Ghost Destiny

Ghost Destiny
Sepuluh



"Kau kenapa, Yona? Sejak semalam kau terlihat murung?" tegur Hye Jin ketika mendapati Kim Yona berdii di halaman rumahnya, perempuan itu bersandar ke pagar pembatas, menatap lurus ke depan. Rambutnya di gerai lurus tanpa ada ikatan satupun di ranbutnya yang membuat angin sejuk melambaikan rambutnya.


"Tadi sore aku melihatnya," ujar Kim Yona, padangannya masih lurus ke depan dan membuat matanya terlihat seperti menatap kesedihan.


"Melihat Siapa? Calon suamimu?"


Kim Yona menganguk sambil menunduk.


"Di mana?" Tanya Hye Jin lagi.


"Di seberang tempat kita berada semalam, ketika kita berjalan-jalan di dekat pembatas Jembatan."


"Jadi... kau menghentikan langkahmu dan wajahmu pucat... karena kah melihatnya. Kenapa kau tidak menghampirinya?"


"Sudah kubilang aku tidak bisa. Aku tidak ingin menjadi pesakitan yang terus gentayangan karena cinta. Tugasku sekarang adalah menemukan orang yang akan kujemput untuk pergi bersamaku ke akhirat, jadi aku tidaj perlu lagi gentayangan seperti ini. Aku sudah lelah. Waktuku hanya tinggal satu bulan," jawab Kim Yona panjang lebar.


Alis Hye Jin terangkat. "Orang yang akan kau jemput? Maksudnya apa? Dan siapa orang itu?" tanya Hye Jin. Kim Yina menghela napas dan akhirnya menceritakan pada Hye Jin tengang pertemuannya dengan laki-laki tua dan apa yang dikatakanyanya.



"Begitulah Ceritanya," kata Kim Yona mengakhiri ceritanya. "Namun, masalahnya sampai saat ini aku belum tahu siapa orang itu. Sementara, waktuku semakin lama semakin berkurang. Huft." Kim Yona mendesah berat.


"Lumayan mengerikan ya," desis Hye Jin santai. "Jika aku jadi dirimu, mungkin aku akan menyerah. Aku tipe orang yang mudah khawatir walau aku tidak memiliki Ekspresi. Meski kadang aku harus membohingi diriku dan orang-orang yang kusayangi, berpura - pura tegar memang adalah sifat laki - laki tapi tidak adakan namanya manusia sempurna. Karena itu aku selalu merasa sulit bernafas," ungkapnya Datar


Apakah aku sebegitu berartinya untuk Yina? Tapi kenapa bagi orang yang ku cintai justru aku tidak berarti? Hye Jin membatin.


"Ehem, soal mantanmu, apa kau tidak ingin menghampirinya dan melihat bagaimana keadaanya? Aku rasa, dia juga pasti sangat merindukanmh." Hye Jin tiba-tiba berujar. Ia menatap tajam pada manik mata Kim Yona.


Kim Yona tersenyum lembut, dan berkata, "Meskipun aku merindukannya dan dia merindukankh, tapi dia tidak akan pernah bisa melihatku. Dan aku tidak ingin bersedih karena hal itu."


Hye Jin mangut-mangut, kata-kata Kim Yona ia mengerti. Bukan hanya kata-katanya, tapi ia juga mengerti perasaan Perempuan itu. Ia bisa merasakan dengan jelas kesedihan yang bergejolak di hati Kim Yona.


Suasana Kemudian menjadi Hening. Kedua insan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kim Yona tengah memikirkan tentang calon suaminya itu, tapi ia juga sedang berusaha mengingat peristiwa kecelakaannya dan kejadian sebelum itu. Entah kenapa memori tentang semua itu hilang sejak ia menjadi hantu. Namun sepertinya ada sekelabatan ingatan yang satu persatu mulai muncul, meski belum begitu jelas.


"Oya, soal temanmu itu... maksudku Ji Eun, sepertinya... aku pernah melihatnya. Tapi, aku lupa di mana dan kapan. Saat itu aku melihatnya menangis dan ada seorang laki-laki yang mengengam erat tanganga, tapi aku tidak begitu ingat wajahnya," tutur Yona setelag beberapa menit terdiam.


Hye Jin memicingkan matanya. "Hmm... aneh, masa sih kau bisa lupa? Coba kau ingat - ingat lagi."


"Aku sydah mencobanya, tapi tidak ada titik terang, dan malah membuat kepalaku sakit," keluh Kim Yona seraya meringis memegangi kepalanya.


"Hmm... kau ini benar - benar hantu yang misterius," Hye Jin tersenyum seraya mengelus kepala Kim Yona. Yona hanya tertawa kecil.


•Jangan Lupa Like and Commentnya


•Jangan lupa tekan tanda Favoritnya