Ghost Destiny

Ghost Destiny
Delapan Belas



Di dalam kebahagiaan pasti ada kesedihan


Sedih akan segalanya, segala perasaan yang terlalu mencintainya


Cinta yang bahkan telah dia hianati dengan mudahnya


Hye Jin menatap Kota Seoul dari Apartament rumahnya, kemudian ia teringat akan hal itu. Hal yang membuat dirinya menjadi menggila, hal yang membuat dia melakukan hal-hal yang sia-sia dan hal yang membuat dia harus kehilangan Ibu yang merawatnya dari kecil.


Hye Jin menatap ke arah langit berbintang. Hari ini langit begitu cantik,terlihat sekali bintang-bintang yang sedang menerangi kegelapan ini. Tapi entah kenapa auranya terlihat dingin dan dia tidak mengeluarkan senyumannya. Bagaimana tidak, ingatanya kembali ke masa 1 tahun yang lalu. Dimana ia terakhir kali bertemu ibunya dan kekasihnya. Dan ia tidak pernah menyangka pertemuan yang dirancang semewah dan sebagus itu akan tetapi hancur dengan menghilang jejak Kekasihnya yang membuat dirinya menggila dan berubah 180°.


1 Tahun yang lalu. . .


“Mungkin dia akan terkejut akan kejutan ini atau juga dia akan memberikan ciuman yang manis itu” ucap Hye Jin dengan senyum yang manisnya.


“Ciee. . . udah gak sabar nih kakak sampai senyum-senyum malu gitu.” Goda Hye Na adik satu-satunya Hye Jin.


“Daripada kamu kapan Tunangannya?!” balas Hye Jin yang membuat adiknya itu hanya bisa berdecak kesal dengan tingkah laku kakaknya. Bagaimana tidak hari ini adalah hari dimana Kim Hye Jin memutuskan untuk melamar kekasihnya itu di hadapan semua tamu yang diundangnya.


Dia menunggu di atas panggung, menunggu sang kekasih datang dengan supir pribadi yang diperintahkannya. Keluarga besar Kim memamg sudah daritadi menunggu keberadaan sang calon menantu. Tak lama kemudian terlihat mobil mewah berwarna biru klasik terpampang nyata. Ya itu adalah mobil khusus untuk menjemput kekasihnya yang bernama Young Bee.


Hye Jin langsung mengambil bunga dan cincinnya dan berjalan menuju pintu gerbang masuk tersebut, akan tetapi supir tersebut sendiri dan tidak ada penampakan sosok Young Bee. Hye Jin mendekati dan berjalan ke arah supir tersebut dan bertanya, “Dimana? Mana Bee?!” ucapnya penuh dengan semangat.


Akan tetapi supir tersebut hanya terdiam, hatinya lirih ingin mengatakan kejujuran yang mungkin akan menyakiti hati sang tuanya.


“Dimana Young Bee!” teriak Hye Jin bertanya kedua kalinya kepada supir tersebut. Tetapi supir tersebut hanya menundukan kepalanya dan mulai angjat bicara. “Maaf tuan, nona Bee telah pergi dan meninggalkan surat ini di apartamentnya” ucap supir tersebut lirih.


“Apa?! Aku tidak mendengarmu. Ulangi lagi ucapanmu” teriak Hye Jin tidak mempercayai perkataan supir yang termasuk tangan kanan Hye Jin.


“Nona Bee telah pergi tuan, dia pergi bersama laki-laki lain dan dia meninggalkan surat ini untuk tuan” jawab Supir tersebut dengan berani. Hye Jin langsung mengambil surat tersebut dan membacanya.



To : Kim Hye Jin


Hai. . . ini aku Young Bee. Hye Jin maaf aku harus pergi karena aku tidak bisa mencintaimu. Maaf membuat dirimu menjadi tempat pelampiasanku selama tiga tahun ini. Dan juga kamu tidak perlu mencariku karena aku akan segera menemui kekasihku yang sebenarnya. Kamu pasti tau bukan berarti “Aku Tidak Mencintaimu” jadi jangan ganggu hidupku karena kamu hanya menjadi tempat pelampiasanku. Tapi mungkin beberapa bulan nanti akan ada surat pernikahan dariku jadi tunggu kabarku yaa.


Love Much


Young Bee. . .


Hye Jin yang membaca surat tersebut langsung menendang meja dan mengambil kunci mobilnya.


“Ada apa ini, nak” tanya Lembut Nyonya Kim.


“Nona bee, pergi meninggalkan tuan, Nyonya” jawab supir sambil menunduk. Hye Na yang mendengar perkataan tersebut langsung melotot dan menatap tak percaya akan kelakuan Young Bee. Bagaimana bisa dia meninggalkan kakaknya yang paling sempurna diantara laki-laki lain.


“Ibu, ibu harus cepat menghentikan Kakak bu. Pasti saat ini Kak Hye Jin akan mencari kak Bee dan mungkin dia akan celaka bu.” Panik Hye Na yang baru ingat bahwa kakaknya mudah terbawa emosi yang membuat dia tidak sadar apa yang akan dibuag dirinya, karena bagi kakaknya dia akan melakukan apapun kecuali keinginannya sudah tercapai dia baru akan berhenti.


“Ibu tau nak, mari kita ke tempat kakakmu” ucap Nyonya Kim. Belum sempat mereka berdua berjalan terlihat Hye Jin sudah berjalan dengan memegang kunci mobilnya. Raut wajahnya berubah, auranya mengeluarkan makna bahwa siapa saja yang mendekati akan mati di tangannya.


“Hye Jin. . . Jin mau kemana kamu?!” ucap nyonya Kim sambil bergegas menyusul Hye Jin. Akan tetapi suara ibunya masih tidak bisa menghentikan Hye Jin yang penuh amarah.


“Kak Jin, toling berhenti kak!” teriak Hye Na sambil menyusul Ibunya. “Kak!” teriak kedua kalinya Hye Na.


Hye Jin hanya mengeluarkan senyum smirknya dan menatap tidak suka kepada kedua otang tersebut. “Apa kalian sadar Young Bee lebih penting daripada kalian berdua” jawab Hye Jindnegan kejamnya membuat ibunya meringis sakit hati. Bagaimana ada ibu yang tidak sakit akan perkataan putra semata wayangnya.


“kak!! Apakah kau buta atau gila. Apa kamu membenci kami hingga kakak memilih perempuan yang bahkan menjadikan kakak sebagai tempat pelampiasan” teriak Hye Na sambil menahan air matanya. Dia sadar bila kakaknya tidak sadar akan ucapanya tapi ini sudah melebihi batas normal.


“Ya, aku buta dan gila akan cintanya walau diriku menjadi tempat pelampiasanya dan Aku memang membenci kalian,” jawab Hye Jin dengan mata tajamnya. Hati Hye Na teriris mendengar perkataan kakaknya. Apa dia salah memilih Calon Kakak Ipar hingga dia harus dilukai. Dia sanggup bila dia yang disakiti tapi ini Ibunya, ibu Hye Jin juga yang telah melahiekanya. Tapi kenapa kakaknya harus mengatakan hal yang kejam kepada kedua perempuan itu. Ibu Kim mendengar ucapan putranya itu hanya bisa tersungkur ke atas aspal, dia menangis, hatinya sakit akan perkataan anak yang dia selalu jaga dan bangga itu.


“Jadi kalian jangan menghalangi jalanku” lanjut Hye Jin kepada kedua perempuan yang berada di samping pintu mobilnya.


“Tunggu kak, aku dan ibu akan membiarkan kakak pergi tapi tolong jangan melukai diri kakak lagi. . .” tegur Hye Na.


“Minggir...” ucap Hye Jin dingin.


“Tapi...tapi kak” lanjut Hye Na


“Minggir!!” teriak Hye Jin. Hye Na tetap di posisinya mengahalangi kakaknya masuk ke dalam mobil. Hye Jin berjalan mendekat ke arah Hye Na menatap lekat manik mata yang sama denganya.


“Kataku minggir, ya minggir!” teriak Hye Jin dan mendorong Hye Na ke temgah jalan raya tersebut. Hye Na terdiam di berdiri di tengah sana dengan tubuh yang bergetar. Tiba-tiba klakson Mobil terdengar dari dekat, dari samping kanan Hye Na terlihat mobil truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dan siap untuk menabrak Hye Na. Hye Na hanya menatap mobil kakaknya pergi dan tidak menyadari Mobil truk tersebut.


Tiba-tiba. . .


Hye Na terduduk di trotoar jalan. Dia menangis melihat Ibunya yang ternyata baru mendorong dirinya untuk selamat dari Maut. Tubuh nyonya Kim terpental ke seberang jalan, semua orang berlari mendekati tubuh tersebut. Hye Na hanya bisa berlari dan menangis akan keadaan ibunya yang sudah dipenuhi oleh darah segar yang mengalir. Sahabat Hye na langsung menelpon ambulance.


“Tolong cepag ke jalan XXXXXX no 07, ada korban ini darurat” teriak Hyuna sahabat Hye Jin.


“Ibu. . . bangun bu. . . jangan tinggalakan Hye Na, Kak Hye Jin tolong bantu ibu, Kak!?” teriak Hye Na menangis terisak-isak.


“Hye Na, tenang ambulance akan segera kesini. Aku akan meminta dengan ayah untuk memberikan dokter terbaik untuk Ibumu Hye Na.” Ucap Hyuna yang sudah duduk menenangkan sahabatnya tersebut.


Tidak lama terdengar suara sirena dari mobil Ambulance. Nyonya Kim diantar menuju rumah sakit. Hye Na mencoba menelpon kakaknya berulang kali-kali sambip memegangi tangan ibunya yang mulai dingin. “Kak, tolong angkat” batin Hye Na. Tapi tidak ada satupun telponnya yang diangkat.


Di rumah sakit. . .


Hye Na berdiri di samping ibunya dan menatap ibunya terus-menerus. Pikirannya kosong, dia tidak bisa berkata dan tidak bisa memikirkan hal lain. Dia merutuki dirinya sendiri, tidak ada kata-kata yang ingat dia ucapkan. Tatapanya hampa dan kosong, dia hanya memegangi dan memeluk ibunya berulang kali dan tetap dia tidak bisa merasakan kehangatan yang dulu, sekarang dia hanya merasakan kedinginan dan kehampaan.


“Ibu. . . maafkan diriku” kalimat pertama yang diucapkan Hye Na saat berada di ruang kamar ibunya.


“Maaf, seharusnya aku yang berada di tempat ibu. Harusnya aku bukan ibu, maaf bu aku telah membiarkan ibu pergi. Maaf aku tidak bisa menghentikan Kakak pergi dan malah ibu yang pergi. Maaf bu. . .” lirih Hye Na smabil memeluk ibunya ke tujuh kalinya dan mulai meneteskan air matanya.


Hyuna yang melihat sahabatnya hanya bisa tersenyum miris akan nasib sahabatnya. Dia tau tidak ada anak yang tidak sedih akan kepergian ibunya. Ibu yang bahkan rela mengorbankan nyawanya demi anaknya sendiri.


“Hye Na. . .” tegur Hye Na.


“Maaf, aku keluar sebentar. Bisakah kamu mengabari diriku bila mobil Ambulance sudah siap mengantarkan ibu ke kediamanku” jawab Hye Na tak berdaya.


“Aku akan mengabarimu Hye Na” jawab Hyuna sambil memeluk tubuh sahabatnga itu.


Hye Na berjalan di koridor rumah sakit. Tatapanya kosong dia sadar seharusnya dia tidak pernah mempercayai siapapun kecuali sesama jenisnya, karena baginya laki-laki hanya makhluk yang selalu menyakiti dirinya. Dia selalu menanamkan bibit kebencian apalagi terhadap kakaknya yang bahkan sudah tidak memperhatikanya dan ibunya.


Handphone Hye Na berbunyi, dia melihat ternyata ada pesan dari Hyuna bahwa mobil ambulancenya sudah siap. Hye Na berjalan dan menuju ke kediamannya bersama Ibunya.


Sudah beberapa hari jenazah nyonya Kim dikuburkan. Perasaan cinta dan kasih sayang Hye Na juga telah dikubur di tempag ibunha Berada. Hye Na selalu mengurung dirinya di kamar ibunya tanpa makan sekalipun sudah 2 minggu dia melakukan hal tersebut.