
Yona menggaruk-garuk kepalanya, lalu bergumam pelan tapi aku aku masih bisa mendengarnya, "Sepertinya aku pernah bertemu denganmu sebelumnya.Tapi dimana, ya?"
"Apa?!" seruku sedikit terkejut.
Kim Yona menggeleng kepalanya. "Ah,sepertinya tidak. Tidak mungkin aku pernah bertemy denganmu. Mungkin hanya perasaaanku saja," gumamnya lagi berbicara sendiri. Aku semakin merasa aneh dengan tingkahnya yang mmbuat diriku hanya menghela nafas pelan.
"Emm. . . apa kau masih belum mau menerimaku sebagai temanmu, Park Hye Jin?" Kim Yona menatapk lagi. Kali ini lebih serius. Aku memalingkan wajahku ke arah lain, tatapan matanya lagi-lagu mengganguku, mengingatkanku pada seseorang.
"Aku sedang tidak ingin membahasnya," ujarku ketus. Ya, aku memang sedang tidak ingin membahasnya, kepalaku pusing, badanku semakin terasa panas. Kalau sedang seperti ini aku malas untuk bicara atau melakukan apapun. Alagi emosikh labil. Aku takut meledak.
Kim Yona mendesah. beberapa detik kemudian, Ji Eun datang sambil membawa Jasku di tangan kanannya dan Membawa payung ditangan kirinya di hadapanku.
"Pakai Jasmu , aku akan mengantarmu Ke Apartamentmu" perintahnya seraya mengasih Jas tersebut.
"Tapi aku tidak merasa dingin, aku kepanasan, Ji Eun! dan juga Urusan perusahaan belum selesai?!" Protesku.
Ji Eun menepuk bahuku sambil berkata "Tubuhmu Dingin Hye Jin dan Juga aku bisa menggantikanmu Sementara Ini, tenang perusahaan akan baik-baik saja" seraya memaksaku Untuk Isturahat di Apartemant.
Aku hanya bisa menghela nafasku dan Mengangukan kepalaku. Mau bagaimana lagi sahabat satu-satunya ini sangatlah keras kepala dan bila.aku menolak mungkin saja dia akan menelpon dan memberitau adikku.
Kulihat Yona memperhatikan Ji Eun lekat-lekat, keningnya berkerut semakin dalam, kemudian memiringkan kepalanya dan memijit-mijitnkeningnya. Seperti orang yang tengah mengingat sesuatu.
Tiba-tiba kepalaku sakit, rasanya seperti ditusuk-tusuk, dan membuat perutku melilit dan ingin muntah. Aku menahan sakitku. Dan seketika pandanganku menjadi gelap, yang kudengar hanya sayup-sayip suara Ji Eun memanggil namaku.
"Selamat pagi, Hye Jin! Bagaimana perasaanmu?" sapa sebuah suara lembut di sampingku. Aku megerjap-ngerjapkan mata, tanpak sosok Perempuan sedang berdiri di samping ranjanku sambil tersenyum lebar.
"Kim Yona? kenapa kau ada di sini?" seruku kaget. Aku tidak tahu kenapa aku sekaget itu, padahal aku kan terbiasa dnegan hal seperti ini.
"Lalu aku harus bilang apa? Apa aku harus bilang, 'hai juga, Kim Yona! Selamat pagi! ...'? Cih, aku tidak sufi," kataku ketus seraya beringsut turun dari tempat tidur.
"Hmm... ya mungkin seperti itu," sahutnya dari ruang makan. "Cepat cuci muka sana, setelah itu sarapan. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu," tambahnya.
"Apa? Kau memasak? memangnya hantu bisa masak?"
Kim Yona tiba-tiba berdiri di hadapanku sambil menyilangkan lengan di dadanya. "Aku ini hantu spesial. Sudah jangan banyak bicara, cepat cuci muka! perutmu harus segera diisi, nanti kau pingsan lagi,!" perintah Yona.
Ck, kenapa dia memerintahku? Memangnya Siapa dia?
Meski menggerutu, aku pun melaksanakn perintahnya mencuci muka. Tidak lama aku keluar dan segera menuju ruang makan. Dia atas meja sudah tersedia semangkuk bubur yang diatasnya diberi Telur ayam, segelas susu dan satu piring berisi salad.
"Makan yang banyak, jangan lupa sayurannya juga," kata Yona seraya menambahkan beberapa sayuran salad ke buburku.
Aku terdiam. Semua yang dilakukan Kim Yona memgimgatkanku pada mantan kekasihku.
"Ada apa? Kau tidak suka?"
Aku menggeleng. "Terima kasih!" ucapku pelan. "Ehem ... kau sendiri tidak makan?" tanyaku padanya yang sejak tadi terus memandangiku.
"Haha... mana ada hantu yang makan nasi." Yona tertawa. "Kau saja yang makan, isi perutmu.Kau itu kurang gizi, bekerja sampai malam tapi tidak memperhartikan asupan makananmu, tubuhmu protes tidak boleh seperti itu." Yona tersenyum, suaranga kini terdengar lembut.
"Ya."
•Jangan lupa like and Comment
•Jangan Lupa tekan Favoritnnya