
Andri masih melakoni aktifitas seperti biasanya. Saat ada waktu senggang dia pun memeriksa ponselnya. Belum ada yang berubah dari chat teratas. Segunung rasa bersalah terus bercokol dalam benaknya.
Saat jam kerja usai, lelaki itu segera meninggalkan ruang kerjanya.
Mobil berwarna hitam yang dia kemudikan berhenti tak jauh dari gerbang tempat kerja Aira. Memperhatikan setiap yang keluar dari sana.
Perasaan mulai dihinggapi cemas saat yang ingin dia temui tak kunjung terlihat. Bahkan sampai tak terlihat lagi orang ke luar dari sana masih saja dia tak melihat Aira.
Dia pun turun dan bertanya pada satpam. "Permisi Pak, maaf, Bu Aira masuk gak hari ini?"
"Bu Aira?" Satpam itu terlihat berpikir sejenak. "Oh iya, iya, masuk pak. Tapi sepertinya sudah pulang Pak. Maaf Bapak ini siapa?"
"Saya... Saya temannya Bu Aira. Syukurlah kalau tadi dia masuk. Dari semalam dia susah dihubungi Pak. Takutnya terjadi sesuatu."
"Kalau gitu saya pamit, Pak." Andri pun melaju ke arah tempat tinggal Aira.
Aira harus tahu alasan dia melakukan ini. Yang utama dia bukan ingin menghinakan Aira seperti tuduhan perempuan itu. Rasa itu murni hadir begitu saja. Hati kecilnya pun mengharapkan Aira ada di sampingnya selamanya. Mendampingi perjalanan di sisa usianya. Tentunya ada banyak tujuan di benak Andri yang ingin diutarakansaat menemui Aira.
Tujuan pun sudah di depan mata tapi hatinya mengatakan kalau Aira tak ada di sana.
"Nak Andri?" Suara Ibu mengagetkan Andri dari belakang. Rupanya perempuan yang memakai kerudung abu senada dengan bajunya itu baru pulang dari warung. Terlihat dari tentengan yang ada di tangan kiri.
"Masih belum ketemu sama Aira?" Yups tebakan ibu tepat sasaran. "Memangnya ada apa sih? ibu kok jadi penasaran" kekeh ibu.
"Enggak ada papa sih, Bu. Ini soal pekerjaan." Andri pun turun mengikuti Ibu.
"Tunggu deh ibu ketuk dulu pintunya." Beberapa ketukan mulai terdengar tapi pintu di hadapannya tak ada tanda-tanda akan dibuka. "Kayaknya bener belum pulang deh," lanjut ibu
"Kira-kira Aira kemana ya, Bu? Tadi saya dari tempat kerjanya tapi kata satpam Aira sudah pulang." Gurat khawatir nampak jelas di wajah lelaki itu.
***
Alih-alih pulang, Aira memilih singgah di sebuah kafe. Setidaknya ragaku harus tetap sehat agar jiwa tetap waras begitu yang dipikirkan Aira saat ini. Masalah boleh saja menghampiri tapi dia tidak boleh kalah oleh hal itu.
Setidaknya memanjakan lidah jadi solusi yang dia pilih. Dia pun memilih meja kosong di pojok dekat jendela setelah memesan makanan. Suasana kafe saat ini memang terlihat ramai. Banyak yang berkunjung di sana. Mulai dari yang single, berdua tapi berbeda lawan jenis, sekumpulan anak muda, dan ada juga yang berkunjung bersama keluarga.
Hangat saat Aira menatap sebuah keuarga terlihat rukun tengah menikmati makanan mereka. Ah dia jadi rindu Bapak dan Ibu.
Aira bersiap menyantap makanan yang baru sja disajikan oleh seorang pelayan. Aroma yang menguar dari olahan daging bebek itu sungguh menggugah selera.
Belum juga sendok berisi makanan itu mendarat di mulut, seseorang menepisnya lebih dulu hingga jatuh berhamburan diikuti dengan kalimat yang tidak sedap didengar. "****** tidak pantas makan makanan enak," ucap seorang perempuan yang berdiri persis di sebelahnya. Kalimat itu mampu membuat Aira diam beberapa detik.
Pikiran Aira tiba-tiba seolah mati tak mampu mencerna ucapan perempuan tadi. ******? Belum sempat Aira membela diri, kalimat lain yang tak kalah menyakitkan kembali dia dengar bersama rambutnya yang di tarik ke belakang.
"Astagfirullah, sakit," pekik Aira.
"Hoho, ternyata ****** ini tak seberapa cantik. Tapi anehnya suamiku bisa tertarik padamu."
"Apa yang kamu tawarkan? Tubuhmu?" Teriak perempuan itu. Sehingga perhatian para pengunjung lain pun tertuju pada mereka.
"Bahkan tubuhmu saja kecil, kurus, bau lagi. Amit-amit. Sudah berapa banyak suami-suami yang kamu gaet. Sudah kaya? Gak mungkin" lanjut perempuan dengan tatapan sinis dan mengejek.
Luka yang masih basah itu terasa ngilu. Seperti disiram menggunakan air garam. Malu bukan main saat dirinya menjadi pusat perhatian. Dan yang lebih menyakitkan adalah kenyataan yang dia lihat. Perempuan yang datang bersama perempuan muda yang melabraknya adalah orang yang sangat dia kenali. Dia yakin masih mengingat wajah itu. Dia tidak salah mengenali.
Ibu. Orang yang selalu namanya disebut dalam doa bahkan tak memihak padanya. Apa Ibu lupa kalau dia anaknya.
Untungnya keributan itu tak berlangsung lama saat manager kafe beserta seorang keamanan menghampiri.
Mereka meminta perempuan yang membuat keributan bersama perempuan yang lebih tua darinya meninggalkan tempat itu sebelum mereka bertindak lanjut.
"Maafkan atas keributan ini, Pak." Aira menucapakan maaf sebelum meninggalkan tempat itu. Perut yang sejak pulang tadi berdendang terus kini terasa kenyang. Padahal belum satu sendok pun masuk ke mulutnya.
Sebelum keluar dia sempat melihat sekeliling. Apa yang dia takutkan sejak kemarin benar terjadi hari ini. Bagai mimpi buruk yang mengguncang tidur lelapnya.Besar kemungkinan kejadian tadi ada yang merekam. Dan mungkin saja sudah tersebar di media sosial. Bukanya hal-hal semacam itu lebih banyak menarik perhatian.
Diatas trotoar dia menarik nafas dalam, mempersiapkan diri akan kemungkinan besar terjadi.
"Apa benar perempuan tadi istrinya Mas Andri? Terus kenapa ada ibu?" Kalimat itu ditanyakan pada hatinya berulang kali.
"Kenapa Ibu tak memihakku?" Bertanya lagi dalam hati. Dia memejamkan mata sejenak merasai angin yang berhembus. Menarik nafas dalam dan membuabgnya secara perlahan.
Ingin rasanya menangis meraung, saat orang yang disebut ibu tak lagi membela. Air mata jatuh. Hatinya hancur, dadanya terasa sesak. Kepala terasa pusing tapi Aira berpikir dirinya tidak boleh jatuh pingsan di sana.
***
Benci satu kata saat Aira melihat mobil Andri berada di dekat rumah Ibunya Delisa. Dia tidak ingin menemui lelaki itu lagi. Sudah cukup atas kekacauan yang terjadi.
Bahkan dia menerima lelaki itu belum ada satu minggu tapi rentetan masalah telah menghampiri.
Buru-buru dia masuk dan kembali mengunci pintu. Orang yang dihindari menyadari itu dia menoleh dan bangkit dari duduknya di rumah Ibu.
"Aira-nya sudah pulang, Bu. Saya izin menemui dia ya," pintanya dengan sopan. Lelaki itu memang sopan hanya saja tidak berani mengakui keadaan yang sebenarnya.
Gegas dia menyusul Aira. Meski pintu sudah di kunci dari dalam dia tidak ingin menyerah. Dia meminta Delisa sebagai umpan.
"Gak mau ah," tolak Delisa saat Andri mengutarakan idenya. "Lagian sebenarnya ada apa sih Mas? Dari kemaren kalian tuh kayak lagi main kucing-kucingan."
"Panjang masalahnya, Del. Jadi mas minta tolong sama kamu," Penuh permohonan Andri menatap Delisa. Dia yakin Delisa bisa menjadi jalan dia bertemu dengan Aira
"Susah kalau urusan orang dewasa." Delisa menghentak kakinya melewati Andri menuju pintu tempat tinggal Aira.
"Kak buka pintunya aku tau kakak ada di dalem." Delisa mengirmkan pesan suara. Ternyata Aira langsung membukanya.
Aira jadi mikir, akan semakin tambah malu kalau Delisa tau urusan dirinya dengan Andri. Tapi dia harus bagimana, dia takut keputusannya menjadi sumber maslah lainnya. Menemui atau tidak?