Fatal

Fatal
Bab 2



Setelah meluapkan keluh kesahnya, Aira bersiap untuk bekerja. Dia harus bersikap profesional. Tidak mungkinkan dia tidak masuk kerja dengan alasan sedang sakit hati. Bisa-bisa satu dunia menertawakannya.


"Pagi, Kak, Pak." Aira menyapa mereka yang lebih dulu duduk di meja makan. Pun dengan Amira yang sedang sibuk menata olahan tangannya. Wanita itu begitu terampil tapi sayangnya kasih sayang yang dia tunjukan belum mampu menggoyahkan kokohnya benteng kebencian yang diabngun oleh Aira. Sikap santun yang selalu ditunjukan oleh Aira semata untuk menghormati sang ayah.


"Makan yang banyak sayang! dari kemarin sore perut kamu belum diisi makanan," ucap wanita berusia sekitar 39 tahun itu.


"Iya." Seperti itulah sikap Aira setiap pagi. Baru dua sendok makanan masuk kedalam mulut Aira, tak lama terdengar bel rumah berbunyi.


"Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini?" rutuk Aira yang hendak beranjak dari duduknya.


"Biar kakak saja." Aida lebih dulu beranjak karena tahu siapa yang datang. Tentu saja kan semalam mereka saling berkirim pesan. Tak lama Aida datang bersama Ziad, jelas terlihat rona bahagia di wajah Aida.


Melihat hal itu, otak Aira reflek menyuruhnya memainkan gawai, membuat dia seolah sedang sibuk berbalas pesan. Padahal senyatanya tak ada pesan dari siapapun yang masuk ke gawainnya.


"Pak, Bu, calon mantu datang nih," ucap Aida


Ayah mereka menoleh seraya tersenyum "Oh, Anak mantu, silahkan duduk! Belum sarapan kan?" Mempersilahkan calon mantunya duduk bersebelahan dengannya.


Aira masih saja berakting, bahkan sapaan dari Ziad pun tak dihiraukannya. Melihat tingkah putri bungsunya membuat sang ayah harus menegurnya. Alih-alih bersikap seharusnya, Aira malah menunjukan sikap tidak sukanya dengan meninggalkan sarapan yang di pringnya.


Amira sampai menggelengkan kepala sambil mengelus dadanya. Entah harus bagaimana lagi dia bersikap untuk menunjukan rasa sayangnya pada Aira. Dia tak pernah membeda-bedakan.


Aira memilih mengunakan ojek online untuk tiba ditempat kerjanya ketimbang menggunakan mobil yang diberikan oleh sang ayah. Menurutnya kalau sampai dia menggunakan mobil tersebut itu artinya dia memaafkan kesalahan sang ayah. Aira tak tertarik untuk itu.


Di tempat kerja masih terlihat sepi, ah maklum saja Aira datang terlalu pagi. Segera dia masuk dan memulai pekerjaannya. Sekuat apa pun seorang Aira bersikap profesional nyatanya patah hati sangatlah mengganggu. Hari ini dia sempai harus revisi laporan sampai tiga kali. Bahkan teguran tidak mengembalikan harus diterimanya.


Eren, temanmu di tempat kerja pun sampai kebingungan, sebab biasanya Aira adalah karyawan yang paling kompeten dan bisa diandalkan.


Aira menempelkan keningnya pada meja kerja, air matanya lolos begitu saja. Eren mendekat, mengusap punggung Aira untuk memberi sedikit ketenangan pada rekan kerjanya. Cukup lama Aira dalam posisi seperti itu sampai akhirnya dia menyeka air mata dan mengangkat wajahnya.


"Sabar ya, Ra! Pak Andri kan emang gitu," ucap Eren. Tidak tahu saja dia kalau Aira nangis bukan hanya karena itu. "Oh ya, istirahat dulu gih! kamu juga belum shalat kan?" sambung Eren yang dibalas anggukan oleh Aira.


Saat hendak menuju mushola, Aira berpapasan dengan Ziad. Ziad yang hendak menyapa mengurungkan niatnya saat melihat Aira bersikap tak seperti biasa. "Aneh banget tuh anak"


Aira menangis dalam sujudnya serta mengadukan segala keluh kesahnya. Sebab sebaik-baiknya tempat mengadu hanyalah kepada-Nya.


Selesai menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, Aira kembali ke meja kerjanya. Dia kembali mengerjakan laporan yang tadi selalu salah. Demi menepis rasa sakit karena patah hati dia lebih memilih memanfaatkan waktunya untuk bekerja.


Aira meniupkan udara dari mulutnya saat laporan yang sedang dikerjakan selesai. Semoga tidak harus direvisi lagi, ucap Aira dalam hati.


Segera dia melangkah menuju ruangan sang atasan yang sejak tadi meminta laporannya. Masih doa yang sama yang dia rapalkan dalam hati.


Melihat atasannya menggelengkan kepalanya pelan, Aira yakin ada yang salah lagi dengan laporannya. Apalagi saat mata sang atasan menatap tajam padanya membuat dia semakin menundukkan wajahnya.


"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kamu Aira, tapi laporan seperti ini bukan hasil kerja kamu. Apa kamu sedang dalam masalah?" Nada atasannya terdengar biasa saja tapi karena yang mendengar adalah Aira yang sedang membuat kesalahan, tentu beda lagi penerimaannya.


"Astaga Aira," pekiknya dalam hati.


"Kalau tidak ada masalah terus kenapa kamu membuat laporan seperti ini saja sampe berkali-kali. Ini bukan hasil kerja kamu kalau seperti ini, atau jangan-jangan kamu sudah tidak niat kerja."


"Eng... enggak gitu maksudnya, Pak."


"Kalau kamu sudah tidak tertarik dengan perusahaan ini. Kamu bisa memundurkan diri baik-baik, bukan seperti ini. Kamu tau gara-gara laporan kamu ini? kita gagal meeting dengan Aditama Group. Tentunya susah kembali menjalin kerja sama. Saya tahu perusahaan papa kamu adalah perusahaan besar tapi kamu tidak bisa bersikap seenak jidat di perusahaan saya. Saya gak tahu harus mengapakan kamu sekarang."


Aira semakin menunduk, rasa sesal mulai menyelimuti. Dia yang mengagung-agungkan profesional kerja tapi dia sendiri yang melanggar.


Setelah hening beberapa detik, Aira memberanikan diri mengangkat wajahnya. "Saya akan memperbaiki laporan ini pak, walaupun mungkin tidak bisa memperbaiki kerja sama bapak dengan Aditama Group. Laporan ini masih diperlukan oleh perusahaan, tak apa jika saya harus menambah waktu kerja saya."


Setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari sang atasan, Aira pamit kembali bekerja. Ya, meskipun waktu bekerja memang sudah akan berkahir.


Aira tetap harus mepertanggungjawabakan kesalahannya. Beberapa rekan kerjanya mulai meninggalkan meja kerja saat jam kerja sudah habis termasuk Ziad. Sebelum meninggalkan tempat kerja, laki-laki yang akan menjadi kakak iparnya itu menghampiri, menawarkan untuk pulang bersama. Dengan senyum yang dipaksakan Aira menolak sopan ajakan sang calon kakak ipar. Demi menjaga perasaannya agar tetap waras menjaga jarak tentu pilihan paling tepat.


Atasnya yang hendak pulang menyempatkan menghampiri Aira. Laki-laki yang usianya hampir sama dengan bapaknya Aira itu tersenyum melihat kegigihan anak sahabatnya. Dia yakin anak dari sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Masih sanggup bekerja, Aira?" laki-laki itu menyapa.


Dengan senyum khasnya Aira membalas sapaan dari sang atasan setelahnya dia kembali fokus pada pekerjaan.


Hampir tiga jam dia berkutat demi menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum laporannya dicetak, Aira memeriksa lebih dulu hasil kerjanya. Memastikan agar tidak sampai harus merevisi kembali.


Rasa sakit itu bukannya hilang malah semakin menjadi, apalagi setelah kejadian hari ini. Aira menangis tergugu di meja kerjanya untuk beberapa menit. Membayangkan hari-harinya akan semakin suram, apalagi kalau benar Ziad sang pujaan hati menikah dengan Aida.


Menyadari malam semakin larut, dia segera berkemas untuk pulang. Sebelum sampai ke rumah dia memilih mampir di salah satu tempat makan. Maklum saja karena sejak tadi siang perutnya belum diisi makanan selain air putih.


Dering pada gawainnya tak ia hiraukan setelah melihat nama sang ayah tertera pada layar benda pipih tersebut. Dia yakin ayahnya bukan mengkhawatirkannya tapi untuk mengomelinya karena pulang larut malam.


Duduk sendiri, menikmati dinginnya udara malam ditemani alunan musik dari band yang di sewa pihak restauran. Air matanya mulai menganak sungai saat lagu yang berjudul "Risalah hati" dan lagu "Ruang Rindu” dinyanyikan secara bergantian. Kedua lagu tersebut benar-benar mewakili perasaannya.


Sementara di rumah, sang ayah sedang merasa kebingungan mendapati putrinya belum pulang. Ditelpon berkali-kali pun tak mendapat jawaban sama sekali. Bolak balik sang ayah mengecek pintu serta kamarnya. Amira sendiri berusaha menenangkan sang suami. "Sabar, pak mungkin Aira kejebak macet, makanya dia belum sampai rumah."


"Kejebak macet gimana, Bu? ini sudah lebih dari jam sembilan dan anak itu masih juga belum pulang. Masa iya macet sampe jam sembilan lewat." Bapaknya menggelengkan kepala sambil terus mencoba menghubungi Aira. Berharap anak itu akan mengangkatnya.


"Sudahlah, Pak. Aira-kan sudah besar lagi pula Ibu yakin Aira bisa menjaga diri, Pak. Kasih dia kepercayaan!" Amira berlalu meninggalkan suaminya. Dia sendiri yakin perubahan sikap Aira itu karena dirinya.


.


.


.


.


.Jangan lupa dukungannya ya manteman cemuah!!! Sun untuk kalian 😘😘 😘