Ghost Destiny

Ghost Destiny
Dua Puluh



Hye Jin memijat-pinjat kepalanya. Mengingat mantan pacarnya selalu membuat hatinya menyesal. Menyesal akan kepergian ibunya dan adiknya yang mendapatkan trauma berat. Jika dulu dia tidak mencintai Young Bee mungkin sekarang keluarganya masih saling bertemu dan menyapa hangat.


Kadang Hye Jin berpikir lebih baik mati daripada hidup dengan rasa penyesalan yang terus bertempuk di hati dan pikirannya. Ia hidup, namun jiwa,hati, raga dan pikirannya mati. Tapi semenjak bertemu Kim Yona, ia sadar kalau mati tidak akan bisa mengembalikan ibunya sendiri. Ia harus hidup untyk melindungi Park Hye Na, karena dia takut Hye Na akan mengingat semua kejadian yang sudah susah payah dia hilangkan. Dia harus kuat untuk orang-orang yang ia sayangi.



“Hei, sedang melamunkan siapa? Young Bee, kah?” tegur Ji Eun yang ternyata berada di dalam apartamentnya. Pikiran Hye Jin buyar saat mendengar perkagaan Ji Eun dan langsung memgeluarkan aura membunuhnya yang sangat mencekam


“Kau ini memgejutkanku. . . sama seperti Kim Yona,” gumam Hye Jin. Tanpa sadar ia menyebut nama Kim Yona dan itu mmebuat Ji Eun tersenyum lebar.


“Kim Yona? Siapa dia? Apa dia pacar barumu?! Wah sudah move on ya” goda Ji Eun, “Baguslah aku memiliki teman yang tidak berstatus Jomblo lagi” kekeh Ji Eun.


“Dia bukan pacarku, dia. . . dia hanya seorang perempuan cantik yang tidak memeiliki keluarga dan juga dia hanya teman,”kata Hye Jin terbata-bata.


Ji Eun tersenyum simpul, menatap Hye Jin penuh dengan pertanyaan. “Teman? Sejak kapan kau punya teman perempuan. Dan juga bukannya kamu alergi dengan perempuan kecuali Ibi dan adikmu, oh ya Sejak kapan kamu yang berhati dingin ini menyembut perempuan dengan kata cantik.” Selidik Ji Eun. Muka Hye Jin memerah dia ketahuan berbohong dan menyembut kata cantik yang baru pertama kali ini dia sebutkan untuk orang lain selain Ibu,adik dan Bee.


“Mungkin ini adalah kabar baik atau buruk bagiku, Jin” ucap Ji Eun dengan gaya profesionalnya.


“Maksudmu?!” tanya Hye Jin bingung akan ucapan sahabat sekaligis asistenya itu.


“Dia kembali. . .” gumam Ji Eun pelan.


“Siapa? Siapa yang kembali?!” tanya Hye Jin lagi.


“Young Bee telah kembali. . . dia kembali smabio membawa sesuatu barang. Mungkin dia akan menelpon dan menemuimu,” jawab Ji Eun. E Jin yang mendengar jawaban yang diberikan Ji Eun hanya bisa memijat-pijat kepanya yang sudah bagai tertusuk dan tertimpa beton. “Kalau begitu aku pergi dan Ingat masalah ini kamu harus selesaikan sendiri. Karena kamu juga tau perempuan itulah yang membuat dirimu kehilang orang yang berharga.” Tegur Ji Eun sambil menepuk bahu Hye Jin.


“Jangan menyesal akan kebahagian adikmu. . . karena dia satu-satunya yang tersisa ,Jin” lanjut Ji Eun dan keluar dari apartament Hye Jin. Hye Jin hanya bisa menghembuskan nafas berat dia tidak bisa berpikir jernih dengan semua keadaan yang mendadak ini. Pikiranya buyar, dia bingung harus melakukan apa saat bertemu kembali dengan orang yang sudah ada di separuh hatinya itu.