
Saati itu, dia langsung menghampiri Ruka. Saat Ruka langsung menyembunyikan apa yang dia tulis, tapi Haru berpura-pura tidak tahu.
"Kenapa belum istirahat? Ini mau istirahat. Kalau perlu sesuatu, panggil aku," kata Haru.
Saat Ruka sedang istirahat, Haru menerima telepon. "Cepat bicara, kamu tidak perlu saya lagi? Kamu harus ingat ini baik-baik, saya tidak perlu kamu lagi dan jangan pernah muncul dari hadapanku," kata seseorang di telepon tersebut.
Haru langsung memutuskan panggilannya, dan tanpa dia sadari, Ruka mendengar semuanya. Saat itu, dia mulai curiga dan merasa Haru masih menyembunyikan sesuatu darinya.
Ruka yang tidak mau Haru curiga padanya langsung kembali ke tempat tidur dengan penuh air mata. Saat itu, Haru yang ada di luar khawatir perempuan tadi akan datang di hadapan Ruka dan mengatakan semuanya, tapi tanpa berpikir panjang, dia langsung masuk supaya tidak membuat Ruka curiga saat itu.
Beberapa hari berlalu. Saat Ruka sedang menunggu Haru pulang, di depan pintu ada kotak dan sebuah surat yang bertuliskan "Kamu akan terkejut melihat apa isi itu."
Ruka yang merasa penasaran langsung membuka kotak itu dan isi kotak tersebut adalah foto Haru dengan seorang perempuan yang sedang berpelukan. Tidak hanya itu, kalung yang Ruka berikan tidak dipakai oleh Haru di foto tersebut. Ruka yang mulai menangis tiba-tiba dapat sms dari seseorang, "Kamu sadar dia sudah membuang kalung kamu yang murah itu." Semua itu langsung dibuang Ruka ke tempat sampah dengan perasaan kecewa, dan Ruka langsung kembali ke kamar dan mengunci pintu.
Dia merasa bodoh terlalu percaya pada Haru dan dia turun dari kursi roda, memaksa untuk berjalan dan membuang kursi roda pemberian Haru. Sepanjang malam, Ruka menangis dan terdiam.
Tidak lama kemudian Haru pulang dan mba berlari menghampiri Haru. "Pak, Non Ruka dari tadi mengunci pintunya," kata mba.
"Kenapa bisa?" tanya Haru. "Tadi sekitar jam 08.00 Non Ruka dapat kotak di depan pintu. Saya tidak tahu isinya apa, tiba-tiba Non Ruka menangis. Tapi pas saya mau ambil barang itu sudah tidak ada, Pak," jelas mba.
Haru langsung berlari ke kamar Ruka. Dia terus menerus memanggil Ruka tapi tidak ada suara. Dengan paksa, Haru mau mendobrak pintu. Tiba-tiba Ruka berteriak dari dalam, "Jangan masuk, biarkan aku sendiri," kata Ruka sambil menangis.
"Ruka, ini aku Haru. Buka, tolong ya dan cerita apa masalahnya," pinta Haru.
"Enggak, aku tidak perlu penjelasan kamu," jawab Ruka.
Panik dan takut, itu yang dirasakan Haru saat ini. Dia berpikir apa kesalahannya, tapi Haru tidak ingat. Tidak lama kemudian, telepon Haru berbunyi. "Boss, mereka yang bermasalah waktu itu sudah di markas. Baiklah, saya kesana sekarang," kata anak buah Haru.
Haru pamitan pada Ruka, tapi Ruka tidak bersuara lagi. Sesampainya di markas, salah satu anak buah Haru bersuara, "Boss, maaf saya lancang. Kemana kalung Boss yang diberikan kekasih Boss? Seketika Haru langsung mengingatnya.
Saat di luar negeri waktu lalu, Haru pada saat menang proyek besar dia minum-minum bersama para tamu. Tanpa dia sadari, ada seorang perempuan yang membawahnya ke kamar. Saat pagi tiba, Haru yang tidak mengingat kejadian semalam merasa baik-baik saja. Saat dia sadar, Haru cepat kembali ke rumah dan dia menyuruh menghabisi para pembuat masalah itu.
Sesampainya di rumah, Ruka tidak juga membuka pintu, tapi dengan terpaksa, Haru mendobrak pintu kamar Ruka. Saat terbuka, Ruka duduk di jendela tanpa pegangan. Haru yang panik ingin menurunkan Ruka tapi dia berkata, "Jangan mendekat."
"Tapi kamu?" tanya Haru.
"Kubilang jangan mendekat. Oke, aku tidak mendekat, tapi kamu turun," ujar Ruka.
Ruka pun langsung turun dan kembali ke tempat tidur. Haru langsung bersujud dan meminta maaf pada Ruka, tapi Ruka hanya diam.
Seketika Haru menangis di depan Ruka tanpa henti, dan tiba-tiba Ruka berbicara. "Kamu tidak perlu minta maaf, ini salah aku karena aku cacat tidak sempurna seperti yang kamu inginkan, tapi aku akan mengganti semua apa yang sudah kamu berikan."
"Ruka, kamu jangan berkata seperti itu. Itu semua tidak benar dan aku mencintai kamu tulus apa adanya," kata Haru.
Haru belum selesai bicara, Ruka sudah menyuruh keluar dengan berat hati, Haru pun keluar. Haru tidak mau Ruka salah paham terus menerus dan dia menyuruh anak buahnya untuk mencari perempuan itu.
"Cari perempuan itu bawah dia padaku," kata Haru dengan sangat marah. Satu minggu berlalu, Ruka hanya mau makan ditangan mba dan makanan pemberian Haru dibuang Ruka. Saat di kamar, mba berusaha bercerita pada Ruka.
"Non, apa non sebenci itu pada Pak Haru?" tanya mba.
"Saya tidak membencinya, mba. Tapi saya terluka saya melihat foto dia berpelukan dengan perempuan lain. Dan yang lebih parah dia membuang kalung pemberianku, mba," jawab Ruka.
Haru yang mendengar dari luar tiba-tiba mendapat telepon. "Boss, Non Ruka tidak ada di kamarnya. Saya sudah mencari seluruh ruangan di rumah tidak ada, dan Non cuma meninggalkan surat untuk Bapak," kata anak buah Haru.
Haru langsung cepat ke bawah mobil. Sesampainya di rumah, dia membaca surat tersebut. "Aku tahu aku tidak begitu pantas untuk kamu. Aku tidak sempurna, Haru. Aku cacat. Aku sudah mencoba meyakinkan diri aku bahwa kamu tidak akan pergi atau melakukan apapun dengan perempuan lain, tapi kamu mengingkari semua itu. Aku pergi supaya kamu tidak malu punya diriku dan bisa bersanding dengan perempuan yang bersama kamu malam itu," tulis Ruka dalam surat tersebut.
Haru terjatuh menampar dirinya sendiri, tapi dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Ruka dalam keadaan apapun. Lalu dia telepon anak buahnya, "Kalian belum juga menemukan perempuan itu? Malam ini dia harus di hadapan saya. Jika tidak, kalian kubunuh."
Dari siang hari sampai malam, Haru tidak menemukan Ruka dimanapun. Dia tidak bisa hidup tanpa Ruka. Anak buah Haru mengirimkan SMS, "Boss, dia sudah di gudang, biasa boss. Saya akan segera kesana."
Kesimpulan
Seorang penulis profesional harus selalu memperhatikan tata bahasa dan ejaan yang benar untuk menuliskan sebuah teks. Dalam mengedit teks, penulis harus memperbaiki kesalahan tata bahasa dan ejaan serta mempertahankan gaya penulisan asli dari teks tersebut. Tujuannya agar pembaca dapat memahami teks dengan mudah dan jelas tanpa kehilangan gaya bahasa asli dari teks yang ditulis.
Sesampainya di gudang, Haru langsung mencekik perempuan itu, dan berkata, "Aku tahu niat busukmu. Cepat katakan siapa yang menyuruhmu atau kau habisi orang tersayangmu itu".
"Aku tidak akan mengatakan apapun padamu".
"Baiklah, ikat dia. Baik boss".
Berhari-hari Haru terus mencari Ruka, di manapun dia mencari, Haru tidak putus asa untuk mencari keberadaan Ruka. Mba yang takut Haru jatuh sakit, menyuruh Haru pulang, dan sesampai dirumah, Haru masuk ke kamar, dan memandangi foto Ruka dengan penuh air mata, dan Haru pun tertidur.
Haru kembali menjalani kesibukannya di kantor, tapi saat masuk di kantor, Haru tidak sengaja mendengar teman Ruka bercerita tentang Ruka.
"Aku bingung harus bagaimana jika Pak Haru tanya tentang Ruka. Kamu jawab jujur saja, daripada dapat masalah".
Haru masuk ke ruangannya, dan memanggil teman Ruka itu untuk menanyakan di mana Ruka.
"Dimana Ruka? Saya mohon beritahu saya".
"Tapi... Pak, eh saya harus mulai dari mana ini. Begini, Pak, Ruka tidak di rumah saya, tapi dia di rumah sakit".
"Kenapa bisa?"
"Saya juga tidak tahu. Saya hanya di telepon rumah sakit dan dia koma sekarang, Pak".
Haru yang terkejut langsung pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menanyakan apakah ada pasien bernama Ruka, dan ternyata ada. Saat dia ingin masuk, dokter menahannya.
"Kamu siapa?"
"Saya kekasihnya, dok. Saya beritahu kamu. Saya bertemu dia di pinggir jalan sedang di bully oleh beberapa anak perempuan dan laki-laki. Untung ada saya, jika tidak mungkin kekasih Anda tidak bisa diselamatkan".
"Terus kondisinya, dok?"
"Dia belum sadarkan diri beberapa hari ini".
"Makasih, dok".
Haru masuk ke ruangan Ruka, melihat dia tak berdaya, dan apa yang Haru lakukan pada malam itu membuat Ruka jadi seperti ini. Jika Haru tidak dengan wanita itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Dari saat itu, Haru terus menemani Ruka, tidak pernah meninggalkan Ruka sedetik pun.