Ghost Destiny

Ghost Destiny
Dua Puluh Tiga



**Di setiap impian pasti ada perjuangan


Di dalam kebahagian pasti ada kesedihan, di sinilah ku berada


Berada untuk membuatmu berada**


Sepertinya besok adalah harinya, lirih Kim Yona sambil memandangi langit-langit. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak mamu menahan semua kenangan yang masih dia ingat dan rasakan saat bersama Hye Jin.


“Hye Jin. . . kenapa kamu ada disini bukannya kamu harus istirahat” tanya Kim Yona sambil meyeka air matanya.


“Kenap kamu menangis?” tanya Hye Jin kepada Kim Yona yang membuat Yin hanya tersenyum tipis ke arah Hye Jin.


“Rahasia” bisik Yona.


“baiklah bagaimana? Apakah kamu bertemu dengan takdirmu? Siapa yang akan kamu jemput?” tanya Hye Jin.


“Iya sudah bertemu, tapi hanya aku dan yang diatas saja yang tau” ucap Kim Yona berbohong dia tidak bisa mengatakan kejujuran dimana besok perusahaan yang Hye Jin bangun sungguh-sungguh akan berulang tahun. Tidak mungkinkan dia membuat pesata kebahagian jadi pesata kematian.


“Baiklah bila kamu tidak ingin mengatakannya, tapi besok kamu harus datang ke acara itu, karena bila aku tidak melihatku aku akan membencimu” ucap Hye Jin sambil cemberut yang membuat Kim Yona hanya terkekeh melihat sikap kekanakan Hye Jin.


“Ia aku datang” ujarku yang lagi-lagi berbohong. Alu akan pergi saat Hye Jin mungkin sedang melaksanak pidatonya di waktu yang sama saat aku memegang tangan Hye Jin untuk terakhir kalinya sebagai manusia. Aku tidak bisa mengatakan sebenarnya, Hye Pasti akan sangat kecewa kepadanya.


Matahari bersinarbdengan sangat cerah. Burung-burung mulai mengekuarkan suara merdunya membuatnya seseorang yang sedang berkaca di cerminnya sambil memandang wajahnya dan mengatakan “Hmm. . . lumayan”.


“Kak ayo!” ajak Hye Na dengan gaun gradasi warna hitam dan birunya.


Hye Jin dengan gagahnha memasuki aula gedung yang sudah dipenuhi oleh tamu-tamu ternama, pegawai kantor dan teman-teman dekatnya.


“Kenapa Kim Yona belum datang? Bukankah dia sudah janji akan melihatku saat berpidato? Apa dia berbohong!” guman Hye Jin kesal. Kemudian Bye Jin menginvat sesuatu.


“Tunggu. Kenapa Kim Yona bilang ia akan pergi besok? Bukankah menurut perhitungan berdasarkan tanggal kematiannya, ia akan pergi hari ini? Tidak. Tidak mungkin Kim Yona berbohong. Untuk apa ia berbohong padaku?” Hye Jin mengacak rambutnya dan langsung pergi ke luar aula. Hyr Jin berjalan ke arah Ji Eun dan meminta untuk menangani acaranya sementara karena ada urusan mendadak.


Hye Jin menancapkan gas mobilnya, membelah jalan raya yang sedang tidak macetnya. “Kenapa kau berbohong, Kim Yona?” lirih Hye Jin di dalam mobil. Di tempat lain, Kim Yona tengah duduk di ayunan rumah Hyr Jin. Tatapannya tertuju pada langit-langit yang ada di atasnya. Hembusan angin menerpa kulit pucatnya lembut gemulai. Wajah Hye Jin kembali teringat di benaknya.


Maafkan aku Hye Jin, aku sayang kamu Jin! Gumam Kim Yona dalam hati.


“Kau yakin akan melakukannya? Kau tidak akan menjenput Kim Hye Jin?” tegur seseorang dari belakang Kim Yona. Kim Yona menoleh, ternyata kakek.


“Ya, aku akan melalukanya,kek” sahut Kim Yona tenang sambil tersenyum manis ke arah kakek.


“Tapi kau akan hancur, kau tifak akan bisa berenkernasi lagi. Dan lagibpula, kau hanua menunda kematian laki-laki iyu, buka menghapusnya dari daftar kematian. Apa kau tidak menyesal?” kakek menatap tajam pada Kim Yona.


Kim Yona menggeleng dan berkata dengan mantap,”aku tidak akan menysal justru jika aku membawanya bersamaku, aku akan menyesal meskipis hanya menunda kematiannya tiga tahum, setidaknya ia bisa lebih lama mencari kebahagiaanya dan menemukan cinta sejatinya. Bagiku itu Jauh lebih berarti daripada seumur hidupku menyesal dan juga aku tidak ingin dia merasakan drama hidup seperti diriku, biarkanlah aku yang menanggung ini kek” jawab Yona sambil tersenyum manis ke arah kakek..


Terlihat dari sorot mata perempuan itu sorot kesedihan, ketenangan yang dalam untuk laki-laki yang seharusnya dijemput pergi.


Kakek menghela napasnya dan menepuk lembut kepala gadis itu “Kau memang gadis yang baik. Aku salut padamu, baiklah Jika itu memang pilihanmu. Aku tidak bisa mencegahmu lagi. Aku pergi! Maaf tidak bisa menemanimu sampai waktumu tiba!” ucap kakek.


“Tidak apa-apa Terima kasih, kek!” ucap Kim Yona lalu membukkukan badanya memberi hormat kakek lalu tersenyum setulusnya dan kemudian kakek menghilang.


Dasar Anak bodoh! Aku baru menemukan hantu yang begitu keras kepalanya yang memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Hahh, sayang sekali! Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu, nak. Gumam kakek dalam hati


Sepertinya besok adalah harinya, lirih Kim Yona sambil memandangi langit-langit. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak mamu menahan semua kenangan yang masih dia ingat dan rasakan saat bersama Hye Jin.


“Hye Jin. . . kenapa kamu ada disini bukannya kamu harus istirahat” tanya Kim Yona sambil meyeka air matanya.


“Kenap kamu menangis?” tanya Hye Jin kepada Kim Yona yang membuat Yin hanya tersenyum tipis ke arah Hye Jin.


“Rahasia” bisik Yona.


“baiklah bagaimana? Apakah kamu bertemu dengan takdirmu? Siapa yang akan kamu jemput?” tanya Hye Jin.


“Iya sudah bertemu, tapi hanya aku dan yang diatas saja yang tau” ucap Kim Yona berbohong dia tidak bisa mengatakan kejujuran dimana besok perusahaan yang Hye Jin bangun sungguh-sungguh akan berulang tahun. Tidak mungkinkan dia membuat pesata kebahagian jadi pesata kematian.


“Baiklah bila kamu tidak ingin mengatakannya, tapi besok kamu harus datang ke acara itu, karena bila aku tidak melihatku aku akan membencimu” ucap Hye Jin sambil cemberut yang membuat Kim Yona hanya terkekeh melihat sikap kekanakan Hye Jin.


“Ia aku datang” ujarku yang lagi-lagi berbohong. Alu akan pergi saat Hye Jin mungkin sedang melaksanak pidatonya di waktu yang sama saat aku memegang tangan Hye Jin untuk terakhir kalinya sebagai manusia. Aku tidak bisa mengatakan sebenarnya, Hye Pasti akan sangat kecewa kepadanya.


Matahari bersinarbdengan sangat cerah. Burung-burung mulai mengekuarkan suara merdunya membuatnya seseorang yang sedang berkaca di cerminnya sambil memandang wajahnya dan mengatakan “Hmm. . . lumayan”.


“Kak ayo!” ajak Hye Na dengan gaun gradasi warna hitam dan birunya.


Hye Jin dengan gagahnya memasuki aula gedung yang sudah dipenuhi oleh tamu-tamu ternama, pegawai kantor dan teman-teman dekatnya.


“Kenapa Kim Yona belum datang? Bukankah dia sudah janji akan melihatku saat berpidato? Apa dia berbohong!” guman Hye Jin kesal. Kemudia Bye Jin menginvat sesuatu.


“Tunggu. Kenapa Kim Yona bilang ia akan pergi besok? Bukankah menurut perhitungan berdasarkan tanggal kematiannya, ia akan pergi hari ii? Tidak. Tidak mungkin Kim Yona berbohong. Untuk apa ia berbohong padaku?” Hye Jin mengacak rambutnya dan langsung pergi ke luar aula. Hyr Jin berjalan ke arah Ji Eun dan meminta untuk menangani acaranya sementara karena ada urusan mendadak.



Hye Jin menancapkan gas mobilnya, membelah jalan raya yang sedang tidak macetnya. “Kenapa kau berbohong, Kim Yona?” lirih Hye Jin di dalam mobil. Di tempat lain, Kim Yona tengah duduk di ayunan rumah Hye Jin. Tatapannya tertuju pada langit-langit yang ada di atasnya. Hembusan angin menerpa kulit pucatnya lembut gemulai. Wajah Hye Jin kembali teringat di benaknya.


Maafkan aku Hye Jin, aku sayang kamu Jin! Gumam Kim Yona dalam hati.


“Kau yakin akan melakukannya? Kau tidak akan menjenput Kim Hye Jin?” tegur seseorang dari belakang Kim Yona. Kim Yona menoleh, ternyata kakek.


“Ya, aku akan melalukanya,kek” sahut Kim Yona tenang sambil tersenyum manis ke arah kakek.


“Tapi kau akan hancur, kau tifak akan bisa berenkernasi lagi. Dan lagibpula, kau hanua menunda kematian laki-laki iyu, buka menghapusnya dari daftar kematian. Apa kau tidak menyesal?” kakek menatap tajam pada Kim Yona.


Kim Yona menggeleng dan berkata dengan mantap,”aku tidak akan menysal justru jika aku membawanya bersamaku, aku akan menyesal meskipis hanya menunda kematiannya tiga tahum, setidaknya ia bisa lebih lama mencari kebahagiaanya dan menemukan cinta sejatinya. Bagiku itu Jauh lebih berarti daripada seumur hidupku menyesal dan juga aku tidak ingin dia merasakan drama hidup seperti diriku, biarkanlah aku yang menanggung ini kek” jawab Yona sambil tersenyum manis ke arah kakek..


Terlihat dari sorot mata perempuan itu sorot kesedihan, ketenangan yang dalam untuk laki-laki yang seharusnya dijemput pergi.


Kakek menghela napasnya dan menepuk lembut kepala gadis itu “Kau memang gadis yang baik. Aku salut padamu, baiklah Jika itu memang pilihanmu. Aku tidak bisa mencegahmu lagi. Aku pergi! Maaf tidak bisa menemanimu sampai waktumu tiba!” ucap kakek.


“Tidak apa-apa Terima kasih, kek!” ucap Kim Yona lalu membukkukan badanya memberi hormat kakek lalu tersenyum setulusnya dan kemudian kakek menghilang.


Dasar Anak bodoh! Aku baru menemukan hantu yang begitu keras kepalanya yang memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Hahh, sayang sekali! Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu, nak. Gumam kakek dalam hati