Ghost Destiny

Ghost Destiny
Delapan



"Kau sedang apa?" tegur Hye Jin yang kemudian berdiri di samping Yona.


Lamunan Kim Yona langsung buyar. Ia segera menoleh, dan tersenyum lembut. "Aku sedang mencoba mengira-ngira bagaimana kabarnya saat ini, " ungkapnya lirih.


Hye Jin mengerutkan keningnya. "Siapa? tunanganmu?"


"Ya. Sepertinya aku mulai merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya, tapi...."


"Tapi kenapa?" Hye Jin menatap mata Kim Yona di dalamnya terlihat jelas sebuah kerinduan dan kesedihan yang teramat dalam.


"Aku tidak bisa. Jika aku menemuinya maka aku akan menyesal ayas kematianku. Aku tidak ingin tersiksa oleh perasaan itu. Aku ingin mati dengan tenang," tukas Yona. Matanya kembali menatap pemandangan di bawah. Sorot matanya kosong.


Tiba-tiba ponselnya Hye Jin berdering. Pria itu segera merogoh saku jaketnya. Di layar ponselnya tertera nama Ji Eun, ia pun segera menempelkan ponselnya ke telinga.


"Hallo, ada apa Ji Eun?" sapanya langsung.


Tidak ada jawaban yang terdengar hanya musik disco dari seberang. Hye Jin mengerutkan keningnya. "Ji Eun, ada apa? kau mabuk atau menangis?" panggip Hye Jin.


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Hye Jin, aku sudah berusaha menahan amarah ini ketika aku melihatnya bersama laki-laki lain dan menghamburkan uangku. Tapi... aku tidak bisa, aku... ingin mati saja."


Wajah Hye Jin berubah tegang. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bioang seperti itu?" tanya Hye Jin cemas. Tidak ada jawaban.



Hye Jin langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Restorant tenpatnya bertemu Klient, dia baru saja mendapat kabar kalau Ji Eun pingsan di sana. Ji Eun melihat tunangannya datang ke restoran bersama seorang laki-laki, dan itu membuatnya shock.


"Mana Ji Eun?" tanya Hye jin dengan nada dingin dan datar ketika memasuki restoran tersebut.


"Dia ada di ruang kamar VIP, tuan" jawab salah satu karyawan laki-laki. Hye Jin langsung melesat ke ruang kamar VIP. Tampak Ji Eun yang tengah tertidur di kasur, ditemani pengawal Perusahaan. Ia melangkah pelan mendekati tubuh Ji Eun, dan melihat kondisi tubuh sahabatnya tersebut. Ia tahu pasti apa yang dirasakan Ji Eun karrna ia juga pernah mengalami hal yang sama.


Tidak lama Ji Eun membuka matanya, Pria itu menatap Hye Jin dengan mata kosong dan langsung memegang selimut dengan kuat. "Kenapa.. kenapa ia menghianatiku? apa selama ini aku hanya alat penghasil uang? apa aku bukan Pria yang baik di matanya?" ucap Ji Eun dengan suara yang parau.


Hye Jin duduk di sebelah Ji Eun, dan berkata lirih, "Jangan berkata seperti itu, kau sangatlah berarti, dan kau jauh lebih baik dibanding gadis mana pun. Perempuan jalang itu saja yang tidak mengetahuinya, dia... pasti akan menyesal telah mencampakkanmu."


Ji Eun menatap mata Hye Jin lekat-lekat. "Tapi... aku tak sanggup hidup tanpanya, aku terlalu mencintaimya, Hye Jin. Aku... tidak bisa melupakannya."


Hye Jin kembali menenangkan Ji Eun, dan berbisik Lirih sekali lagi di telinga Pria itu, "Aku tahu... aku merasakannya, tapi kau tidak boleh putus asa, tunjukan kalau kau adalah Pria idaman semua perempuan dan pria yang kuat agar dia tidak menginjak-nginjakmu lagi.Aku yanv kau pasti bisa, Ji Eun!"


•Jangan Lupa like and Comment


•Jangan Lupa tekan tanda Favorit