
Ke esokan harinya ...
Woo Ji Eun membuka matanya perlahan. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Rumah sakit? Tanyanya dalam hati. Kening Ji Eun berkerut mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Tidak perlu waktu lama ia sudah bisa mengingatnya.
Ji Eun kemudian menoleh ke samping kirinya, Tampak Hye Jin yang sedang menelpon dengan klientnya. Ji Eun tersenyun tipis melihat sahabatnya yang rela bekerja untuk perusahaan di rumah sakit ini. Dan juga entah berapa kali Hye Jin telah menolongnya terhindar dari siksaan perasaan ini.
Akhirnya ia tersenyum miris akan dirinya sendiri yang selalu melakukan hal bodoh berulang kali demi perempuan yang telah menghianatinya. Kemudian senyumnya memudar, matanya menangkap sosok perempuan yang tengah duduk di sofa sambil memainkan rambutnya berulang kali. Mata Ji Eun menatap lekat mencoba memgingat siapa perempuan itu. Ji Eun tiba-tiba melotot dan menutup telinganya dengan kedua tanganya. Bibirnya bergetar, kepalanya menggeleng pelang. Raut wajahnya tidak percaya akan yang dilihatnya.
“Kau. . . bukankah kau sudah hanyut? Ke kenapa. . . kau disini?” desis Ji Eun. Wajahnya masih terkejut dan menutup telinganya dia tidak ingin teringat akan kejadian itu.
Kim Yona Masih memainkan rambutnya yang sepanjang pinggang itu. Sebenarnya ia bosan tidak melakukan apa-apa. Sampai ia melihat laki-laki itu. Ternyata Ji Eun sudah sadar dan tengah menatap ke arahnya dengan ekspresi terkejut. Kim Yona memiringkan kepalanya.
Emm. . . apa aku tidak salah lihat, ya? Kenapa Ji Eum daritadi menatap diriku. Tapi bagaimana bisa? Gumam Kim Yona dalam hatinya. Ia pun beranjak dari duduknya dan mendekati tempat tidur Ji Eun. Terlihat Ji Eun menutup telinganya rapat-rapat, tubuhnya bergetar dan mukanya memucat.
“Kau bisa melihatku, tuan Ji Eun?” tanya Kim Yona polos sambil menatap balik Woo Ji Eun.
“Maaf. . . maafkan aku. A-aku mendorongmu waktu itu, maaf aku tidak sengaja. Maafkan aku nona!” ucap Ji Eun yang masih menutup telinganya. Kim Yona memiringkan kepalanya. Ia bingung kenapa Ji Eun bisa melihatnya dan juga apa maksudnya mendorong.
Hye Jin mematikan handphonenya ia bergerak mendekati Ji Eun. Ia terkejut ternyata dia sudah sadar. “ Eun, ada apa? Kenapa kau menutup telingamu?!” ucap Hye Jin yang sudah berdiri di samping ranjang rumah sakit tersebut.
“Hey, Ji Eun jawab!” tegas Hye Jin yang bingung kenapa temannya melakukan hal yang menganehkan. “Buka mata dan telingamu Ji Eun, ada apa!” lanjut Hye Jin yang masih meneriaki Ji Eun yang tidak menurut engan perintahnya.
“Aku bersalah. . . aku yang membuat dia meninggal, Aku yang telah membunuh perempuan itu. Harusnya aku dipenjara,” ucap Ji Eun lemas dan tidak bisa berkata-kata banyak. Tubuhnya bergetar dia masih takut menatap kebenaran yang telah berlalu itu.
Hye Jin terdiam. “Membunuh? Membunuh perempuan? Siapa?” tanya Hye Jin datar.
“Dia. . .” tatap Ji Eun ke arah Kim Yona. Hye Jin menatap ke arah yang dimaksud terlihat Kim Yona sedang berdiri di sampingnya sambil memegangi gaun putih keunguan itu. ‘’Apa kau tau Yona?” tanya Hye Jin di dalam pikirannya. Kim Yona hanya menggeleng kepalanya dan menghilang dengan seketika. “ Jin, tolong bantu aku melupakanya” ucap Ji Eun dengan lembutnya. Matanya masih melihat sekeliling mencari sosok perempuan yang tadinya ada dan sekarang sudah menghilang.
Hye Jin menghela napas berat, kemudian mengangakat sebelas alisnya, “ Tenang saja, aku akan menghabisi perempuan yang telah membuang dirimu dan juga tenang masih banyak perempuan di luar sana.” ucap Hye Jin Percaya dirinya ditambah suara Smirknya.
“Tapi...” belum sempat Ji Eun berkata Hye Jin pangsung memotong perkataan Ji Eun. “Sekarang lebih baik kau beristirahat, karena kita masih memiliki proyek yang perlu dimenangkan” ucap Hye Jin dengan percaya dirinya.
“Cih, kau ini mau liat aku mati kelelahan” tanyq Ji Eun yang masih tidak percaya bahwa sahabatnya sudah menyiapkan banyak tugas untuknnya nanti.
“Lebih baik kau mati kelelahan daripada mati karena perempuan itu” tegur Hye Jin dengan dinginya. Woo Ji Eun yang mendengar perkataan Hye Jin hanya bisa menggelengkan kepalanya dia juga sadar semua perkataan Hye Jin memang benar.