
Sudah satu minggu Andri menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit Jogja. Satu minggu keberadaannya sangat membantu.
Seperti Halnya orang lain dr.Andri pun memiliki banyak masalah dalam kehidupannya. Haya saja kerena dia memiliki sikap ramah dan humoris, sehingga kelebihan itu mampu menutupi masalahnya di hadapan orang lain.
Berhubung jam prakteknya sudah habis, Lelaki berusia 34 tahun itu segera meninggalkan ruang praktek. Rencana hari ini dia hendak meninjau tempat baru yang akan dijadikan tempat pengembangan usaha. Meski gaji sebagai seorang dokter tak sedikit tapi sebagai manusia tetap ada rasa ingin lebih.
Gegas dia menyalakan mesin mobil dan segera menjalankannya. Seseorang yang beberapa hari lalu satu kereta dengannya tengah berdiri di tepi jalan. Langit terlihat begitu gelap, bukan hanya karena sudah malam tapi sepertinya akan turun hujan.
Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya saat sudah berada di depan Aira. "Loh, Dek? Lagi apa di sini?" Dokter itu memindai sekitar.
"Lagi nunggu kendaraan, Om." Aria tak terlalu memedulikan, apalagi kalau yang bersangkutan adalah laki-laki. Dari dulu dia membiasakan diri agar tak terlalu akrab dengan lawan jenis. Bersikap seperlunya saja. Menjaga diri, karena belum tentu ada yang memedulikan selain diri sendiri.
"Kamu lupa sama saya ya, Dek? Oh iya saya kan bukan orang penting," kekhnya. Lengkungan senyum dari dr.Andri tergambar jelas, tapi Aria tak melihatnya. Perempuan itu lebih dulu menundukkan pandangan. Merasa diacuhkan oleh lawan bicara, lelaki berwajah teduh itu turun dari mobilnya dan menghampiri. "Saya yang minggu lalu di kereta duduk di sebelah kamu, dr. Andri" Menjulurkan tangan tapi tak di sambut, Aira hanya menganggukkan kepala saja.
"Aira," balasnya cepat.
"Mau diantar pulang gak? Gak baik perempuan pulang sendirian,"
"Tapi gak baik juga om yang bukan mahrom pergi berduaan." Berusaha menolak dengan cara halus. Hatinya masih menolak menerima sikap baik dari laki-laki. Alasannya selain karena ingin memperbaiki diri, dia juga tak ingin patah hati lagi. Sebab perempuan berusia 24 tahun itu yakin rasa yang di sebut cinta berawal dari kebaikan-kebaikan kecil yang terus berlanjut. Sehingga menimbulkan rasa nyaman, suka dan berharap lebih. Itu yang pernah terjadi padanya beberapa bulan lalu, kemudian Tuhan mematahkan harapnya yang terlalu besar berharap pada makhluk-Nya.
'Masya Allah jarang ada perempuan memikirkan dosa saat kepepet.' Lagi, sebuah lingkungan tergambar di bibir dr. Andri.
"Kepepet, Dek. Lagian kayaknya sebentar lagi hujan turun. Ya sudah saya antar saja. Saya bekerja di rumah sakit ini jadi kalau terjadi apa-apa kamu bisa cari saya di sini."
Hembusan angin yang terass begitu kencang meyakinkan Aira untuk menerima tawaran dari dr. Andri. Ingin menolak tapi khawatir semakin malam semakin tak dapat kendaraan. Akhirnya dia memilih mengiyakan tawaran dari dokter tersebut. Aira memilih duduk di kursi tengah.
Benar saja, di tengah perjalan hujan turun begitu deras.
***
Mobil berhenti di depan sebuah gang sesuai instruksi Aira. "Tunggu sebentar ya hujannya masih besar, saya tidak akan berbuat apa-apa kok."
Meski dr. Andri meyakinkan bahwa dia lelaki itu tidak akan berbuat macam-macam, tetap saja Aira merasa tidak nyaman. "Tak apa, Om. Saya senang bermain air hujan kok." Berusaha tersenyum.
Bagi perempuan berusaha 24 tahun itu, lebih baik basah kehujanan daripada aman dari air hujan tapi tidak aman kelak. Tak ada yang menjamin keduanya tak akan tergoda. Iblis selalu punya banyak tipu muslihat. Membisikan rayuan manis yang membahayakan. Apalagi Aira sadar dirinya bukan perempuan yang berbekal ilmu agama yang tinggi. Dia hanya perempuan akhir zaman yang khawatir karena merasa imannya masih tipis. Bisa saja dia akan tergoda lebih dulu.
Melihat Aira berlari dengan menggunakan tas sebagai pelindung kepala dari air hujan, membuat dr. Andri mengikutinya. Alasannya sederhana, lelaki itu ingin memastikan perempuan muda yang diantarnya pulang, harus selamat sampai tujuan.
"Kok malah ikutan lari, Om?"
"Saya harus pastikan kamu sampe rumah dulu."
"Rumah saha udah deket kok." Aira menunjuk rumah berwarna abu dan hitam serta memiliki taman yang tak terlalu luas.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya dr. Andri saat mereka tina di rumah yang tadi ditunjuk oleh Aira. Keduanya sama-sama basah. Mau nyuruh pulang tidak enak hati lelaki tersebut sudah berbaik hati padanya. Mengizinkannya mampir dulu pun bukan pilihan yang baik karena dia hanya tinggal sendiri.
"Om tunggu dulu di sini ya!" pinta Aira. Dia terlihat menuju rumah yang di sebelahnya.
Sementara dr. Andri memperhatikan rumah yang ada dihadapannya. Kecil tapi bersih. Ada rasa penasaran dengan rumah tersebut tapi dia memilih menunggu di luar dengan keadaan baju yang basah meski pintu rumah sudah di buka oleh pemiliknya.
***
"Eh, ada neng Aira. Ada apa neng kok?" Tanya bu Gelis heran saat Aira datang padanya dengan keadaan baji yang basah. Masuk dulu ayo, biar ibu buatkan teh hangat."
"Enggak usah bu, Aura kesini mau minta tolong temani Aira di rumah. Soalnya ada di rumah ada tamu laki-laki tapi Aira nggak mungkin ngizinin dia masuk kalau Aira hanya sendiri. Takut jadi fitnah." Aira sendiri merasa tak enak harus minta tolong saat menyadari orang yang dimintai tolong olehnya sudah berpakaian rapih. Sepertinya bu Gelis sedang akan bepergian. "Itu pun kalau tak merepotkan, Bu," lanjut Aira.
"Ditemani sama Delia saja ya, maaf saolanya ibu sama bapak mau pergi ke undangan rekan kerjanya bapak," jelas perempuan yang usianya sekitar empat puluh lima tahunan itu.
"Gak papa, Buk. Kan Delisa juga sudah dewasa ya."
"Iya dewasa, tapi ya kadang masih sering manja-mandi ke ibu sama bapak. Mentang-mentang anak bungsu," kekehnya.
***
Sikap Aira membuat kagum seorang dr. Andri. Dia tersenyum setelah dipersilakan masuk oleh Aira karena diantara mereka ada satu orang dewasa lainnya.
Aira meminjamkan handuk serta hoodie baru miliknya. Apalagi saat melihat dr. Andri terlihat tak nyaman dengan pakaiannya yang basah.
Tiga piring mie kuah instan menemani ketiganya. Obrolan-obrolan kecil terjadi diantara mereka. Hangat meski udara diluar begitu terasa dingin.