
Gemericik air hujan di luar sana masih terdengar jelas ditelingaku, tetesannya pun masih terus membasahi jalan di luar sana. Aku hanya bisa memandanginya dari dalam restoran milikku, berharap hujan akan segera reda. Restoran sudah tutup dua jam yang lalu, dan aku terjebak disini menunggu hujan reda bersama beberapa karyawan yang sekarang sedang sibuk melayaniku. Entah apa yang mereka layani Tetap saja diriku dingin bagaikan es batu. Aku hanha bisa melihat ke arah Jam tanganku dan sesekali mecek berkasku karena bagi diriku Waktu itu sangatlah berharga.
Sudah seminggu ini aku merasa tubuhku sangat lemas, dan mudah lelah. Aku sering merasa detak jantungku berhenti mendadak. Pikirku, apa mungkin hidupku tidak lama lagi? Ck. Lagi-lagi aku berpikir yang tidak-tidak. Tapi, jika memang aku akan mati. . . aku siap. Aku sudah tidak mau hidup lagi. Apalagj hidup dengan memendam rasa rindu pada orang yang aku cintai. Rasanya begitu menyesakkan.
"Kau tidak sabar ingin pupang ya, Park Hye Jin?" tegur Woo Ji Eun, tangan kananku sekaligus sahabatku. Ia lalu duduk di kursi yang ada di depanku. Kuangkat alisku sebelah kanan dan menatapnya.
"Ya, entah kenapa tubuhku lemas sekali, rasanya seluruh tulanku meleleh, dan badanku terasa panas. Aku ingin segera tidur di kasur Big Sizeku," keluhku dan kembali memeriksa berkas yang ada di Mapku.
Ji Eun menyentuh keningku. "Ya Tuhan, kau dingin sekali!" serunya, lalu beralih memegang tanganku."Tanganmu juga dingin Hye Jin!" serunya lagi, dan kini terlihat dia begitu panik hingga ingin menelpon Rumah sakit.
"Dingin? Aku tidak merasa dingin, tapi aku merasa panas," sanggahku disertai nada dingin sambil menjauhkan tangan Ji Eun dari tubuh dan wajahku.
"Panas? Tapi tubuhmu dingin seperti es, Hye Jin. Mau ku pesankan Wine , atau Milk shake?" tawar Ji Eun seraya bangkit dari tempat duduknya. "Aku juga akan mengantarkanmu ke apartemant mu!?" Ucap Ji Eun yang langsung pergi mengambil Mobilku.
Hening lagi. Tak ada suara manusia, yang terdengar hanha suara tetesan hujan. Mataku nanar menatap sekeliling ruangan ini, kursi-kursi di ruangan ini entah kenapa membuatku sedikit ngerim Seolah-olah ada beberapa pasang mata yang memerhatikanku. Aku menutup mataku dengan sebelah tanganku seraya menunggu Tangan Kananku Mengambil mobilku.
Trap... trap..., terdengar suara langkah kaki dari belakang punggungku. Siapa itu? kalai Itu Ji Eun, ia pasti akan muncul dari samping kananku bukan di belakangku. Pangkah itu semakin dekat, lalu aku merasa ada sosok yang berdiri di belakangku. Bulu kuduk di tengkukku mendadak berdiri sekua. Aku menahan napas.
Menoleh jangan, menoleh jangan. Ayolah , Hye Jin... Jangan seperti dulu! Bukankah kau tidak takut hantu? perlahan kuputar kepalaku-sedikit berat, namun kupaksakan.
"Annyeong haseyo , hai , Hye Jin!"
"krekk..!!" Aku tanpa sengaja mematahkan bolpoin kesayanganku. Kim Yona tiba-tiba muncul di depanku.
Kim Yona berjongkok di depanku. senyumnya terkembang. "Anda baik-baik saja tuan?" tanyanya seraya menatapku dengan polosnya Tapi aku tidak menjawabnya malah menatap ke arah yang lain.
Ku lihat sekilas Kim Yona menghela napas dan duduk di kursi. Lalu memainkan rambutnya dengan kedua tangannya. Matanya menatap Tajam padaku.
"Untuk apa kau ke sini?!" tanyaku ketus, tanpa menjawab pertanyaan Kim Yona tadi. Untuk apa aku menjawabnya, dia sudah tahu kan kalau aku tidak sedang baik-baik saja. Dia tiba-tiba datanv mengejutkanku hingga Bolpoin kesayanganku rusak. Untung saja aku masih bisa memesannya lagi.
"Dan, untuk apa kau menatapku seperti itu? Kau mau aku buat matamu hilang?" katakh dingin. Jujur, aku terganggu dengan tatapan matanya itu. Ia menatapku seolah-olah sedang meneliti wajahku.
•Jangan Lupa Like and Comment
•Jangan Lupa tekan tanda Favoritenya