
"Mau buat apa, Kak?" Delisa bangun dari rebahannya dan menghampiri Aira yang tengah sibuk di dapur. "Udah cocok nih,"
"Cocok apaan?" Aira mengerenyit, tangannya terus mengaduk adonan yang sedang di buat.
"Jadi istri? Beuh kalau aku yangg di suami sama om Andri, udah aku sikat," kekeh Delisa.
"Main sikat-sikat aja kamu, Del."
"kayaknya enak tuh, Kak?"
"Iya enak kan kamu tinggal makan nanti. Bantuin kali!"
"Iyaaaa"
Dua loyang cupcake masuk ke dalam oven. Mengatur suhu dan memasang timer. Sambil menunggu matang dia membersihkan alat-alat yang dia pake tadi.
"aku pulang dulu, takut dimarahin sama Ibu Ratu." Delisa pamit.
Sebentar lagi adzan maghrib, Aira pun memilih mandi dan bersikap melakukan ibadah tiga rakaat. Setelahnya dia menyiapkan apa yang akan dimasak untuk makan malam. Meski sendiri dia tetap hidup dan makan teratur.
Sehat itu mudah tinggal ikuti aturan tapi untuk kembali sehat perlu rupiah banyak. Sayangi nyawamu sebelum malaikat Izrail menjemput.
Dalam kesendirian kadang rindu pada orang tua selalu datang tanpa diundang. Mengalirkan butir kerinduan, merebak dan mengajak sungai. Ah andai Bapak tak mengacuhkan dirinya karena perubahan sikap yang dia tunjukkan. Sikap itu ditunjukkan sebagai bukti protes pada sikap yang lebih dulu berubah. Ibarat kata tak mungkin ada asap kalau tak ada api.
Lalu, siapa yang perlu dipersalahkan? Kedua orang tuanya yang memilih perpisahan dan memberikan luka pada Aira remaja, atau takdir baik yang tak lagi berpihak. Semua berjalan terasa begitu cepat.
Perasaan baru saja kemarin Aira memamerkan nilai akademiknya pada Ibu dan Bapak. Mereka tersenyum bangga. Setiap hadiah yang Aira terima tentu karena keberhasilannya dalam belajar.
Langit terasa runtuh, badai mulai menghantam saat pertengkaran-pertengkaran kedua orang tuanya mulai terdengar. Bahkan tangan pun sampai ikut bicara.
Aira yang sebelumnya tumbuh pada kelembutan kasih sayang mulai terganggu. Dia mulai malas belajar, nilai akademik sepertinya tak lagi dia butuhkan. Sering pulang terlambat karena memilih main di rumah teman sebaya-nya demi tak melihat pertengkaran itu. Tak jarang kedua orang tuanya harus bolak-balik menghadiri panggilan dari pihak sekolah. Hingga akhirnya badai itu benar-benar datang dan menghancurkan. Rumah tangga kedua orang tua Aira yang tadinya kokoh karena berpondasi pada agama dan kasih sayang telah hancur, sehancur-hancurnya. Hanya menyisakan puing-puing kebahagiaan yang kini tak lagi utuh. Apa yang dilihat seorang anak dari orang tua maka itu yang akan lebih lekat pada nadi sang anak. Jangan lupa pada kalimat monkey see, monkey do.
Saat menginjak duduk di bangku SMA, Aira kembali memperbaiki semuanya. Tentu dengan harapan semua akan kembali membaik. Orang tua yang utuh serta kasih sayangnya. Sayang, harapan hanya tinggal harapan. Bapaknya bukan kembali membawa sang Ibu tetapi malah membawa wanita lain beserta buntutnya. Bahkan bapaknya terlihat jauh lebih bahagia. Segala perasangka buruk pun tak bisa dielakkan. Ibu dan Bapaknya berpisah karena ada orang ketiga. Aira menangis tersedu di dalam kamar yang gelap. Tak ada cahaya maupun harapan.
Harapan yang dia pupuk seketika layu bahkan mati. Ini benar-benar menyakitkan. Jarak antara Aira dan Bapaknya semakin jelas terbentang. Apalagi saat kejadian dimana bapaknya tak menghiraukan dirinya yang ingi menunjukkan nilai tetapi bapak malah meninggalkannya dengan alasan Aida sangat membutuhkan dirinya.
"Bukan hanya Aida yang butuh bapak, Aira pun butuh," jeritnya dalam hati. Dia hanya mematung melihat langkah bapak yang begitu tergesa-gesa tanpa menoleh lagi. Hanya bi Atik-pekerja di rumahnya yang berusaha menenangkan saat itu. Mengusap bahu yang mulai berguncang.
"Cing kiat geulis, tong hariwang. Insya Allah salami bibi sehat neng tiasa ngadu ka bibi," ucap Bi Atik kala itu.
"Bu," pelan Aira berucap. Berharap sosok itu bisa merasakan kerinduannya. Butir bening terlihat menggenang. Lama Aira duduk di atas sejadah bersama kerinduan yang entah kapan akan berlabuh.
Suara benda jatuh menyadarkan Aira bahwa ia sudah terlalu lama duduk di sana. Segera dia lipat mukenah dan bergegas menghampiri sumber suara tadi. Saking lamanya dia menaratapi rasa rindunya bahkan alarm tanda cupcake's sudah matang pun terdengar. Memanggil si empunya untuk segera mengeluarkannya dari dalam oven.
Penasaran dengan suara seperti barang jatuh tadi tapi nasib cupcake ada di tangannya. Ibarat kata "maju jurang mundur longkrang."
Segera Aira matikan oven dan mengeluarkan isinya. Aroma dari rasa cupcake yang dia buat begitu menguar. Menggoda untuk segera dihabiskan.
Teringat dengan suara benda tadi, Aira segera melangkah untuk memastikan apa yang terjadi. Khawatir akan sesuatu yang membahayakan. Apalagi dia hanya tinggal sendiri. Pada siapa dia akan minta tolong nanti andai sesuatu yang buruk menimpanya. Bapak? Akankah lelaki tua itu masih memedulikannya.
Pintu rumah didorong dari luar membuat Aira berjingkat kaget saat hendak memutar handle pintu. "Astagfirullah, Delisa," pekik Aira saat melihat sosok itu muncul dengan wajah tanpa dosa.
"Pake Astagfirullah segala, kayak ngeliat hantu aja, Kak." neyolonong ke dapur mencari sumber yang ditangkap indra penciuamannya. "Cupcake." Gadis itu bersorak membuat Aira melupakan niatnya mencari tahu apa yang didengarnya tadi. "Minta ya," lanjutkan sambil mencomot cupcake yang masih panas.
"Gimana mau gak diizinin, Del. Wong kamu aja lebih dulu mencomot sebelum diberi izin."
"Maaf," Delisa memasang wajah bersalah tapi Aira tak menjawab. Sekali-kali tak apa jika gadis itu dia kerjai. Giliran prosesnya dia malah asyik skrol layar ponsel, giliran mateng dia lebih dulu mencicipi. "Gak dimaafin nih? Pamali loh orang minta maaf tapi malah diacuhkan."
Aira mendelik, masih acuh.
"Lebih baik minta maaf dari pada minta izin, itukan yang Kak Aira katakan padaku waktu itu." Delisa menarik turunkan alisnya menggoda Aira.
Aira tertawa melihat tingkah Delisa. Padahal usia mereka tak begitu jauh, tapi Aira merasa senang dengan sikap Delisa yang bertingkah tak sesuai dengan usia. Tingkah absurd serta ceplas-ceplosnya Delisa selalu menjadi hiburan gratis bagi Aira. Tunggu, bukan gratis karena nantinya Delisa selaku minta bayaran padanya.
Untuk bahagia itu mudah, kita hanya perlu melepaskan hal-hal yang dianggap ribet. Tak perlu mahal, tak perlu mewah kalau hal kecil pun bisa membuat kita tertawa lepas.
Hakikatnya bahagia itu tak selalu berpijak pada hal mewah dan mahal, pun dengan kesengsaraan dan kesedihan. Ada yang kaya dengan harta tapi mereka tak bahagia karena pasangan mereka mengujinya. Ada yang miskin harta tapi mereka bahagia, kalimat syukur selalu terdengar dari bibirnya. Semua terletak pada cara bagaimana kita mensyukurinya.
Semuanya sama. Sama-sama mendapat ujian, hanya saja bentuknya berbeda-beda. Bersyukur itu indah bukan? Sudahkah kamu bersyukur hari ini?
.
.
.
. Terima kasih manteman untuk bentuk dukungan yang kalian berikan pada author retjeh ini 😊 peluk dan cium dari jauh ya.