Fatal

Fatal
20



Aria pulang diantar oleh Andri, padahal tadi sudah menolak dan mengatakan ingin mampir ke suatu tempat sebagai alasan.


Andri yakin itu hanya sebuah alibi seorang Aira agar bisa menjauh. Kepalang tanggung, lelaki itu tak akan melepaskan Aira. Akan dia tempuh berbagi cara untuk kembali menarik hati perempuan yang tenang duduk sambil menatap keluar.


"Jadinya mau mampir kemana dulu?" Lelaki itu mencoba membuka obrolan. Mobil sudah menjauh sekitar dua kilo meter dari rumah Reya.


Jangankan untuk berbincang, melihat orang yang kita benci bernafas di dekat kita saja, kita anggap salah. Mobil melaju semakin jauh.


Andri melirik, "awet banget marahnya." Masih tak ditanggapi oleh Aira.


"Ra." Andri meraih tangan Aira yang ada di atas tas yang dipangku. Aira menepisnya.


"Jangan pernah mencoba menyentuhku. Menjijikan," ucap Aira ketus. Bahkan perempuan itu mengeluarkan botol air minum yang selalu dia bawa. Membasuh tangannya setelah kaca mobil diturunkan.


"Apa aku sekotor itu?"


"Jelas, kamu adalah pria beristri yang tak seharusnya menghinakan aku." Masih terdengar nada ketus Aira.


"Ra, izinkan aku menjelaskan lebih dulu. Aku tidak bermaksud menghinamu."


"Tidak bermaksud? Apa bedanya aku dengan wanita tuna susila di luar sana? Kamu pikir dong. Kamu itu pria beristri lalu dengan santainya kamu mendekatiku. Bahkan berani merangkai kata indah agar aku tersipu bahagia. Padahal nyatanya kamu sedang memberi madu yang ditaburi racun. Dan bodohnya... aku menerima."


Satu kata keluar dari mulut lelaki, maka akan dijawab seribu kata oleh perempuan.


"Jadi gini Aira, dengarkan aku. Sebenarnya aku itu..."


"Jangan lanjutkan ucapanmu. Aku tau kamu akan mengeluarkan kalimat apa. Tantunya pembelaan tapi maaf aku tidak menerimanya."


Ah waktu benar-benar terasa singkat bagi Andri. Dia belum menjelaskan tapi Aira sudah lebih dulu turun. Sebelum pintu ditutup, Aira menatap Andri dengan tatapan kecewa. "Lebih baik seorang duda dari pada pria beristri. Jangan pernah temui aku. Kisah kita tak pernah ada dan hari kemarin pun tak pernah terjadi."


Andri benar-benar panik dia pun berusaha mengejar Aira tapi perempuan itu lari lebih cepat. Bahkan pintu rumah tempat tinggal Aira sudah tertutup rapat dan lampu sudah di matikan.


Tak habis akal, masih ada ponsel yang bisa ia gunakan. Dia pin mencoba melakukan panggilan. Berdering tapi tak diangkat. "Ayo lah, Ai, dengarkan dulu penjelasanku. Kita bicara dulu." Pesan terkirim, hanya centang dua abu.


"Buka pintunya. Kamu akan paham kalau mndengar penjelasannya lebih dulu." terkirim, tapi masih seperti pesan sebelumnya.


"Ai, please." Masih berusaha mengirim pesan tapi sekarang ceklisnya hanya satu dan foto profil whatsapp Aira sudah berubah menjadi putih. Aira sudah memblokor nomor Andri.


"Sial," umpat Andri. Masih belum menyerah dia pun mengetuk beberapa kali pintu itu. Sungguh mengganggu sampai Ibu dan Delisa menghampiri.


"Anda apak nak Andri? Nyari Aira ya? tadi Aira kirim pesan ke ibu katanya dia mau ke rumah teman SMPnya dulu. Mungkin belum pulang," papar ibu. Tidak tahu saja mereka kalau Aira sudah di dalam dan mendengar percakapan mereka dari sofa ruang tengah yang lampunya sudah dimatikan.


Sedangkan Delisa menangkap ada yanh tidak beres dari sorot lelaki yang tengah berdiri delat pintu itu.


"Iya, mungkin dia nginep di sana. Kan maklum kalau berteman teman yang lama terpisah itu banyak yang ingin dibicarakan. Kalau ada yang penting, boleh ibu bantu teleponkan?" Baik hatinya perempuan itu,


"Tidak usah bu, saya akan coba telpon sendiri. Saya izin pulang aja bu," pamit Andri.


"Ya memang lebih baik pulang dari lada buat kegaduhan. Yang matanya hampir terpejam aja langsung terperanjat gara-gara ketukan itu," ucap Delisa.


"Hus Delisa." Ibu menegur sikap Delisa yang menurutnya kelewat tidak sopan. "Maaf yan nak Andri. Faktor ngantuk," canda Ibu berusaha mencairkan suasana.


Andri pun meninggalkan tempat itu dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Dia yakin setelah ini akan sulit menemui Aira. Mending kalau gadis itu masih bekerja di daerah yang sama. Bagaimana kalau justru pergi ke tempat lain. Seperti ini.


Beberapa bulan lalu Aira mengatakan kan pergi ke jogja dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan tingkat S2. Setelah banyak kalimat candaan yang keluar barulah dia tau kalau Aira pindah ternyata demi menjauhi rasa sakit karena lelaki yang dia sukai memilih saudara tirinya.


Perasaan bersalah terus mengusik Andri hingga untuk menjemput lelap pun terasa begitu sulit. Dia melirik ponsel, memeriksa pesan yang tadi dia kirim. Masih seperti semula.


***


Kesal, marah, kecewa, dan malu bercampur jadi satu. Air mata yang ia tahan sejak tadi kini tak terbendung lagi. Mengalir deras seperti sungai yang menjebol tanggul.


Beberapa notifikasi dari Andri sungguh mengganggu. Tanpa pikir panjang dia pun memblokir kontak itu serta menghapusnya.


Dia masih mendengar ketukan itu namun memilih abai. Sampai terdengar beberapa orang berbincang. Ibu, Delisa dan pria brengsek itu.


Aira merutuki kebodohannya. Entah sejak kapan dia berhenti menangis. Dia pun meringkuk di atas sofa seperti seeokor kucing yang kedinginan.


***


Hari sudah berganti bahkan terlihat cerah. Hamparan biru bersih tanpa awan begitu enak untuk dipandangi. Hangat mentari pagi pun dinikmati para penduduk bumi.


Aira sudah rapih, dia siap kembali bekerja. Toh apa yang terjadi kemarin tidak ada yang mengetahui selain mereka berdua dan tentunya Tuhan. Jadi Aira yakin hari ini dia tidak akan dibrondong pertanyaan oleh rekan kerjanya.


"Kamu cantik Aira, jadi kamu tak perlu mengharap cinta dari lelaki itu. Jangan berharap dia akan mengejar dan memperjuangkanmu. Kamu bukan siapa-siapa dan tak berarti apa pun." Aira bicara pada bayangan sendiri di cermin.


Dia pun meraih tas kerjanya dan mulai menyantap sarapan yang dia sajikan sebelum berkemas. Saat patah hati nafsu makannya bertambah. Sebab menurutnya dia perlu tenaga banyak untu menghadapi masalah itu. Kalau tidak makan maka dia akan semakin lemah dan lelaki tidak punya malu itu akan menertawakan.


Sebelum melangkah dia lebih dulu menarik nafas dalam kemudian membuang secara perlahan. Meyakinkan diri sendiri kalau hari ini akan baik-baik saja.


Dia pun mulai menjalani hari. Berat memang. Aira pun tak menampik itu. Apalagi bibit cinta sudah tersebar di lahan hatinya. Tapi hal itu tidak boleh berlangsung lama apalagi kalau sampai merugikan diri sendiri dan tentunya orang lain yang kenan imbas.


Ah, dia harus bersikap lebih dewasa meski menjadi dewasa iti sungguh tak menyenangkan.


Tumpukan pekerjaan di atas meja menyambutnya. Senyum kecut terlukis pada bibir Aira. Ini tanggung jawabnya.