naca sedang bersamaku sekarang.” Sahut Ezra sinis dengan mengernyitkan dahinya.


“ Aw sorry, aku tidak melihatmu bro..perkenalkan aku Leo dan juga peserta disini.” Ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya.


Ezra meraih tangan Leo dan mereka berkenalan “ Gue Ezra calon pacar Naca, jadi jangan berani-berani dekatin Naca karena dia milik gue.” Ucapnya sombong.


“ Ah tidak seperti itu Kak Leo..Kak Ezra hanya bercanda saja, oh iya sedang apa Kakak disini?” Tanya Naca mengalihkan topik.


“ Padahal aku serius.” Celatuk Ezra lalu melipat kedua tangannya.


“ Aku habis membuang sampah saja, lalu melihatmu ada disini..jadi aku hampiri saja...aku pikir kau sedang bersama orang mesum, aku berniat untuk menolongmu.” Ucap Leo mengejek Ezra.


Ezra marah mendengar perkataan itu, Ia naik pitam “ Apa Loe bilang gue orang mesum, hei liat siapa orang ini beraninya berkata sembarangan.” Ucap Ezra sambil berdiri dan menarik kerah baju Leo.


Naca langsung menengahi mereka “ Stop Kak, Kak Ezra sebaiknya Kakak pulang saja..aku ingin istirahat, Kak Leo juga kembali ke kamar Kakak ya.” Pinta Naca.


Ezra melepaskan tangannya dari kerah Leo “ Baik Naa, kalau begitu selamat istirahat...aku pulang dulu daah.” Sahut Ezra lalu berjalan pergi.


Leo merangkul Naca lalu melihat ke arah belakang dan mengejek Ezra dengan menjulurkan lidahnya karena Ia sedang merangkul Naca. Ezra tambah kesal namun hanya bisa diam lalu pergi.


Naca merasa tidak nyaman lalu berjalan lebih cepat sampai akhirnya tangan Leo terlepas dari bahu Naca “ Kalau begitu aku jalan dulu Kak.” Ucap Naca lalu berlari.