Ghost Destiny

Ghost Destiny
Tiga



Aku berjalan lesu di menuju Kantorku seperti biasa Aku tidak pernah menampilkan senyumku hanya saja hari ini aku mengeluarkan aura yang sangat mengerikan yang membuat para pegawaiku Tidak berani memberi salam , Kejadian kemarin masih membuatku Shock. Semalaman aku tidurblelap akan tetapi aku bermimpi buruk yang membuat tidurku terganggu apa ada seorang perempuan cantik entah berantah menginap di rumahku.


Setelah aku terjaga ternyata Perempuan hantu itu terus saja memintaku menjadi temannya, ia juga mengoceh tentang perjalananya menjadi hantu. Telingaku terasa panas. Aku juga takut , bukan takut karena dia hantu hanya saja Juniorku sendiri tidak bisa menahannya yang membuatku Bolak balik kamar mandi.


Oya , nama Perempuan itu siapa ya? Yon..emm apa ya?


"Kau sedang memikirkanku , Park hye Jin?" seseorang berbisik lembut dintelingaku , sontak aku berbalik.


"Kau?!" aku melotot kepadany


"Namaku Kim Yona , bukan  Kau ... ," kata Kim Yona yang sekarang sudah berada tepat di hadapanku, "Kau terkejut ya? Tidak usah terkejut , kan sudah ku bilang sebelum kau setuju jadi teman saya ... aku akan terus mengikutimu.Aku ini hantu Tuan , jadi bisa dengan mudah menemukanmu." dia mengedipkan mata seraya tersenyuk tipis. Senyumnya lumayan manis. Eh, apa yang kupikirkan?


"Tapi aku tetap tidak mau jadi temanmu. Jadi, lebih baik kau cari orang lain saja!" tegasku seraya duduk ke kursi kerjaku.


"Tapi... tidak ada yang bisa melihatku selain dirimu , Park Hye Jin. Aku berharap kau mau menjadikanku teman.Aku juga tidak tahu kenapa hanya kau yang bisa melihatku. Mungkin saja kau punya indera keenam? Atay kita memang ditakdirkan bertemu?" cerocosnya yang ikut berdiri di hadapanku. Aku menoleh ke arahnya, memasang tatapan setajam biasanya mungkin agar dia bisa pergi dariku.


"Takdir? Lebih baik aku mati daripada harus ditakdirkan bertemu dan berteman dengan hantu. Bisa - bisa aku dinggap gila," kataku tegas. Ya lebih baik aku mati daripada seumur hidup aku dianggap orang gila. Diledek dan diejek. Aku tidak bisa membayangkan hari-hariku yang kelam jika aku berteman denganya. Lagi pupa memang sejak dulu aku berniat ingin mati.


Kim Yona memundurkan langkahnya, dan entah kenapa sontak mataku terpaku oleh sikapnya. Dia balas menatapku, tapi tatapanya begitu teduh dan sendu.


"Mati? kenapa kau pilih mati? Mati itu... tidaj mengenakan. Apalagi jika kau mati mendadak tanpa sempat melakukan apa yang ingin kau lakukan, lalu kau menjadi roh gentayangan tanpa sanak saudara. Kau sendirian. Kau bisa melihat orang yang kau cintai tapi kau tidak bisa menyentuhnya , dan tidak bisa berbicara denganya. Rasanya ... benar-benar menyakitkan."


Degh. Jantungku berhenti berdegup. Kata-kata Kim Yona barusan menusuk hatiku. Raut wajahnya berubah sedih , matanya berkaca-kaca.



"Ck, kau ini tega yah , sejak tadibaku memanggilmu dari luar tapi kau tidak menjawab. Suaraku sudah hampir hilang," gerutu Ji Eun ketika sudah ada di hadapanku. Ia memegangi tenggorokannya.


"Hmm , aku sedang berbicara dengan seseorang," kataku seraya membetulkan rambutku dan melirik ke arah Kim Yona , perempuan itu ternyata sedang menatapku.


"Aku pergi dulu yaa Hye Jin" ucapnya pelan , dan kemudian menhioang dari pandanganku.


Ji Eun mengerutkan keningnya, dan berkata, "Bicara dengan seseirang? siapa?"


"Emm... entahlah," jawabku asal , lalu mengambil bolpoinku. "Ayo kita mulai jadwalnya!" ajakku pada Ji Eun dengan nada tegasku.


Benarkah mati itu tudak enak? Tapi, aku ingin mati. Mungkin dengan begitu aku tidak perlu lagi mengingatnya, tudak perlu lagi menahan rindu yang semakin menyesakkan ini. Bisakah kita bertukar tempat, Kim Yona?


"Kau tidak tahu apa-apa , Park Hye Jin. Kau tidak mengerti." suara Kim Yona terdengar jelas di telingaku. Ah, bukan di telinga, tapi pikiranku. Tapi... kenapa bisa?


•Jangan Lupa like and comment


•Jangan lupa tekan tanda Favorit