Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 30 : TIDAK AKAN MENIKAH!



Lima hari telah berlalu sejak kejadian tersebut. Naca tidak pernah masuk ke Sekolah lagi karena ingin menghindari Dave.


Naca bermain ayunan di taman rumahnya “ Habis ini bakal di umumkan yang masuk seleksi ke tingkat nasional. Aku ngga tau, aku bakal kepilih apa ngga, soalnya saat ngerjain banyak yang aku kosongin gara-gara masih terngiang-ngiang kejadian itu di benakku.” Ucapnya cemberut.


“ Rasanya sekarang aku sudah tidak menyukai siapa-siapa, hampa banget rasanya tapi untungnya masih ada Kak Ezra yang selalu nemenin aku. Kak Ezra sekarang ngapain ya? Aku telpon saja deh.” Gumam Naca lalu menelpon Ezra.


Ezra mengangkat telponnya “ Ada apa Naa, sebentar aku di panggil guru pengawas.” Sahut Ezra lalu menyembunyikan hp di tangannya.


“...........”


“ Apa Kakak ada waktu luang, aku ingin mengajak Kakak keluar untuk merayakan aku yang terpilih sebagai perwakilan provinsi.” Ucap Naca, namun tidak ada balasan dari Ezra, Ia pun mematikan telponnya.


“..., Naa?” Sahut Ezra, Ia melihat handphonenya namun panggilan mereka sudah terputus.


“ Naca kenapa ya nelpon?tapi yasudahlah aku harus mengurus pekerjaan osis terlebih dahulu.” Gumam Ezra.


Pengumuman seleksi sudah di umumkan, Naca lolos seleksi selanjutnya mewakili provinsinya. Dari sekolanya terplilih 4 orang yaitu 3 dari kelas 11 dan 1 dari kelas 10 yaitu Naca.


“ Aku pengen merayakannya tapi sama siapa ya. Kak Ezra di ajak malah ngga nyahut, apa aku coba telpon lagi tapi sepertinya dia sibuk. Bosen juga di rumah terus.” Celetuk Naca sambil beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengganti bajunya dan turun ke ruang keluarga.


Di sana sudah ada Oma yang duduk santai menikmati tehnya.


Mendengar ada yang sedang menuruni tangga, Tini menoleh kearah tangga “ Cucu Oma sudah bangun toh, gimana sayang ada yang ingin kamu lakukan atau kamu sudah siap pergi ke sekolah lagi?” Ujar Oma Tini.


Tini sudah mengetahui tentang kejadian Dave yang berselingkuh dari cucunya, namun Ia tidak ingin ambil pusing dan terus mensupport apapun yang Naca inginkan.


“ Tidak Oma, aku hanya bosan menonton film di kamar, oh iya Oma aku terpilih seleksi nasional loh. Aku lumayan seneng sih tapi bingung mau ngerayainnya gimana dan sama siapa.” Ucap Naca cemberut sambil duduk di sofa samping Neneknya.


Melihat cucunya yang terus saja cemberut, Oma berinisiatif “ Gimana kalau kita rayainnya dengan makan malam bersama Orang tuamu, aku akan menyuruh mereka untuk meluangkan waktunya untukmu sehari ini saja. Akan tetapi kita harus berangkat sekarang ke Bali, bagaimana apakah kamu setuju?” Tanya Oma.


Naca tetap saja cemberut “ Tidak aku sedang malas berpergian jauh, lagipula hari minggu ini aku akan pergi ke Jakarta, untuk melakukan pembinaan intensif lagi.” Ucap Naca lalu bersandar ke sofa dan mulai merosotkan tubuhnya.


Oma pindah sofa lalu duduk di samping Naca dan merangkulnya “ Sudah sayang, apa yang kamu inginkan akan Oma belikan. Jangan cemberut terus dong. Apakah kamu lupa sayang sebentar lagi kamu akan berumur 19 ya walaupun masih 2 taun lagi, tahun ini kamukan sweet seventeen." Ucap Tini dengan tersenyum.


“ Aku benar-benar tidak menginginkan apapun, rasanya seperti tidak memiliki semangat sama sekali... oh baiklah aku sudah tau apa yang aku inginkan, selama ini Oma selalu mengiming- ngimingi akan memberitahukan sesuatu pada saat aku berumur 19 taun, bagaimana kalau Oma beritahukan saat aku sweet seventeen nanti.” Ucap Naca mulai bersemangat lagi namun sehabis itu meringkuk lagi.


“ Baiklah apapun yang kamu inginkan tapi kamu tidak boleh menyesal ya! Bii, Bibi tolong bawakan milkshake dan beberapa cemilan kesukaan Naca ya.” Teriak Tini dari kejauhan.


“ Menyesal? Memangnya sesuatu itu apaan sih? Apa aku kelak akan menyesal mengetahui hal itu lebih cepat, apa sebenarnya aku anak pungut?” Gumam Naca.


Tidak lama kemudian Bii Aish datang dengan beberapa makanan dan minuman di tangannya “ Ini Non silahkan dimakan, semangat Nona Muda.” Ucap Bibi Aish.


Dy-na-na-na, na-na, na-na, ayy


Dy-na-na-na, na-na, na-na, ayy


Dy-na-na-na, na-na, na-na, ayy


Light it up like dynamite


Hp Naca berbunyi dari kamar atas, namun karena Ia sedang berada di bawah, Ia tidak mendengar nada dering tersebut.


Pertanyaan itu membuat Oma Tini sontak terkejut “ Hah...kenapa kamu ngomong begitu sayang, bukankah kamu harus bahagia dengan keluarga impianmu.” Sahut Oma.


“ Apabila aku lebih bahagia sendirian, apakah itu cukup menjadi alasan aku tidak akan menikah?” Tanya Naca lagi sambil bersandar di bahu Omanya, sesekali mengambil cemilan yang ada di hadapannya.


Oma mengelus pundak Naca “ Sudah sayang jangan kita bahas lagi, Oma yakin kamu akan menemukan pria impianmu kelak dan akan hidup bahagia. Jadi sebisa mungkin kamu jangan berpikiran tidak ingin menikah.” Ucap Oma.


Oma pindah posisi dari awalnya duduk disamping Naca dan menjadi tempat bersandar, sekarang Ia berlutut di hadapan cucunya itu “ Kamu tau dahulu Oma juga berpikiran sepertimu tidak ingin menikah, rasanya Oma bisa bahagia walaupun sendirian tetapi saat bertemu Oppa mu semua berubah, kamipun menikah. Namun karena Tuhan lebih menyayangi Oppa akhirnya Ia di ambil oleh Tuhan lebih cepat dari Oma.” Ujar Oma bercerita sambil menggenggam tangan cucunya dan mengelusnya.


Naca yang mendengarkan cerita Omanya itu langsung berdiri “ Oke Oma, aku tidak akan berpikiran tidak ingin menikah lagi, namun kalau sampai besarpun aku tidak ingin menikah Oma jangan memaksaku ya. Kalau begitu aku ke atas dulu ya Oma.” Ucap Naca lalu berlari ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Naca mengambil hpnya lalu melihat notifikasi handphonenya “ Loh untuk apa Kak Ezra menelpon.” Gumamnya sembari membuka hpnya.


Naca menelpon balik, mereka mengobrol banyak hal salah satunya Ezra mengajak Naca untuk menemaninya ke suatu tempat.


“ Oh My God, aku belum apa-apa mandi juga belum.” Celetuk Naca lalu Ia bergegas untuk memilih-milih baju.


“ Ini jelek banget.”


“ Ini keliatan kurus banget.”


“ Ini kelihatan terlalu berisi.”


Naca membongkar semua isi lemarinya untuk memilih pakaian “ Aargh kenapa sesusah ini mencari pakaian dan juga kenapa aku harus ribet gini, padahal kan ini hanya pertemuan biasa dan bukan ngedate.” Batin Naca, karena Ia merasa frustasi akhirnya Ia lebih memilih untuk kembali tiduran di kasur, sambil sesekali melihat lemari pakaiannya yang masih terbuka lebar.


Naca membunyikan bel di samping kamarnya, tidak berapa lama kemudian datanglah Bibi Aish “ Ada apa Non, astagfirullah Non ini kenapa pada berantakan semua baju-bajunya di lantai?” Ucap Bii Aish.


Dengan muka yang masih sama kesalnya dan nada jutek “ Gatau aku bingung banget milih baju, kenapa bajuku jelek semua huuuh...kesel banget jadinya. Bii tolong pilihin baju yang bagus buat aku deh, gatau terserah apa aja yang penting cocok di aku..” Ucap Naca dengan alis yang hampir menyatu.


“ Non mau kemana toh..Bibi pilihin yang sesuai sama tempatnya saja ya.” Sahut Bii Aish dengan nada lembut.


Naca beranjak dari kasurnya sekarang Ia dan Bii Aish berhadapan “ Nah itu dia, aku juga ngga tau. Jadi Bibi pilihin baju yang sesuai buat kemana aja tapi juga ngga berlebihan dan tetap terlihat cantik.” Ucapnya lalu menghembuskan nafas dalam.


Setelah perdebatan panjang antara Aish dan Naca. Akhirnya mereka sepakat, Naca menggunakan outfit semi casual yaitu kulot hitam dipadukan dengan blouse warna dusty biru dan leather jacket serta boots hitam.


“ Cantik banget Non, ngga nyangka bakal sebagus ini saat Non pakai.” Ucap Aish memuji dengan tersenyum lebar.


Naca sangat senang melihat dirinya dari kaca “ Aku juga ngga nyangkan bisa bagus begini Bii, yasudah makasih Bii, Bibi boleh lanjut mengerjakan tugas Bibi di bawah kok.” Sahutnya.


Sekarang sudah jam 3 sore, Ezrapun sudah datang menjemput.


Ezra terbelalak melihat Naca yang tumben sekali berdandan seperti ini namun Ia tetap berlaga santai “ Sudah semua Naa?” Tanyanya kepada Naca yang baru saja memasuki mobil.


“ Sudah Kak, kita bisa langsung berangkat saja.” Sahut Naca.


Selama di perjalanan mereka betah berdiam-diaman tanpa obrolan apapun “ Ini kenapa Kak Ezra diam saja sih, padahal aku sudah dandan habis-habisan begini rambutku juga habis aku catok.” Gumam Naca sambil menyilangkan tangannya.


“ Haduh dari tadi kami diam-diaman saja, enaknya ngomong apa ya? Tapi kayanya Naca lagi bete begitu, kalau aku ajak ngobrol dianya malah tambah betekan repot, sudahlah aku diam saja sepertinya lebih baik.” Celetuk Ezra dalam hati sambil terus menyetir.