Fell In Love With A Mafia Boss

Fell In Love With A Mafia Boss
JARAK JAUH



Haru dan Ruka makan siang bersama di rumah. Di meja makan, mereka berdua bercerita apakah Haru punya seorang teman atau sahabat. Haru mengatakan dia tidak punya teman ataupun sahabat karena dari waktu sekolah haru dibully oleh teman-temannya. Seketika Haru terdiam dan teringat waktu Ruka pertama kali membelanya. Namun, Haru tidak ingin cerita pada Ruka karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada Ruka.


"Haru, kamu kenapa?" tanya Ruka.


"Tidak apa-apa," jawab Haru.


Mereka berdua melanjutkan makan mereka. Tiba-tiba saat Haru mengajak Ruka istirahat, suara telepon Haru berbunyi. "Iya, ada apa? Pak, klien kita dari luar negeri ingin bertemu besok malam karena harus membahas proyek yang besar. Bagaimana, Pak? Nanti saya ke kantor."


Haru terdiam lagi dan memikirkan bahwa dia tidak mau meninggalkan Ruka sendiri. "Ada apa? Nanti aku ceritakan sebentar yah, sekarang kamu istirahat dulu."


Setelah Haru membawa Ruka, dia langsung ke kantor untuk membahas proyek tersebut. "Apa tidak bisa dia datang kemari?"


"Tidak bisa Pak, kami sudah bilang begitu tapi beliau tidak mau. Baiklah, kita pergi besok malam."


Sore hari, Haru langsung balik ke rumah. Sesampainya di rumah, dia langsung mengatakan pada Ruka, "Hei, aku sudah pulang. Eh, ada apa? Kenapa sedih begitu? Begini, aku harus keluar negeri besok malam untuk proyek besar, tapi aku tidak mau meninggalkan kamu."


Tiba-tiba Ruka berpikir untuk ikut. "Aku ikut kamu boleh? Tapi kalau tidak boleh, tidak apa-apa."


"Boleh, kamu ikut."


Ruka dan Haru merasa senang dan mereka berdua langsung siap-siap. Saat malam tiba, Ruka sangat senang sampai Haru mengingatkannya untuk minum obat. "Hallo, sangat senang sampai lupa minum obat yah? Oh iya, hehe maaf yah."


Besoknya pagi, ada kabar buruk. Ruka harus dilari ke rumah sakit karena kakinya tiba-tiba merasa sakit.


Haru begitu panik saat menunggu Ruka keluar dari ruang periksa. Dokter pun keluar, "Begini kekasih anda belum pulih total dan dia tidak bisa pergi jauh. Apalagi dia jarang sekali minum obat, tapi dokter tiap hari dia minum obat. Itu menurut bapak, tapi beberapa hari lalu kekasih anda di bawah sini dan asisten rumah bapak bilang, dia sering melihat kekasih bapak ini membuang obat dan menangis, mungkin ada yang dia pikirkan? Saya juga tidak tahu dok."


Haru panik karena dia tidak mengetahui semua itu. Haru langsung memanggil mba ke rumah sakit untuk menanyakan semua itu. Mba tiba di rumah sakit dan Haru menanyakan apa yang terjadi.


Saat Ruka menunggu Haru pulang dari kantor tiap malam, Ruka merasa Haru tidak akan kembali, jadi dia membuang obat itu. Tiap malam saat Haru pulang sangat larut, Ruka melakukan itu karena dia berpikir Haru tidak akan kembali karena dia cacat. Dan senyuman Ruka di depan Haru itu hanya palsu, yang sebenarnya dia merasa takut dan gelisah sampai dia memaksakan jalan waktu itu sampai kakinya sakit.


Semua diceritakan mba pada Haru, lalu Haru merasa hilang akan apa yang harus dilakukan. Padahal, malam nanti dia harus keluar negeri untuk kerja, tapi dia tidak mau meninggalkan Ruka sendiri.


Saat malam tiba, Haru juga harus pergi. Dia berpamitan pada Ruka, "Hei, aku pergi dulu yah, berapa lama? Hanya 2 minggu. Baiklah, hati-hati. Kalau sudah sampai, telepon aku yah?"


"Iya, pasti," jawab Ruka.


Haru berangkat dengan berat hati. Di tempat berbeda, Ruka diantar pulang oleh mbanya. Setibanya di rumah, Ruka merasa sepi, tapi dia mengatakan pada dirinya sendiri, dia harus kuat, dia harus bisa menunggu Haru pulang.


Haru langsung makan dan minum obat. Saat dia kembali ke kamar, ada kotak kecil di jendela tempat biasa Ruka melihat keluar. Kotak itu berisi surat yang ditulis Haru, "Tunggu aku, aku pasti kembali. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak, dan jaga kesehatanmu. Aku akan bawakan hadiah untukmu saat balik nanti."


Ruka merasa sedih dan mengatakan, "Ia, aku pasti tunggu kamu."


Dua hari telah berlalu, Ruka menjalani kebiasaan baru tanpa Haru, seperti menyiram tanaman, belajar berjalan dan lebih sering cek kedokteran. Pada hari ketiga, Ruka kembali ke dokter untuk mengecek kondisi kakinya.


"Dokter, bagaimana keadaan saya?" tanya Ruka.


"Saya bahas dulu operasi kepala kamu waktu itu ya? Iya, 80% sudah membaik dan itu bagus. Wah, makasih dok (nada senang). Kaki saya gimana?"


"Kaki kamu 70% tidak bisa berjalan, tapi itu tidak pasti," jawab dokter.


Tiba-tiba Ruka pucat. "Kamu baik-baik saja, Ruka?" tanya dokter.


"Apa saya perlu telfon kekasih kamu Haru?" tanya dokter.


Ruka keluar dari ruangan dokter langsung menangis dan langsung meminta mba untuk pulang. Setibanya di rumah, mba khawatir, jadi dia menanyakan apa yang terjadi.


"Non, kalau saya boleh tahu, ada apa?" tanya mba.


Ruka langsung mengatakan apa yang dikatakan dokter tadi. Mba terkejut tapi sekali Ruka membuat mba berjanji untuk tidak cerita pada Haru.


Dari siang sampai malam, Ruka tidak turun ke bawah, bahkan makan minum dan obatnya di bawah, mba ke atas. Satu minggu berlalu, Ruka tidak keluar sama sekali. Dia hanya berdiam di kamar dan menangis memikirkan masa depan dia dan Haru, memikirkan apakah Haru bisa bersama dia yang cacat. Padahal Haru sudah mengatakan pada Ruka bahwa dia mencintai Ruka apa adanya, apapun yang terjadi. Namun, di posisi Ruka saat ini, dia merasa dia tidak mau Haru ditertawakan oleh klien-klien nya karena dia punya kekasih yang cacat.


Setelah sepuluh hari berlalu, mba atau asisten rumah merasa dia tidak bisa lagi menyembunyikan ini pada bapak Haru. Dia merasa tidak enak, maka mba langsung menelepon bapak Haru. Namun, yang angkat adalah anak buah Haru.


"Bapak Haru ada? Bapak Haru sedang sibuk. Ada yang mau dikatakan?" tanya anak buah Haru.


"Oh, tidak usah. Nanti saja," jawab mba.


Saat sore hari tiba-tiba Haru telepon lagi pada Mba, dan Mba langsung mengangkatnya. "Iya ada apa Mba? Tunggu sebentar Pak, saya cari tempat sepi takutnya Non Ruka dengar. Sudah?"


"Begini Pak, tiga hari setelah Bapak pergi Non Ruka ke rumah sakit untuk mengecek keadaannya dan kata dokter kalau soal masa lalu yang dia lupakan itu akan segera sembuh, tapi soal kakinya (nada sedih) ada apa Mba? Ehh kata dokter, 70% Non Ruka tidak bisa jalan lagi Pak, dan itu membuat Non Ruka sedih bahkan tidak mau turun, cuma dalam kamar terus. Dan saya harus panggil dokter ke rumah untuk mengecek keadaannya."


"Tapi ada yang lebih parah Pak, apa?"


"Non Ruka hampir gantung diri waktu itu karena Non Ruka merasa dia tidak mau Bapak dipermalukan karena punya kekasih cacat, begitu Pak."


"Terus dia ngapain?"


"Syukur Pak tidak. Haru yang jauh bingung harus berbuat apa dan tidak mungkin balik karena dia sudah tanda tangan kontrak. Tapi Haru berpikir dia akan menyelesaikan ini dengan cepat agar bisa balik dengan cepat."


Sampai pada tiba 1 hari sebelum Haru baik... hari ini adalah hari Haru akan dengan sah menerima proyek besar itu, tapi saat menerima berkas, teleponnya berbunyi. Haru melihat dan itu ternyata Mba. "Pak, gawat. Non Ruka di bawah di rumah sakit, ini saya bersama Non Ruka. Berikan pada Ruka. Aku akan balik sekarang. Kamu jangan khawatir yah. Nga usah aku baik-baik saja."


"Nga aku harus balik?" (nada panik)


"Nga usah, kamu kan akan balik besok dan kita akan bertemu besok. Dan kamu harus janji kita akan bertemu besok. Kalau kamu datang sekarang, aku akan pergi dari kamu. Oke, aku akan balik besok."


Haru yang dengan berat hati harus menepati janjinya pada Ruka dan menerima berkas berhasil, tapi Haru merasa gagal karena dia ingin pulang dengan Ruka keadaan baik-baik saja, tapi nyatanya dia sakit.


Besoknya, Haru sudah tiba di bandara dan langsung cepat ke rumah sakit. Ternyata, Ruka sudah di rumah. Haru yang masih di rumah sakit menanyakan kondisi Ruka. "Bapak, tenang saja. Dia sudah baik-baik saja. Dia hanya drop beberapa hari dan sekarang kondisinya sudah membaik. Makasih Dok."


Haru langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia melihat Ruka sudah menunggu di depan pintu dengan memegang bunga. Haru berlari memeluk Ruka dan mengatakan, "Maafkan aku, aku pergi begitu lama sampai membuat kamu khawatir."


"Iya, aku kan sekarang tidak apa-apa. Kamu tenang saja yah."


Ruka dan Haru pun masuk ke dalam rumah untuk bersih-bersih dan makan siang. Selesai mereka makan, Haru mengajak Ruka ke taman belakang rumah untuk memberikan hadiah dan mengatakan sesuatu. "Aku punya hadiah buat kamu. Ini, baju ini kan yang... Kamu tahu dari mana?"


"Aku baca chat kamu dengan teman kamu dan aku lihat kamu suka baju ini tapi mahal, jadi aku hadiahkan buat kamu. Makasih Haru." (nada sangat senang)


Haru pun langsung mengatakan, "Aku sudah dengar semua dari Mba dan perlu kamu tahu, aku mencintai kamu apa adanya. Aku tidak peduli aku di permalukan, yang penting bukan kamu yang di permalukan. Kalau kamu tidak bisa berjalan, aku akan selalu buat kamu. Always buat kamu."


"Tapi kan, nga ada tapi-tapi aku akan selalu buat kamu. Makasih Haru. Sekali lagi kamu buat aku tenang."


Dalam hati, Ruka merasa beruntung punya Haru yang menerima dia dengan segala kekurangannya. Dan Haru pun badan Ruka istirahat di kamar. Saat Haru keluar, Ruka menulis diary, "Aku beruntung punya Haru yang beruntung juga memiliki aku dengan segala kekurangan-ku. Aku tidak akan kecewakan dia. Aku akan selalu bersama Haru."


Tanpa dia sadari, Haru melihat dari luar ruangan dengan tersenyum.