Fatal

Fatal
Bab 18



Andri yang hampir menjemput lelap kembali menarik kesadarannya saat ponsel yang terletak di atas nakas berdering.


Aira?


Dia mencoba menghubungi balik nomor tersebut, siapa tahu memang gadis itu tengah membutuhkan dirinya. Bunga-bunga harapan kembali mekar setelah tersirami gerimis. Ada rasa senang saat dirinya dibutuhkan oleh orang yang diharapkan.


Beberapa menit berlalu panggilan tak kunjung diangkat. Dia yakin kalau gadis itu tengah memikirkan dirinya. Apa pun itu tapi dia merasa senang.


Jam sudah menunjukan waktunya mengistirahatkan tubuh dari segala lelah yang melanda. Rasanya tidak etis jika dia melakukan panggilan kembali. Tak ingin mengganggu istirahat sang pujaan. Dia pun memutuskan menarik selimut dan memejamkam mata setelah membaca doa.


***


Pagi-pagi Andri keluar kamar dalam keadaan sudah rapi. Suasana rumah terlihat sepi. Padahal tadi malam kedua orang tuanya ada di sana.


Dia menoleh ke arah garasi, hanya ada mobil yang sering dia gunakan. Dia pun coba cek ke kamar yang tadi malam dituju oleh merek. Sudah rapi. Berarti kedua orang tuanya sudah pergi. Dia hanya menemukan sebuah note di meja makan.


"Ingat, papa tidak suka dengan pecundang. Kalau mau melangkah dengan yang baru pastikan sudah lepas dari ikatan lama. Papah harap kamu tidak menyakiti perempuan. Saat kamu akan menyakiti ingatlah mama-mu, adik perempuanmu, dan nenekmu."


Sesaat sebelum tiba di rumah sakit, Andri membiarkan laju mobilnya saat meliintasi gedung tempat Aira bekerja. Saat mengingat Aira bibirnya selalu otomatis menerbitkan senyum.


Seketika senyum itu sirna saat melihat sang pujaan hati terlihat sedang berbincang dengan seorang laki-laki tak jauh dari gerbang. Bisikan-bisikan jahat mulai menghampiri.


"Nanti pulang tunggu Mas jemput ya!" Dia langsung mengirimkan pesan itu. Yang mendapat pesan pun langsung menoleh ke arah mobilnya. Dia kembali melaju saat Aira sudah dipastikan membaca pesannya.


Apa yang dilihatnya tadi pagi membuat lelaki yang berprofesi sebagai seorang dokter itu lebih sering bengong. Beberapa kali perawat menegurnya.


"Astagfirullah, maaf," sesal Andri.


Dia bergegsa mengunjungi pasien yang sedang dalam pengawasannya.


"Dokter lagi ada masalah?" tanya seorang perawat laki-laki saat mereka sudah keluar dari ruangan pasien.


"Gak ada, kenapa emangnya?"


"Kalau gak ada masalah, gak mungkin dong dari tadi dokter sering bengong. Sudahlah dok santai aja. Habis ini jam istirahat 'kan? Kalau dokter butuh teman saya ada di kafetaria." Perawat itu meninggalkan Andri yang masih betah dengan lamunannya. Sedikit sedikit bengong. Tentu saja pikirannya tertuju pada Aira.


***


Menunggu yang akan menjemput datang, Aira memilih berbincang dengan satpam yang sudah akrab dengannya sejak pertama kali bekerja.


Tak lama mobil hitam milik Andri berhenti di dekat gerbang. "Ayo masuk!" ajak Andri setelah menurunkan kaca mobilnya.


Dengan sopan perempuan itu pamit pada satpam kemudian dia masuk ke mobil milik Andri.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Aira saat jalan yang dilalui bukan jalan menuju rumah.


"Kesuatu tempat, ada yang ingin aku bicarakan?"


"Soal?"


Mobil berhenti di lahann parkir sebuah taman. Andri mengajak Aira duduk di bangku yang tak terlalu banyak orang.


Di bawah langit yang berpayung keindahan senja Andri mengutarakan isi hatinya. Benar tadi saat makan siang dia sempat menemui perawat lelaki yang bersamanya. Dia pun menceritakan apa yang menjadi penyebab kerjanya tak fokus. Memang berbincang dengan sesama jenis mengenai perasaan itu lebih mudah untuk dapat solusi. Apalagi mengingat kaum lelaki adalah jenis kaum yang lebih banyak menggunakan logika.


"Pilihannya hanya ada dua, katakan atau tidak sama sekali. Tentunya kedua pilihan itu sama-sama amemiliki sub opsi." Seorang perawat laki-laki ditemui Andri pas makan siang. "Atau mau saya yang menyatakannya?" Perawat itu menggoda seorang laki-laki yang terlihat masih menimang.


"Berarti kamu dong yang ujungnya nikah sama dia,"balas Andri tak suka.


"Jemuran kalau dibiarkan terlalu lama oleh pemiliknya bisa diambil maling loh,"


Takut kehilangan apa yang paling diinginkan sering membuat lupa bahkan khilaf. Menggunakan segala cara demi mendapatkannya. Itu juga yang dilakukan Andri.


"Mas." Suara Aira membuat Andri sadar dari diamnya. "Katanya tadi mau bilang sesuatu, kalau gak mau bicara aku mending pulang."


"Dalam perjalananku, aku menemukan seseorang yang terlihat tegar dan mandiri akan tetapi belakangan aku menyadari satu hal. Dia rapuh. Dalam pertemuan pertama dia begitu dingin, tak banyak kata yang aku dengar dari dia. Dan itu menggoyangkan sebuah rasa yang tersimpan dalam diri ini." Andri menunjuk dada. Aira masih mendengarkan, tidak berusaha menyela atau bertanya.


"Aku menyukai gadis itu, kamu tau siapa dia?" menoleh pada Aira yang duduk di sebelah sambil menatap Andri.


Aira menggelengkan kepala.


"Kamu," lanjut Andri.


"Aku?" Aira tidak terkejut, hatinya beberapa kali mengucapkan kalimat hamdallah.


"Iya, gadis itu adalah kamu,"


"Tunggu tadi Mas bilang dia gadis rapuh? tau dari mana aku rapuh? sedangkan aku tak pernah menangis dihadapan Mas." Aira tidak boleh gegabah. Senang boleh, terlena jangan. Bisa saja ini jebakan seorang laki-laki.


Andri merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Memperhatikan chat dirinya dengan Aira. Aira menutup mulut kaget. Ternyata teman chatnya itu beneran ada dan kini tengah menyatakan perasaan.


"Maaf aku tidak ingin pacaran," Aira mematahkan senyum harapan yang tadi terlukis di wajah dokter ganteng itu.


"Aku juga tak ingin kita pacaran, aku ingin kita menikah." Andri benar-benar berusaha mengikat hati Aira. Saat dia mengucapkan itu dia berjanji dalam hati akan segera mengakhiri kisahnya dengan Nita.


Aira melirik sekitar, tak langsung menjawab ungkapan perasaan lelaki disampingnya. Sebagai seorang perempuan dia tentu merasakan senang saat seorang laki-laki mengungkpan perasaan padanya. Apalagi suasana terasa begitu romantis karena dipayungi senja serta sapuan dari angin sore.


Entahlah Aira ingin menerima tapi dihatinya masih ada perasaan yang mengganjal. Bukan tentang perasaan dia pada Ziad tetapi ini entah apa.


"Kalau kamu menerima, aku minta terimalah ini! Aku ingin yang menikmati keindahan rambut yang tergerai hanya aku." Menyodorkan kotak berisi pasmina.


Aira mengangguk dan meneranya. Meski masih terasa ada yang mengganjal di hati, tak ada salahnya mencoba lebih dulu.


Adzan maghrib yang berkumandang dari mesjid seberang taman membuat dua manusia itu beranjak. Segera mereka menunjukan kewajiabannya.


Dalam sujud, Andri mengucapkan rasa syukur sebanyak mungkin. Tak lupa dia pun meminta petunjuk untuk kisahnya dengan Nita.


Sedangkan Aira mengadukan rasa gundahnya pada Pemilik Hidup. 'Allah engkau maha mengetahui apa yang aku rasakan saat ini. Aku senang tapi ada satu hal yang tidak aku ketahui. Tolong tunjukan harus bagaimana aku?"