Ghost Destiny

Ghost Destiny
Tujuh



Bagai orang bodoh yang selali bertahan atas nama cinta...


Ya, atas nama cinta ... cinta yang tak pernah kuteguk manisnya.


 


Angin malam semakin berhembus kencang. Kim Yona masih berdiri di halaman Apartemant Park Hye Jin, menatap kerlap \- kerlip lampu \- lampu dari rumah nan gedung yang berada di bawah tempatnya berdiri saat ini. Rumah Apartemant Park Hye Jin kebetulan berada di dataran tinggi , jadi dari sana bisa melihat pusat kota Seoul dan benerapa pemukiman lainnya. Senyum Kim Yona tiba \-tiba terkembang, namun dengan seketika hilang digantikan dengan kerutan sedih di wajah cantiknnya. Hatinya berkecamuk, rasa sedih, rasa rindu dan rasa kecewa bergemul menjadi satu. Membuatnya ingin berteriak sekencang kencangnya. Mengutuki takdir yang tuhan berikan padanya. Tetap, ia sadar semuanya sia \- sia. Tuhan pasti punya rencana lain atas dirinya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah bersabar, menunggu datangnya keajaiban, dan tidak lupa terua berusaha memcari irang yang ia cari. Orang yang akan mengakhiri petualangannya sebagai hantu Gentayangan.


Kemudian ingatannya kembali ke hari pemakamanya setengah bulan yang lalu



Hujan air mata masih menghiasi pemakaman Kim Yona, terutama sang ibu yang terus meraung \- raung memanggil nama pemudi itu. Kim Yona adalah putri pertama dari dua bersaudara yang ia miliki, ia tidak pernah menyangka anaknya akan berakhir dengan kejadian yang tidak disangka seperti itu.


Dari kejauhan nampak sosok perempuan tengah menatap ke arah orang \- orang yang berkerumun di makan Kim Yona. Air matanya terus menerus berjatuhan di pipinya.


"Ibu, maafkan aku! Aku telah membuatmu menangis," gumam perempuan itu lirih menatap sang ibu.


"Apa kau menyesal, Kim Yona?" tegur seseorang yang tiba\- tiba berada di samping perempuan itu.


Perempuan itu, yang ternyata Kim Yina lebih tepatnya 'Arwah' Kim Yona, Menoleh. Seorang laki\-laki tua berdiri di sampingnya sambil tajam padanya.


"Kau bisa melihatku, Kek?" tanya Kim Yona.


Laki \- laki tua itu tertawa tertahan. "Aku dan kau itu sama, jadi tentu saja aku bisa melihatmu."


"Ya, bisa dibilang begitu, tapi aku spesial," ucap laki \- laki tua itu sembari menyunggingkan senyum manis.


"Kau belum jawab pertanyaanku Kim Yona," tambahnya lagi.


Yona menunduk. "Aku tidak tahu harus mempunyai perasaan seperti apa, Kek. Aku tidak tahu apakah aku harus bersedih, menyesal atau justru aku harus gembira? Aku benar benar bingung," sahut Yona dengan suara lembutnya nan penuh dengan kesedihan.


Laki\- laki tua itu membelai rambut Yona. "Suatu saat kau akan mengerti dengan apa yang telah Tuhan gariskan ini, kau akan mengerti betapa beruntungnya dirimu saat ini."


"Jeonhmal, Benarkah? Tapi, sampai kapan aku harus gentayangan seperti ini?" tanya Kim Yona seraya menatap tajam pada laki\-laki tua itu.


"Sampai kau menemukan seseorang yang akan kau jemput di saat kematiannya. Dialah takdirmu yang akan menemanimu menuju akhirat. Tapi kau hanya punya waktu satu setengah bulan, jika kau tidak berhasil.... maka roh mu akan melebur."Laki\-laki tua itu menjelaskan. Kim Yona terdiam, yang terdengar hanya desahannya yang berat dan juga tatapan mata yang memiliki sejuta makna setiap tatatapnya itu.


•Jangan Lupa like and Comment


•Jangan Lupa tekan tanda Favoritnya


• Mohon maaf Bila ada kesalahan di dalam Penulisan ini ditambah Di Blur karena Entah kenapa ketikan saya di Blur seperti itu Jadi Mohon maaf