
“Yona, kau kenapa?” Hye Jin mengelus kepala Kim Yona dengan lembutnya. Perempuan itu sejak tadi menatap keluar jendela tanpa bergerak malah terlihat ingin mengeluarkan air mata dari manik mata bewarna ungu itu. Hal itu membuat Hye Jin keheranan.
“Yona” Tegas Hye Jin yang membuat Kim Yona langsung menghapus air matanya dan menghadap ke arah seseorang yang memanggilnya. Dia terkejut dengam suara tersebut dan langsung memberikan senyuman yang sedikit terpaksa.
“Ada apa?” tanya Kim Yona Polos. Kim Yona kemudian berjalan mendekat dan memberikan senyuman manis nan polos di wajahnya. Hye Jin mengeluarkan aura kekejamannya, lalu memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku jasnya.” Harusnya Aku yang bertanya seperti itu. Ada apa denganmu? Kenapa kau melamun? Apa kau memikirkan Mantan Tunanganmu itu?” tanya Hye Jin Ketus.
Kim Yona kembali tersenyum ke arah Hye Jin. “Bukan hanya memikirkannya, tapi aku juga mengingat semuanya. Tentang penghianatannya, dan awal bagaimana aku mati. Itu semua karena dia, yang dulunya aku sangat Mencintainya,” Jawab Kim Yona dengan nada penuh dengan perasaan kesedihan.
“Maksudmu?” tanya Hye Jin tak mengerti. Kim Yona menatap Hye Jin, lalu berkata, ‘’Apa kau tidak ingat pernah bertemu denganku sebelumnya, Hye Jin Oppa?” ucapnya polos.
Hye Jin menatap mata Kim Yona mencari kebohongan akan katanya tapi dia tidak menemukan kebohongan dalam sorot mata itu. Keningnya berkerut. Ia tengah mengingat-ingat sesuatu memang sejak pertama bertemu dengan Kim Yona di pintu gerbang. Hye Jin memang merasa tidak asing dengan wajahnya, senyumannya dan pita bando yang selalu dia gunakan. Akan tetapi dia tetap tidak bisa mengingatnya
“Kurasa aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya,” jawab Hye Jin yakin dengan pemikirannya yang memiliki IQ diatas rata-rata itu.
“Kau yakin , Hye Jin” tanya Kim Yona memastikan.
Hye Jin memberikan senyum Smirknya.” Apa aku terlihat berbohong Kucing kecil. Aku juga tau aku pernah bertemu denganmu hanya saja aku tidak bisa mengingatnya,” kata Hye Jin Dengan percaya dirinya.
“Emm. . . begitu ya. Sepertinya aku harus membantumu mengingatkan akan kejadian hari itu,” gumam Kim Yona pelan, hampir seperti berbisik. Hye Jin merilekskan otot bahunya yang sebenarnya tak terasa sakit atau penat. Kata-kata Kim Yona membuatnya bingung.
“Restoran Adorijib Myeongdong, kau pernah melakukan pertemuan di sana, kan?” tanya Kim Yona. Ia mulai mencoba membantu Hye Jin untuk memgingat pertama kali mereka bertemu.
“Ya, aku pernah melakukan pertemuan klien di sana. Tapi aku sudah membatalkan janjinya karena perusahaan tersebut membuang-buang waktuku,”sahut Hye Jin dengan tatapan dingin nan kejam.
Lama Hye Jin memgingat. Akhirnya laki-laki itu berkata, “Aku tidak mengingat hal yang memang tidak penting” ucapnya dengan nada datarnya.
“Tidak ingat? Bagaimana bisa padahal kamu orang yang mendorongku hingga aku harus jatuh ke lantai. Yang membuat dirimu memarahiku karena aku memperlambat waktumu bertemu kekasihmu itu,” jelas Kim Yona dengan muka yang mulai cemberut. Tapi Hye Jin lagi-lagi terdiam dan tidak ada menjawab penjelasan Kim Yona.
“Sudahlah kau membuat kepalaku bertambah sakit. Ada beberapa ingatan yang tidak bisa aku ingat terutama ingatan tentang peristiwa kurang lebih sebulan yang lalu. Jadi jangan bertanya akan hal tersebut” ucap Hye Jin sambil memegangi kepala yang mulai sakit. “Apa mungkin kamu kehilangan ingatan?” tanya Kim Yona. “Entahlah” Jawab singkat Hye Jin.
“Oh iya, Aku, kau, Ji Eun ,tunanganku dan mantan istri Ji Eun pernah berada di satu waktu dan di satu tempat yang sama.” Kim Yona menatap lelat Ji Eun. Hye Jin tidak memgeluarkan suaranya. Ia memijit-mijit keningnya.
“Benarkah? Kenapa aku tidak ingat? Dan Ji Eun tidak pernah membicarakan soal itu, “ ujar Hye Jin. Kim Yona memiringkan kepalanya. “ Memang ingatanmu sudah kembali nona, kalau sudah coba ceritakan ingatanmu”Lanjut Hye Jin.
“Aku belum bisa mengingat banyak tuan, Hanya saja sebatas ingatan tentang pertemuan denganmu untuk pertama kalinya dan juga penghanatan mantan tunanganku.” Jelas Kim Yona dengan muka yang sendu.
“Penghianatan Taehyoun? Apa maksudmu Yona” mata Hye Jin Menajam mengiginkan jawaban yang lebih pasti.
“Taehyoun berselingkuh. Dan aku melupakan itu. Bahkan aku mengirim surat untuknya sungguh hal yang sia-siakan” Kim Yona tersenyum miris akan dirinya.
Hye Jin menatap wajah Kim Yona, hatinya teriris. Ia merasakan dengan jelas apa yang dirasakan Kim Yona. Tapi kenapa? Padahal ia dan Kim Yona sebelumnya adalah orang asing. Kalau menurut perkataan Kim Yona mereka pernah bertemu lagi pula itu hanya sekilas. Kim Yona bilang di restorant terkenal itu.
“Sudahlah lagi pula itu mungkin takdir” ucap Hye Jin menghibur Yona. “Tentu, mungkin aku dan dia bukan takdir” jawab Kim Yona dengan senyum tipisnya.
•Jangan Lupa Like and Commentnya
•Jangan Lupa Tekan Tanda Favoritnya