
“ Gimana cara gue masuk ke sekolah, sedangkan gerbangnya sudah di tutup dari tadi, apa boleh buat.” Gumam Ezra di depan sekolah.
Ezra membuka hpnya lalu menelpon Agha.
“ Woy gue ada di depan, gue males banget kalau harus kena tata tertib (tatib), loe minta bantuan siapa gitu kek gue mau manjat tembok belakang sekolah saja.” Ucap Ezra sembari berjalan ke belakang sekolah.
“ Oke oke gue segera kesana sama Zidan.” Sahut Agha lalu mematikan telponnnya.
Zidan dan Agha langsung bergegas menuju gudang sekolah untuk mengambi anak tangga secara sembunyi-sembunyi.
Di perjalanan menuju gudang.
“ Kalian berdua kenapa keluar kelas di saat jam pelajaran begini, bukankah kalian beda kelas yang satu kelas XII yang satu lagi kelas XI. Kenapa kalian bisa berjalan bersama” Tanya guru pengawas yang sedang berkeliling.
Agha langsung sigap menjawab tanpa ragu-ragu “ Selamat pagi Bu, kami berdua merupakan anak osis dan sedang menjalankan tugas. Tenang saja Bu kami tidak berniat melakukan hal aneh-aneh.” Sahutnya.
Guru itu langsung diam dan mempersilahkan mereka untuk melanjutkan tugasnya lalu pergi.
“ Untuk public speaking gue emang bagus kalau ngga sudah habis kita sama guru pengawas yang terkenal galak itu.” Ucap Agha membanggakan diri.
Zidan memalingkan wajahnya dan tidak menghiraukan omongan Agha.
“ Cepat kita harus ngambil tangga.” Ucap Zidan sambil terus berjalan.
“ Bentar dong tungguin gue.” Sahut Agha sambil berjalan cepat mengikuti Zidan dari belakang.
Setelah mendapatkan tangga dari gudang, mereka membawa tangga itu ke Ezra secara sembunyi- sembunyi melewati jalan yang jarang di lewati murid dan guru-guru.
“ Zra loe di belakang sana bukan, bisa ngga loe manjat” Teriak Agha.
“ Kami berdua cuman bisa bantuin loe turun saja lo Zra.” Timpal Zidan.
“ Oke-oke bentar gue manjat.” Sahut Zidan sembari mencari memanjat pohon di dekat tembok itu, lalu melompat dan menuruni anak tangga.
Ezra menghembuskan nafas cepat “ Hoss hos akhirnya gue bisa masuk juga. Kalian berdua lama banget, capek gue nunggu diluar, mana manjat pohon yang banyak semutnya lagi.” Ucapnya sambil mengebasi pakaiannya.
Zidan melipat lengannya “ Loe pikir kami ngga capek bawa tangga itu dari gudang yang ada di ujung kulon itu? Tadi juga ketemu guru pengawas.” Ucap Zidan menyentak.
“ Sudah sekarangkan Ezra sudah ada disini, jadi loe yang bawa tangganya ya Zra. Semangat.” Ujar Agha dengan mengepalkan tangannya ke atas kepala.
Mereka berdua meninggalkan Ezra.
“ Hah serius gue bawa sendiri?” Teriak Ezra.
Dengan terpaksa Ezra membawa tangga tersebut ke gudang sedirian.
Ay ay ay
I’m your little butterfly
( Dering ponsel Ezra berbunyi )
“ Siapa yang nelpon gue, di saat gue sibuk ngangkat ini tangga berat ini.” Gumam Ezra dengan mengernyitkan dahi.
Ia mengangkat telponnya “ Siapa ini, gue masih sibuk nanti dulu.” Ucapnya ketus.
“ A-aku Naca Kak, mmm-maaf mengganggu aku cuman mau nanya... kabar Kakak saja, kalau itu ternyata mengganggu tidak jadi Kak.” Ucap Naca tersentak dengan ucapan Ezra yang kasar itu.
Ezra langsung melihat layar ponselnya “ Astaga ternyata Naca yang nelpon gue, mana gue kasar banget ngomongnya.” Gumam Ezra.
“ Oh ngga apa-apa Naa, maaf tadi ngomongnya kasar soalnya ini aku lagi terburu-buru ngembaliin tangga ke gudang sebelum ada yang melihatku.” Ucap Ezra dengan lemah lembut.
“ Loh ini Kakak di Sekolah, kok masih sempat masuk Sekolah bukannya sudah terlambat seharusnya.” Ucap Naca.
“ Hehe gue manjat tembok belakang makanya bisa masuk.” Sahut Ezra.
Naca langsung excited “ Kak apa aku boleh minta tolong, aku juga pengen ke sekolah tapi males ikut pelajaran sih. Apa Kakak mau membantuku masuk kedalam sekolah?” Pinta Naca.
Mendengar permintaan Naca itu, Ezra langsung memutar balik dan kembali ke gerbang belakang “ Oke Naa gue tunggu di gerbang belakang ya, tapi loe harus manjat dari luar sampai ke tembok atas, baru nanti turunnya pakai tangga. Kalau loe gabisa nanti gue samperin loe di luar biar gue bantu loe manjat.” Ucap Ezra penuh perhatian.
“ Oke Kak habis ini aku berangkat, aku siap-siap sebentar ya. Sampai ketemu nanti di Sekolah.” Sahut Naca lalu mematikan telponnya.
Setengah jam kemudian.
“ Kamu masih bisa jalan?” Ucap Ezra sambil memperhatikan kaki Naca yang terkilir dengan sedikit mengeluarkan darah.
Ezra merangkul pundak Naca “ Aku tadi kan sudah bilang kalau kamu ngga bisa manjat, biar aku keluar dan bantu kamu memanjat kamunya ngeyel kalau bisa sendiri. Aku pikir kamu beneran bisa Naa.” Ucap Ezra sambil memapah Naca.
“ Maaf Kak, awalnya tadikan aku sudah manjat sampai setengah, terus gara-gara disana banyak semut aku malah kehilangan keseimbangan, semutnya juga sih pakai acara menggit segala.” Sahut Naca menjelaskan.
Flashback 5 menit sebelumnya. Naca dan Ezra telponan supaya tidak perlu untuk berteriak saat berbicara.
“ Kak ini aku sudah mulai manjat kok.... banyak banget semutnya huhu.” Ucap Naca sambil terus memanjat sampai atas.
Di tengah perjalanannya Ia terpeleset karena menghindari kerumunan semut yang sedang bergerombol di hadapannya.
Setelah terjatuh Naca kembali bangkit dan terus memanjat hingga sampailah Ia di tembok paling atas. Lalu menuruni anak tangga.
Ezra memperhatikan Naca yang menuruni tangga tersebut “ Naa kakimu berdarah itu.”
“ Oh iya hehe, aku ngga sadar soalnya tadi cuman mikirin gimana caranya aku sampai kesini.” Sahut Naca dengan ternyum lepas.
☆☆☆
Di UKS.
Ezra membersihkan luka di pergelangan kaki Naca.
“ Kak aku kan sudah bilang, aku tidak apa-apa.” Ujar Naca meyakinkan.
Ezra terus saja membersihkan lukanya dan memberikannya kassa “ Ngga apa-apa apanya, kalau sudah berdarah kaya gini jangan dibiarin saja.” Ucapnya.
“ Kak lukaku itu cuman tergores dikit, tapi Kakak memberikanku kassa, bukankah terlalu berlebihan.” Ucap Naca merengek.
☆☆☆
Naca dan Ezra berjalan keluar dari UKS.
“ Kamu mau masuk kelas atau gimana.” Tanya Ezra terus memapah.
“ Aku ke Sekolah cuman pengen tiduran di taman sama ke kantin saja sih Kak, oh iya kayanya Kakak ngga perlu memapah aku lagi deh, lagian serius deh aku benar-benar ngga kenapa napa.” Sahut Naca.
Ezra tetap bebal dan memapah Naca sampai ke kantin. Lalu pergi ke taman.
“ Makasih Kak sudah mengantarkanku sampai sini, Apa Kakak tidak kembali ke kelas?” Ujar Naca.
Ezra merebahkan dirinya di gazebo taman dan memejamkan matanya “ Aku tidak akan kembali ke kelas dan akan terus disini.” Sahutnya.
Naca yang awalnya melihat-lihat pemandangan taman langsung menghadap ke Ezra “ Hah kenapa? Percuma dong Kakak manjat tembok tapi ngga masuk kelas.” Ucapnya.
Membuka matanya “ Tidak ada yang percuma.” Ucap Ezra sambil menatap Naca dengan tersenyum manis.
'
“ Kok bisa?” Tanya Naca lagi.
“ Tidak ada yang percuma Naa, apabila aku bisa bersamamu seperti ini.” Gumam Ezra lalu kembali memejamkan matanya.
Mendengar ucapan Ezra yang tidak terdengar jelas itu, Naca ingin bertanya kembali namun melihat Ezra yang sudah memejamkan matanya. Ia tidak berani untuk bertanya lagi.
☆☆☆
Di gerbang belakang.
“ Punya temen nyuruh-nyuruh terus, mentang-mentang sekarang lagi ketemu gebetannya malah kita yang harus ngembaliin tangga ini lagi.” Celetuk Agha mengomel.
“ Namanya juga temen Gha, kalau ngga nyusahin ya bukan Ezra.” Ucapnya.