Ghost Destiny

Ghost Destiny
Dua Puluh Lima (Epilog)



memang menyakitkan


Dan mungkin akan sulit untuk ditinggalkan


-Hye Jin-


Satu Bulan Berlalu. . .


Saat ini aku tengah berjalan di daerah jembatan Icheon, tempat dimana terjadi kecelakaan dalam mimpiku. Kelakaan yang dimana ternyata orang yang mendorangku adalah Young Bee. Aku hanya ingin mengingat kenanganku dengan Kim Yona walau mungkin akan sedikit menyesakkan.


Aku berdiri di dekat pagar jembatan Icheon aku masih mengingat genggaman tanganya saat dia berusaha menolongku dan wajahnya yang khawatir kepadaku. Aku berjalan - jalan di pinggiran jembatan itu sambil memandangi jalan yang tidak terlalu ramai.


Aku menghentikan langkahku tepat di trnpat Kecelakaan yang aku alami bersama Kim Yona di dalam mimpi. Ingatanku kembali berputar ke saat itu.


Entah kenapa semuanya seperti sebuah kebetulan yang sudah direncanakan. Apakah itu yang disebuh takdir Tuhan? Jika iya, apakah takdirku dan takdir Kim Yona sama? Bukan di dalam mimpi, tapi dalam Kenyataan. Hatiku terua merancau sendiri.


Dukkk **


Ada sesuatu yang menabrak kakiku tiba - tiba, aku berbalik ke belakang aku menurunkan tingi tubuhku sedikit dan mencoba menyamai anak perempuan yang baru menabraku tadi. Aku tersenyum kepadanya dan dia membalas senyumanku.


"Apa adek tidak apa-apa?" ucapku sambil tersenyum tulus kepadanya.


"Hehehe tidak papa Om, maaf ya om tadi saya menablak om Hehe" ucapnya terkekeh, aku sedikit terkejut karena aku melihat senyuman yang sama pada perempuan kecil itu.


"Om boleh tau siapa Namamu dek?" tanyaku Ragu.


"Ehhh tentu dong om, ehem kenalkan namaku Kim Yona Hyun umulku balu 5 tahun salam kenal Om Ganteng, hehe" ucap Hyun dengan lesung pipitnya. Aku tersentak pikiran ku ragu kenapa ada seorang anak perempuan yang sangat Mirip dengan Kim Yona tetapi mungkin Agak Versi mininya ??!



"Eh.... Kalau Om sayang olang itu belalti olang itu sangat Pelhatian dong,om?" tanyanya dengan suara cadelnya. Aku terkekeh dengan ucapan gadis 5 tahun itu.


"Ya dia sangat berarti, baiklah om pergi dulu yaa om harus kekantor dulu" ucapku menyudahi semua kenanganku dengan Kim Yona.


"Hmm .. baiklah Dadah Om" ucapnya penuh dengan senyuman. Aku berdiri dan berjalan kembali menuju mobilku akan tetapi...


"Hwaaa Bolaku..." teriak seseorang di belakang ku. Aku membalik tubuhku dan langsung mengejar anak perempuan itu, ya dia adalah perempuan yang mirip dengan Kim Yona. Dia sedang berlari ke jalan raya untuk mengambil Bolanya.


"Yona awas!!!" teriakku tanpa melihat jalan dan refleks langsung memeluk anak perempuan tersebut. Tepat saat itu, tubuhku dan anak perempuan itu tersambar Mobil. Melayang di udara, lalu terhempas dengan kerqs ke aspal Jalan jembatan tersebut. Aku meringis tubuhku sakit, tubuh anak kecil tersebut bergetar dia kesakitan seperti diriku.


Aku berusaha menoleh kesamping kananku, ada sesosok perempuan berdiri di sana. Aku belum bisa memastikan siapabitu. Pandanganku Kabur karena terhalang sesuatu yang lengket yang melintas ke area mataku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa saat, hingga akhirnya aku bisa melihatnya juga. . Ia seorang perempuan dan seorang anak perempuan perempuan, dan sepertinya wajah perempuan itu begitu familiar, ya. . . aku mengenalnya, dia. . . Kim Yona dan juga anak kecil itu Adalah Kim Yona Hyun.


"Kim Yona?!" panggilku pelan. Kulihat ia menatapku dengan lembut dan penuh kasih sayang sambil memegang tangan anak perempuan yang ku peluk ini. Dia hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa kepadaku dan mulai menghilangkan wujudnya. Apa dia tidak mengenaliku, karena pertemuanku dengannya sebelum ini hanyalah Mimpi.


"appa, jib-e gaja (Ayah, ayo pulang" ucap anak perempuan tersebut sambil tersenyum dan mulai menghilangkan tubuhnya.


"Arrgghhhhh. . . !!" aku mengerang kesakitan. Dadaku terasa makin sesak, kepalaku sakit, pandanganku pun mengabur. Samar-samar kudengar suara orang-orang, namun aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku lelah, aku mengantuk. Aku ingin tidur. Aku menarik napas dalam - dalam dan menghembuskannya lagi dengan pelan. Aku menoleh lagi pada anak perempuan yang sudah kupeluk, matanya sudah tertutup. Sepertinya dia sudah tidur. Kalau begitu. . . aku juga ingin menyusulnya tidur.


"Kim Yona, tunggu aku!" bisikku pelan, lalu menutup mataku. Saat ini aku benar-benar merasa damai, ringan. . . dan bahagia. Tidak pernah aku merasakan seperti ini seumur hidupku.


Tuhan, jika ini adalah takdirku dan takdir Kim Yona, maka sambutlah kami dengan tanganmu yang hangar. Biarkan Kami merasakan kebahagiaan di tempatmu yang paling indah. Jangan pernah pisahkan kami barang sedetikpun. Aku mohon! aku mencintaimu, Kim Yona.


**The End**