Fatal

Fatal
Bab 10



Waktu terus berlalu. Tak memberi kesempatan untuk bermalas-malasan. Yang bergerak akan dapat dan yang malas tentu semakin ketinggalan.


Kesibukan dua manusia berbeda usia membuat mereka tak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Andri dengan kesibuakannya sebagai dokter, mengabdi pada negeri. Aira sibuk bekerja. Bukan siapa-siapa jadi jangan berharap akan dapat hak istimewa. Masuk pukul 07:00 dan pulang pukul pukul 16:30.


Selain sibuk bekerja di salah satu perusahaan, Aira juga mulai mengembangkan kemampuannya sebagai pembuat cake. Mengubah hobi menjadi sumber rezeki.


Hari ini Aira tengah membuat cake yang dipesan oleh temannya Delisa. Pukul 12:00 cake tersebut harus segera diantar ke tempat acara. Dengan ketermapilan tangan itu, sebuah cake yang dihias begitu cantik dan anggun sesuai tema acara.


Tepat waktu, Aira sudah tiba di tujuan tempat akan berlangsungnya acara. Setelah dia memberitahukan tujuannya pada petugas di sana dia pun diizinkan masuk dan segera menata beberapa jenis makanan penutup.


Lelah itu pasti. Sebuah ungkapan terimakasih dan rasa puas dari orang pertama yang memakai jasanya menjadi penghapus rasa lelah, pun dengan bayaran yang dia terima. Lebih dari cukup.


"Jangan lupa teraktir aku bakso abis ini," Bisik Delisa yang juga membantunya. Berkat perempuan ini jugalah tangan Aira kembali menciptakan karya.


Sekelebat dia melihat dokter rasa yang sempat membuat tidurnya tak nyenyak gara-gara apa yang diceritakan oleh Delisa. Beruntung setelah hari itu, mereka tak pernah bertemu lagi. Sehingga perasaan yang tadinya sempat akan tumbuh pun kembali pudar.


Tepukan bersama sapaan dari belakang membuatnya menoleh dan melebarkan mata. Seorang perempuan seusianya tengah tersenyum bahagia. Dia Zahra Aulia-teman sekelasnya dulu. Sudah hampir delapan tahun keduanya tak pernah bertemu. Bertanya kabar melalui media sosial pun hanya terjadi beberapa kali saja.


"Kamu Aira kan?"


"Iya, kamu Zahra?" Aira sangat yakin itu Zahra-temannya.


Rentan waktu tak membuat Aira lupa akan Zahra. Sebab Zahra hanya satu-satunya teman yang menjadi tempatnya berbagi cerita. Saat itu meski keduanya sama-sama masih remaja tapi Zahra selalu memberikan nasihat sesuai apa yang didapat dari didikan kedua orang tuanya.


Pernah ketika Aira tengah tersedu dan tak bisa menerima pilihan bapaknya, dia mengadu dan mengatakan kalau dia begitu membenci perempuan yang dibawa oleh bapaknya.


"Ra, kita memang tak pernah meminta akan dilahirkan dari keluarga seperti apa. Aku ngerti bagaimana perasaanmu. Pasti berat, bahkan aku pun belum tentu bisa menjalaninya. Kamu hebat," Zahra menjeda sejenak kalimatnya. Memasang senyum kemudian melanjutkannya kembali. "Seburuk apa pun keadaan mereka saat ini, aku yakin mereka pun tak menginginkan. Semua terjadi tidak begitu saja, tentunya aku yakin ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Pun pasti ada hikmahnya."


Aira semakin terisak, Zahra pun membiarkan Aira menumpahkan kesedihan tanpa meninggalkan.


"Apa menurutmu aku salah jika membenci perempuan itu?" Aira bertanya setelah menyeka sisa air mata.


"Enggak, itu wajar kok. Tapi, apa yang kamu dapat dengan membenci mereka?"


Aira tertegun menatap rumput yang bergoyang tertiup angin. Benar saat kita membenci sebenarnya tak ada apa pun yang kita dapatkan. Justru kita yang semakin merugi.


Bayangkan andai suatu hari kita tengah membutuhkan pertolongan, dan hanya orang yang kita benci yang ada pada saat itu. Apa kita tidak akan merasa malu meminta bantuan padanya.


Tak ada yang merasa bahagia saat seseorang kehilangan dunianya. Akan tetapi yakinlah dibalik setiap peristiwa pasi ada kebaikan yang diselipkan oleh Sang Pemilik kehidupan.


Tangis kita hari ini tak akan terus menjadi tangis untuk esok dan lusa.


Aira dan Zahra pun saling berpelukan. Menumpahkan rasa rindu yang tersimpan selama kurang lebih delapan tahun mereka berpisah.


Aira semakin kagum pada perempuan yang kini bahkan memakai kerudung panjang yang menutupi lekuk keindahan tubuhnya. Ah dirinya kapan ya?


"Sepertinya iya, aku sedang ingin mengembangkan bakatku di sini," balas Aira.


"Hobinya belum ganti ya," kekeh Zahra mengingat perempuan yang berdiri di depannya tak pernah berubah. Padahal dia sendiri tahu Aira bukan termasuk golongan menengah ke bawah. Dia hanya rebahan sambil bermain ponsel pun tak akan hidup kekurangan.


"Enggaklah, apalagi kalau bisa menghasilkan ini," balas Aira sambil menggesekan jari telunjuk dan ibu jari.


"Money," ucap keduanya bersamaan serta diikuti tawa setelahnya.


Pertemuan keduanya terpisah saat Aira pamit karena tugasnya sudah selesai. Sedangkan Zahra memang sedang menghadiri undangan dari si pemilik acara. Keduanya saling bertukar no telepon dan berjanji akan bertemu di waktu senggang.


***


Menepati janji pasa Delisa, keduanya mampir di sebuah ruko yang menjual bakso. Tempatnya begitu ramai Oleh pengunjung.


"Kak Aira cari tempat duduk, biar aku yang pesan. Percaya deh sama aku."


"Yang penting enak,"


Aira memilih duduk di meja pojok dekat jendela. Sengaja dia memilih duduk di sana agar lebih banyak mendapatkan udara segar. Tak lama setelahnya Delisa menyusul.


Sambil menunggu, keduanya saling berbincang. Aira lebih banyak mendengarkan ketimbang bercerita. Lagi pula tak ada hal spesial dalam hidupnya untuk diceritakan. Manusia kadang sering lupa bersyukur.


"Menurut Kak Aira, bagaimana tentang pernikahan beda usia?"


"Bukan masalah. Selama keduanya bisa saling mengerti, dan memahami, mengahragai satu sama lain. Satu lagi, tidak merasa diri paling hebat."


"Maksud paling hebat?"


"Banyak perceraian akibat saling merasa paling hebat. Contoh, Istrinya dititipkan Rezeki lebih sama Allah, dan penghasilannya lebih dari suami. Sehingga dia lupa cara menghargai seorang suami, lupa cara menyenangkan suami. Bahkan sekedar menawari makan atau minum pun tak lagi dilakukan, padahal suaminya pun tak berpangku tangan menunggu hasil sang istri. Pun sebaliknya ketika si suami sedang di uji dengan kekayaan yang lebih. Selalu ingin dihargai dan dilayani oleh sang istri. Tidak sabaran, istri telat membawakan minum dibentak. Dia lupa bahwa sang istri di rumah tidak hanya diam menunggu dirinya pulang. Dari bangun tidur sampai kembali tidur pekerjaan seorang istri tak pernah selesai. Belum lagi andai ada anak diantara mereka."


"Kak Aira kok sepertinya tau banget soal itu?"


"Karena itu yang terjadi di keluargaku. Bahkan mungkin lebih parah. Kesalahan yang terjadi beberapa bulan pun diungkit kembali sampai masalah tak kunjung usai. Tak menemukan titik untuk saling memaafkan sampai akhirnya perpisahan menjadi jalan mereka." Aira sedikit menekan nada suaranya agar tak terdengar bergetar.


Bakso berukuran besar disajikan di meja mereka. Aira melotot melihat ukuran bakso yang lebih dari pada umumnya. Dia menatap Delisa memastikan apa tidak salah pesan dan dibenatkan oleh Delisa. "Yakin bakal habis, Del?"


"Yakinlah kan dimakan berdua."


"Tapi ini gede banget,"


"Kalau gak habis ya tinggal bungkus," balas Delisa santai. Perempuan itu bersiap menyantap makanan kesukaan kebanyakan kaum perempuan. "Apapun masalahnya, bakso lah solusinya," jelaskan Delisa.


Delisa menoleh menggunakan ujung matanya. Merasa sedang diawasi.