
Aku merindukan genggaman itu
Yang menguatkan saat diri tak lagi mampu
Membawa keteduhan dalam pikiran yang sedu
Mendatangkan rasa yakin kala hati dilanda ragu
Rasa cinta ini hanya dapat aku simpan
Hanya dengan setetes pena aku torehkan
Dengan selembar kertas aku ceritakan
Tak perlu lagi mulut ini mengungkapkan
Harapan bersamamu kini tlah sirna
Kenangan dan diriku kini tinggal bersama
Tak ada lagi canda tawa saat berdua
Hanya air mata yang mampu berbicara
*****
"Mau masuk ke dalam minum teh terlebih dahulu?" Tawar Fiona sebenarnya dia belum mau berpisah dari Dave entah apa penyebabnya sejak sampai di gerbang mansion perasaannya sedikit kacau.
"Boleh jika hanya sebentar saja, kau juga harus cukup istirahat sayang."
"Aku tahu, masuklah aku akan membuatkan teh untukmu terlebih dahulu."
Dave pun duduk di ruang keluarga. Sudah sering Dave datang berkunjung ke sini. Bahkan seluruh pelayan pun sudah tahu siapa Dave sendiri. Mereka menghormati Dave sama seperti Fiona.
Fiona pun segera membuatkan teh kesukaan Dave. Hari sudah malam para pelayan pun sudah tidur. Fiona bisa dibilang gadis yang cukup mandiri. Dia tidak terlalu banyak membutuhkan pelayan. Tak lama kemudian teh pun jadi dan Fiona segera menyusul Dave yang tengah memeriksa ponselnya.
"Teh tanpa gula untuk orang tercinta?" Ucap Fiona sembari tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Dia pun duduk persis di sebelah Dave menyandarkan kepalanya di bahu sang pujaan hati.
"Ada apa?" Tanya Dave tidak seperti biasanya Fiona bermanja-manjaan pada dirinya.
"Jangan pulang aku masih merindukanmu menginap saja disini!" Pintanya entah mengapa hatinya tidak merelakan kepergian Dave seakan-akan Dave akan pergi jauh dari hatinya.
"Tidak bisa Fiona sayang di rumah sudah banyak pekerjaan yang menanti, mungkin lain kali aku akan menginap."
Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba saja ponsel Dave berbunyi memberikan tanda bahwa sebuah pesan masuk. Dave mau tak mau pun harus melihat dari siapa pesan tersebut. Bisa saja dari salah satu penjaga ataupun karyawan di perusahaan yang sedang membutuhkan bantuan.
Saat membaca pesan tersebut tiba-tiba saja air muka Dave berubah. Dari tatapan matanya yang tajam menampilkan sebuah rasa terkejut dan sedikit bimbang. Fiona yang menyadari itupun segera menepuk ringan lengan tunangannya itu.
"Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Fiona.
"Tidak ada hanya sebuah pesan dari klienku saja." Kemudian Dave kembali menyimpan ponselnya di saku.
"Lebih baik sekarang kau istirahat Fiona jaga kesehatanmu aku akan pulang!"
"Baiklah hati-hati dijalan sayang."
Dave pun meninggalkan mansion Fiona dengan perasaan campur aduk. Dia tidak boleh Fiona mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan Fiona menatap punggung Dave yang sudah mulai hilang dari jangkauan matanya. Ada perasaan takut kehilangan setiap Dave jauh darinya.
Setelah kepergian Dave, Fiona segera naik ke lantai atas dimana kamar dirinya dan sang adik terletak. Sebelum masuk ke kamarnya sendiri untuk beristirahat Fiona lebih dulu melihat keadaan adiknya.
"Sebentar lagi kak aku masih harus menyelesaikan sedikit lagi tugasku. Mana Dave sudah pulang?"
"Baru saja dia pulang."
Grace Oswalden adalah adik Fiona satu-satunya. Hanya Grace satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Grace adalah tempatnya Fiona berbagi rasa dari sedih sampai senang. Baginya Grace adalah segalanya. Kehadirannya lebih penting dari harta yang Fiona miliki.
"Kerjakan besok saja lagi Grace ini sudah waktunya tidur." Ujar Fiona dia sangat tahu adiknya yang introvert itu mempunyai tekad yang kuat jika dia sudah memiliki kemauan.
"Tidak kak sebentar lagi."
"Memangnya apa yang sedang kau buat Grace?" Tanya Fiona penasaran.
"Sebuah desain taman bermain karena kelak aku ingin membuatnya untuk anak-anak yang kurang mampu. Jadi mereka tidak perlu membayar jika ingin masuk ke sana." Grace sedikit berbeda dengan Fiona. Jika Fiona lemah lembut sedangkan Grace sedikit kasar. Dia memilih menjadi arsitektur daripada orang-orang kantoran yang bekerja di balik meja.
"Wow itu sangat bagus Grace. Oh ya aku punya sebuah kabar baik untukmu!"
"Apa?" Tanya Grace yang tampak antusias kini fokusnya sudah tidak pada laptop lagi. Dia tampak memandang wajah ayu kakaknya yang terlihat semburat merah karena malu.
"Dave melamar ku." Ungkapnya sembari menunjukkan sebuah cincin berlian yang bertengger di jari manisnya.
"Selamat kak aku sangat senang mendengarnya, kau sebentar lagi akan menikah dengan Dave jadi tidak perlu galau curhat mengenai wanita-wanita yang sengaja menggoda Dave."
Mereka pun tertawa bersama. Meski sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua tapi kehadiran Fiona sudah cukup untuk menjadi orang tua tunggal bagi Grace.
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
"Sekitar enam bulan lagi. Apa kau tidak apa-apa jika aku akan menikah dalam waktu yang singkat itu?" Tanya Fiona tampak masih ragu.
"Hei kak Fio aku sudah bukan anak kecil lagi jadi tidak perlu mencemaskan aku."
"Baiklah kalau begitu besok kakak akan mentraktir makan siang. Apa kau bisa?"
"Tentu saja bisa tapi setelah kuliahku selesai."
"Oke sekarang tidurlah adiknya kakak yang paling manis ini. Selamat malam!"
"Malam kak Fio."
Fiona pun pergi dari kamar Grace dan menuju ke kamarnya sendiri yang berada disebelahnya. Dia pun segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama bergambar kucing. Setelah itu dia merebahkan dirinya memandang langit-langit kamar.
Dave sudah pulang beberapa waktu lalu tapi kenapa belum memberinya kabar. Biasanya laki-laki itu akan memberinya ucapan selamat tidur untuknya. Tetapi kenapa sampai sekarang ponselnya juga belum berdering.
Fiona pun hanya bisa menghela nafasnya, matanya sudah merasakan kantuk yang amat sangat tapi kenapa hatinya malah risau tak menentu. Karena tubuh dan pikirannya sudah lelah dia pun tertidur.
Sangat tengah menyelami alam mimpi, Fiona di kejutkan dengan dering ponselnya. Suaranya begitu memekakkan telinga.
"Halo?" Sapanya dengan suara parau khas bangun tidur.
"Nona tuan Dave meninggal dunia." Suara seorang laki-laki diseberang sana.
Fiona masih terdiam, membeku dengan ucapan seorang pria di telepon itu. Dia pun segera menepis begitu saja. Mana mungkin Davenya meninggal. Dia tahu Dave adalah pria kuat yang tidak akan tumbang dengan mudah.
"Kau jangan bercanda!" Kesalnya setelah mendapat kesadarannya dengan penuh.
"Maaf nona saya tidak bercanda. Jika nona tidak percaya bisa datang langsung ke rumah sakit." Suara orang diseberang sana juga tampak kacau. Fiona baru menyadari jika itu adalah suara Jack asisten dari Dave.
"Mana mungkin ini pasti hanya bercanda!" Batin Fiona tapi entah kenapa dia malah menangis, air matanya merembas keluar begitu saja tanpa tahu malu.