
Suasana hening sejenak, aku menikmati makananku. Rasanya enak sekali, tidak kalah dengan buatan ibuku dulu. Ku pikir Semasa hidupnya ,perempuan bernama Kim Yona ini pasti jago masak.
"Oya, bagaimana aku bisa dirumah? Setahuku hanya orang tertentu saja yang mengetahui rumahku (apartemant)?!" tanyaku sambil terus melahap bubur buatan Yona, kali ini nada suaraku merendah, tidak ketus, maupun membentak seperti biasanya.
"Temanmu yang bernama Woo Ji Eun yang mengantarmu, dia menunggumu selama setengah jam. Tapi tiba-tiba ada yang menelponnya, sepertinya sangat penting jadi ia terburu-buru pergi," jelasnya panjang lebar.
"hmm" aku manggut-manggut
Aku kembali memakan makananku dengan lahap sedikit demi sedikit agar aku tidak tersedak. Kim Yona hanya memandangiku lagi dengan tatapan penuh perhatian yang mungkin bisa membuat diriku mual dengan perhatianya yang aneh . Walau seperti itu aku hanya mengabaikannya dan mengangapnya angin lalu jarena aku tidak terlalu suka Jahat kepada orang yang sedang baik kepadaku.
Suasana kembali hening hanya suara tetesan air keran dan juga suara sendok dan piring bergesekan . Aku tidak tahu harus bicara apalagi, aku memang tak pandai bicara bila bukan urusan perusahaan tapi aku penasaran akan satu hal. Yang membuat diriku ingin memilih antara bertanya atau tidak ?!
"Ehem.. Kim Yona, boleh aku bertanya?" kataku datar.
"Tentu saja. Kau mau bertanya apa?" ia menatap tepat ke manik mataku dengan tatapan yang polos dan manisnya.
"Emm... bagaimana kau bisa mati? Ng.. maksudku ceritakan semuanya tentang dirimu."
"Selama dua minggu ini aku terkatung-katung menjadi arwah gentayangan. Tanpa tahu harus ke mana, aku bisa melihat orang-orang yang ku sayangi dengan sangat jelas, tapi aku sama sekali tidak bisa menyentuh apalagi berbicara dengan mereka. Saat itu hatiku benar-benar sakit, lalu kuputuskan untuk pergi sejauh mungkin dari mereka.
"Dan kemudian aku bertemu denganmu. Sungguh aku tidak menyangka akan ada orang yang bisa melihatku." Yona bercerita panjang lebar.
Aku manggut-manggut, dan bertanya lagi kepadanya karena bagiku aku tidak akan puas bila hanya bertanya sekali saja "Lalu, kenapa kau menjadi hantu gentayangan? apa masih ada yang belum sempat kau lakukan?" tanyaku dingin.
Yona terdiam sejenak, matanya menatap ke arahku dan berganti menatap ke arah langit-langit ruangan. Lalu berkata dengan lirih, "Mungkin karena aku belum sempat bertemu dengan tunanganku." ucapnya lembut tetapi mengandung kesedihan di dalam nadanya.
Aku manggut-manggut sekali lagi, dan kembali meneruskan kegiatan makanku yang terhenti sejenak.
Hmm. . . ternyata hidup ini benar-benar aneh. Kupikir hal yang seperti Kim Yona alami hanya ada dalam Berita koran , Buku Novel, atau juga drama yang sering ditonton mantan pacarku dulu gumamku dalam hati.
•Jangan lupa Like and Comment
•Jangan lupa tekan tanda Favoritnya