
Bab 7 Fatal
Hujan tak lagi turun lebat, tapi gerimisnya masih tersisa. Tak mungkin lagi menunggu sampai hujan benar-benar, dr. Andri pun pamit dengan alasan malam sudah larut. Lelaki tampan itu mengucapkan Terimakasih karena sudah jamu meskipun hanya sekedar mie instan kuah.
Lelaki itu berjanji akan mengembalikan hoodie yang dipinjam olehnya. Perhatian kecil yang dia terima dari Aira menggelitik hati kecilnya. Bagong perhatian kecil seperti itu sangat berarti. Sayang selama ini dia tak mendapatkan hal seperti itu.
Kata orang, menikah dengan pilihan sendiri itu sudah pasti bahagia. Tidak bagi Andri. Impian-impiana yang dia bangun sebelum memutuskan berumah tangga kini tak pernah dia dapatkan. Nyatanya setelah berubah tangga selama lima tahun dia tak mendapatkan apa-apa.
Pertengkaran sering terjadi hanya karena masalah kecil. Dia yang usianya sudah kepala tiga harus selalu mengalah pada ego sang istri. Tak ada tempat mengadu selain pada Sang Pemilik kehidupan.
Setiap kali bertandang ke rumah orang tuanya dia berharap bisa mengadu. Tapi orang tuanya selalu mengungkit masalalu dan menyalahkan pilihannya. Dia tak ingin lagi mengadu pada siapapun. Biarlah menjadi beban.
Bicara soal menikah siapapun selalu mengatakan jika mereka ingin menikah hanya sekali seumur hidup. Akan tetapi setip perjalanan menuju keinginan itu selalu ada aral melintang. Selalu ada banyak ujian, entah sikap pasangan, ekonomi, keluarga pun keturunan. Sekali lagi dia sudah terlanjur memilih. 'Bairalah ini menjadi ladang kebaikan untukku,' kalimat itu selalu dia ucapkan sebagai penenang kala pasangannya menguji kesabaran.
Andri masih termenung di dalam mobil. Dia masi enggan meninggalkan tempat itu. Terlebih sikap Aira yang di matanya begitu mengagumkan.
Setalah berdiam diri cukup lama barulah dia melajukan mobilnya ke arah pulang.
Satu minggu berada di Jogja berhasil mengurangi sedikit beban yang selama ini menumpuk di pundaknya. Berharap dengan berjauhannya dia dengan sang istri bisa kembali saling merindukan. Merajuk memintanya pulang.
***
Sang surya kembali memberikan hak pada penduduk bumi. Ia bersinar memberikan kehangatan tanpa pandang bulu. Miskin kaya tak dibedakan.
Andri tengah bersiap. Semalam dia dapat kabar dari temannya tentang tempat untuk pengambangan usaha. Hari ini dia akan memastikan tempat itu lebih dulu.
Hoodie berwarna putih yang digantung pada kastop itu membuat seorang Andri tersenyum entah karena pemiliknya atau karena apa. Yang helas dia tang ingin terburu-buru mengembalikan hoodie berwarna putih itu.
Satu jam perjalanan mengantarkan Andri tiba di depan sebuah ruko. Dia menunggu Reya-sepupu jauhnya.
Semenjak dia melupakan biduk rumah tangganya yang akan dibawa entah kemana. Bertahan sampai maut memisahkan seperti kata orang atau berhenti dipersimpangan jalan. Dimana mereka menemui titik tak sejalan.
Yang ditunggu datang, Reya turun dari ojek online yang mengantarnya. Membetulkan posisi kerudung yang dia kenakan. Memastikan tak ada rambut yang bisa membahayakannya kelak. Reya masih mengegang etar adat ketimuran. Berpegang teguh pada agama yang dia anut.
Reya menghampiri Andri kemudian sama-sama melihat setiap ruangan dari ruko berlantai dua itu. Saling mengeluarkan ide, memperkirakan tatanan letak benda, warna dan nuansa yang akan dibangun. Konsep harus kekinian tentunya instagramable. Anak muda jaman sekarang lebih mementingkan spotpotonya ketimbang minum kopinya.
Pukul dua belas kurang Reya memilih pulang, dia sudah berjanji akan menjemput putranya yang ditiipkan di rumah orang tua. Sementara Andri memilih memasuki kedai kopi di sebrang. Tentunya kedai yang akan menjadi pesain nanti.
Saat dia memasuki kedai tersebut, lelaki jangkung itu menarik salah satu sudut bibirnya saat mendapati bahwa Aira dan juga Delisa ada di sana. Iya, Aira sudah berjanji akan menemani Delisa nyari buku dan mentraktir kopi sebagai imbalan kemarin malam. Mereka tengah berbincang tentang ruko di seberang. Tanpa mereka tahu bahwa orang yang akan jadi pemiliknya sudah mendekat ke meja mereka. Sebuah deheman membuat keduanya menoleh secara bersamaan. "Boleh saya duduk di sini?" Andri menunjuk kursi yang masih kosong.
"Tak ada yang melarang, bebas kok," balas Aira. Sedangkan Delisa menyikut lengan Aira dan memainkan mata menggoda perempuan berusia dua puluh empat tersebut.
"Enggak Delisa doang yang suka kopi," balas Aira
"Iya, Delisa suka kopi tapi kak Aira suka om-nya," timpal Delisa cepat. Seketika perempuan ceriwis itu mengaduh karena kakinya diinjak oleh Aira.
Sedangkan Andri mengernyit menatap heran. Om? siapa om yang dimaksud? mungkinkah dirinya. Andri menatap Aira yang sedang protes pada tingkah Delisa. 'Cantik' kata itu terucap dalam hati.
"Kalau kalian suka kopi nanti mampir di kedai kopi yang akan saya buka. Tempatnya gak jauh dari sini kok, tuh di seberang."
"Ruko itu?" tanya Delisa, "boleh om asal gratis," kekeh gadis itu.
"Delisa ...," protes Aira.
Duh melihat tingkah Aira yang malu-malu membuat hati Andri merasakan getaran. Bibirnya melengkung melukiskan senyum. Entah hanya rasa kagum atau memang getaran yang baru berupa bibit dan akan tumbuh menjadi sebuah cinta. Ah, masih ada kata tapi terselip di dalam sanubari.
"Delisa sama dek Aira saudaraan ya? kalian tuh lucu kayak anak kembar,"
Aira menggelang, "Delisa itu, anak ibu pemilik kontrakan tempat tinggalku, Om. Aku orang Bandung yang mencoba menyambung hidup di kota ini."
"Em, emang ya Jogja selalu punya cerita. Aira ingin menulis cerita juga di sini?"
"Menulis cerita?"
"Iya, misal ketemu jodoh di Jogja, atau mungkin cerita yang lain,"
"Tak ada yang pernah bertamu ke hari esok. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Entah mana yang akan menyapa lebih dulu, entah kebahagiaan atau mungkin kepedihan. Tujuan Aira ke sini karena Aira ingin belajar banyak di kota ini. Mengasah dan mengembangkan potensi Aira dan bukannya hal paling tepat dilakukan saat ingin move on itu hijrah ya." Aira tekekeh di ujung kalima.
'Benar-benar menggetarkan,' begitu kata Andri dalam hati. Beberapa kali bertemu dengan perempuan itu baru kali ini dia berbicara panjang. Sebelumnya selalu ada mendung di riak wajahnya. Dari pertama pertemuan di kereta Andri ingin bertanya tapi rasanya tidak sopan mengingat keduanya baru pertama kali bertemu. Pertemuan kedua ada rasa ingin melindungi dan sekarang pertemuan ketiga menghadirkan debar yang tak biasa.
Sebagai manusia kata andai selalu terselip setiap ada keinginan yang tidak tahu dapat digapai atau tidak. Ujian tak selalu hal berupa hal buruk, hal indah pun bisa jadi ujian. Menguji sejauh mana tingkah keimanan setiap insan.
.
.
.
.
Lagi yuk tekan love dan jangan lupa vote. Kasih tanda cinta kalian pada author dengan berupa dukungan. Terima kasih 😊