
Tidak percaya pada kemampuan diri dan cenderung mengandalkan orang lain maka kita akan kepayahan saat orang itu tak ada. Sudah dikatakan dalam Al-Quran sebaik-baiknya tempat berharap adalah pada-Nya.
Kepergian Aira menjadikan beban Eeren bertambah. Beberapa orang yang dipilih untuk menjadi pengganti Aira ternyata tak sesuai keinginan. Bukan memudahkan bahkan ada yang sampai menambah beban pekerjaanya.
Eren membuang nafas kasar. Merasa capek.
"Si Aira emang belum ada kabar, Ren," tanya Anis. Mereka tengah mengisi tenaga untuk kembali pada medan pertempuran. Ya bertempur untuk memenuhi kebutuhan.
"Nomornya udah gak aktif, email pun gak pernah dibuka. Sebenarnya dia itu kenapa sih?"
"Lah kok bertanya ke kita, pan kamu yang lebih dekat dengan dia. Kerjaan kalian sama," Lia menjawab. Tangannya sibuk mengaduk es jeruk peras di mejanya.
"Emm, mungkin gak kalau perginya Aira itu ada sangkut pautnya dengan Ziad?" Anis mulai mengutarakan praduga. Bukan sekali dua kali perempuan yabg mebgikaf rambutnya seperti ekor kuda itu melihat keduanya pulang-pergi kantor bersama. Bahkan tawa Aira saat itu menunjukan kalau dia bahagia berada di samping lelaki bernama Ziad.
Di meja yang hanya terhalang dua meja, orang yang tadi namanya disebut mulai menajamkan pendengaran. Penasaran kenapa tiga perempuan yang tengah menyantap makan siang itu mengaitkan nama dirinya dengan Aira.
"Ada kemungkinan sih, ka yang kita tau selama ink Aira emang deketnya cuma sama Ziad. Bisa jadi Aira memiliki perasaan pada Ziad sementara lelaki itu tak menyadarinya." Lia menambahkan.
"He,eh aku inget, Aira mulai tak fokus kerja itu saat kabar Ziad akan melamar beredar. Bener kan?" Jiwa gosipnya mulai meronta. Hal seperti itu sering terjadi di kalangan perempuan tapi yang lebih menjaga lisan pun tidak sedikit.
"Hooh bener," yang lain ikut menimpali.
Mereka asyik membicarakan praduga sehingga tak menyadari kalau waktu istirahat mereka telah habis lima belas menit yang lalu.
Menyadari hal itu ketiganya langsung membayar dan segera kembali ke tempat kerja. Sudah pasti karena keterampilan ini mereka otomatis kehilangan poin kedisiplinan.
***
Jam kerja sudah habis, satu persatu yang mengais rezeki di sana mulai meninggalkan tempat itu.
"Eren," Ziad memanggil Eren dan yang namanya dipanggil langsung menoleh. Sejak tadi Ziad terus kepikiran soal apa yang dibincangkan oleh tiga perempuan.
"Apa Ziad Mutofifin?"
Ziad terkekeh mendengar Eren menyebut dan menambahkan namanya. "Sudah ada kabar soal Aira?" Lelaki yang menggunakan kemerja biru cerah itu berbasa-basi. Dia harus tau bagaimana perasaan Aira terhadapnya. Akan tetapi dia menyadari dia tidak boleh gegabah ada hati yang jangan sampai merasa terlukai.
"Lo kan calon iparnya, mungkin lo lebih tau soal ini." Eren menjawab sedikit ketus pasalnya dia merasa capek da ingin segera sampai di rumah.
"Lo kan temennya, biasanya cewek kan lebih terbuka ke temen ketimbang keluarga."
"Maksud lo Ziad Mutofifin, cewek kayak kita itu ember dan suka bergosip? Ngaco lo!"
"Lo aja yang pernah deket banget sama dia aja gak tau isi hatinya apa lagi gue." Eee meninggalkan Ziad setelah membalas perkataan lelaki itu.
Tidak ada jawaban pasti yang didapat, Ziad pun mulai meninggalkan halaman kantor menggunakan motor. Iya motor yang selalu di gunakan untuk mengantar Aira demi bisa bertemu si pujaan hati. Memang modus, tapi Ziad tidak masuk katagori spesies makhluk peka.
Pikiran Ziad mulai terganggu. Bahkan saat sedang bersama Aida pun dia terlihat tak fokus. Beberapa kali dia salah menyebut nama membuat Aida cemberut.
"Kok marah, Da? Kan aku panggil Ai atau dan sama saja, namamu kan Aida," Ziad berusaha bersikap tenang. Padahal hatinya tengah gundah gulana.
"Iya memang, tapi kamu sering pakai kata Ai itu kalau kamu lagi nyebut nama Aira," ketus Aida. Memang perempuan mana yang tak akan marah saat orang terkasih tengah memikirkan orang lain. Apalagi jika tau bahwa yang dipikirkannya adalah orang terdekat kita. Ingin marah tapi tak ingin dengan kemarahannya membuat jarak dengan yang terkasih. Alhasil perempuan lebih banyak memilih diam saat amarah memuncak.
Sepanjang perjalanan Aida lebih banyak diam. Sehingga diamnya itu mengharapkan rasa bersalah pada diri Ziad. "Aida sayang, saat aku memutuskan meminta kamu kepada orang tuamu itu tandanya aku yakin dengan pilihanku. Percayalah dalam dada ini hanya tertulis nama Aida. Dalam setiap detak yang beriringan bersama detik aku hanya mencintai seorang Aida." Ziad berusaha meraih jemari perempuan yang tengah diam membisu tapi sayang tangannya malah ditepis.
Ketika kamu dihadapkan pada pilihan, maka pilihlah salah satunya. Kamu tidak akan dapat satu pun saat kamu berharap dapat keduanya.
Malam minggu biasanya digunakan oleh muda-mudi yang tengah dimabuk asmara untuk melukis hal indah bersama. Pun hal itu yang diharapkan dua insan yang memilih sama-sama dia hanya karena gara-gara salah sebut nama.
Sampai mobil berhenti di depan pintu gerbang rumah, Aida masih diam seribu bahasa. Biasanya saat akan berpisah keduanya saling melempar kalimat manis yang membuat rindu tapi kali ini hal itu tidak dilakukan.
Ziad hanya membuang nafas kasar melihat sikap calon istrinya dari dalam mobil. Setelah memastikan Aida masuk dan aman, dia pun mulai melajukan mobilnya ke arah tempat tinggal.
Saat keadaan seperti ini dia teringat Aira yang selalu siap mendengarkan keluh kesahnya. Berbicara panjang hingga larut malam bahkan sampai sama-sama ketiduran. Dari perempuan itu pun dia mengenal Aida.
"Ra," desisnya pelan.
Dia meraih ponsel pada saat mobil berhenti di lampu merah. Mencari no Aira dan mencoba melakukan panggilan. Nada yang sama dari operator yang dia dapat. Nomor Aira masih tetap di luar jangkauan.
Melihat email yang dia kirim pun belum dibaca sama sekali.
.
.
.
.
.Hai-hai maaf author baru up. Kerjaan di duta lagi banyak dan menyita waktu. Terimakasih sudah menunggu karya yang tak seberapa ini. Love untuk kalian.