Fatal

Fatal
Bab 8



Hari mulai beranjak sore, kedua perempuan tadi izin pamit pada Andri. Lelaki itu menawarkan diri untuk mengantarkan mereka tapi di tolak oleh Aira. Alasannya mereka tidak langsung akan pulang tetapi akan membeli kebutuhan dapur terlebih dulu. Alasan yang diucapkan oleh Aira justru menghadirkan kesempatan baru bagi lelaki yang berproaesi dokter itu. "Oh, mau belanja dulu? Kebetulan saya juga hendak belanja. Gimana kalau belanja bareng saja? Saya baru pertama kali belanja kebutuhan dapur biasanya saya nitip sama orang,"


Aira tampak berpikir. Masa iya dia harus menolak lagi bisa berpikir macam-macam lelaki itu. Sedangkan Delia menarik salah satu sudut bibirnya mengerti sikap yang ditunjukan oleh Andri. Dia hafal betul bagaimana seeokor kumbang berusaha mendekati setangkai bunga. 'Ish, bodoh sekali kak Aira ni," rutuk Delisa dalam hati.


"Boleh ya belanja bareng soalnya saya juga belum tahu kualitas seperti apa yang harus saya beli. Biasanya perempuan kan yang lebih hafal. Delisa terlihat menahan tawa. Ada-ada saja lelaki itu, pake alasan belum tahu kualitas. Ya tentunya ada harga ada kualitas betul begitu bukan?


"Udah kak izinin bareng aja, kan kakak gak pergi berdua doang." Delisa membuka suara seakan mengerti isi pikiran Aira. Andri tersenyum akhirnya waktu untuk dia bisa semakin mengenal kepribadian Aira ada. Soalnya Airasepetinya memang tipe jinak-jinak merpati. Terlihat mudah dirayu nyatanya tidak.


Mereka belanja di sebuah supermarket, Aira dan Andri mendorong troli masing-masing. Sedangkan Delisa memang hanya menemani juga memperhatikan tingkah Andri. Dia yakin lelaki itu memiliki rasa tertarik pada Aira.


Benar. Lelaki itu nyatanya tidak belanja dia hanya memperhatikan setiap gerak dari Aira. Rambut panjang yang diikat ekor kuda bergerak ke kiri dan kanan. Sehingga memperlihatkan tengkuk empunya. Hal tersebut membangunkan sisi kelelakiannya. Jakun Andri terlihat naik turun dan hal itu tertangkap pengawasan Delisa.


Andri menghampiri Aira yang terlihat sedang memilih daging. Modus. Dia bertanya daging seperti apa yang harus dia pilih. Aira menjelaskan sesuai yang iya tahu saja. Selesai memilih daging keduanya beralih pada stand ikan. Diam-diam Delisa mempotret keduanya dari belakang. Mengirimkan foto tadi pada Aira dan akun isntagramnya dibubuhi caption 'Duh manisnya calon manten 🙊'


Sesekali keduanya saling menoleh, mereka lupa kalau merka tak hanya pergi berdua. Akan tetapi bujuk rayu setan membuat mereka sedikit lupa dengan apa yang mereka sendiri pertahankan. Khilaf begitulah orang menyebutnya. Sebagian menggagap wajar sebagian lagi menganggap itu hal yang tak lazim. Apalagi jika mengingat status keduanya. Satu pria bersitri satu lagi seorang gadis yang tengah kembali menata hati.


Mereka sama-sama pergi ke kasir meninggalkan Delisa membuat gadis itu cemberut saat mengahmpiri. "Maaf kakak tinggalin, soalnya kamu fokus ke hp teros," kekeh Aira.


***


Sepanjang perjalanan pulang, bibir Andri tak henti melengkungkan senyum. Rasa yang tak didapat selama ia membiduk rumah tangga dengan istri, kini dia dapat dari seorang gadis yang baru beberapa kali ditemui. Meskipun itu hanya sesaat saja.


Memang bahagia tak memlulu berbau mahal. Hanya sekedar belanja dengan orang yang kita kagumi pun bisa menghadirkan kebahagiaan. Duh mengendalikan rasa agar tak salah tempat itu memang sulit. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu.


***


"Cie yang kesenengan abis jalan-jalan sama calon aya,"


"Hush." Aira mendelik, "jangan gitu, siapa tau dia itu pria beristri," lanjutnya


"Ya gak papa kan, lelaki bebas memiliki lebih dari satu istri." Delisa masih penasaran pada perasaan Aira. Meski sesama perempuan, Aira jarang sekali menceritakan tentang kehidupannya. Selama masih kuat menyimpannya makan akan disimpan oleh sendiri. Tak ingin bergantung pada orang lain, kata itu selalu menjadi salah satu rem dalam setiap tindakannya.


Aira menatap Delisa lekat. Mengatur nafas agar tetap stabil. "Maksud kamu poligami?" Delisa menjawab dengan anggukan. "Del, yang namanya poligami itu tak segampang yang kamu ucapkan. Pertama istri pertama lelaki itu harus siap,"


"Iya, kan ...."


"Tunggu, aku belum selesai. Bagaimana kalau ternyata si istri malah sering nangis diam-diam? Kita hidup di akhir zaman, aku yakin tak ada perempuan yang benar-benar rela berbagi suami. Lagi pula aku juga tidak ingin menyakiti hati sesama perempuan. Bisa kamu bayangkan bagaimana sedihnya kamu saat tau suami yang kamu cintai dan hormati ternyata akan membagi kasih sayang pada perempuan lain. Ridho kah kamu?"


"Iya, kak iya tapi ...."


"Del," lagi-lagi Aria tak mengizinkan Delia menyela. "Kalau memang dia yang tertulis di lauhul mahfuz untuk aku, seberat apa pun rintangannya, sejauh apa pun jalannya tetap akan dipertemukan dititi terbaik menurut takdir. Udah ah bosen bahas ginian mulu." Aira membereskan belanjaannya. Menyimpan pada tempatnya masing masing.


***


Sampai rumah Andri lebih memilih rebahan ketimbang memrapikan belanjaannya. Dia teringat pada sosok yang beberapa minggu lalu bercerita tentang kisahnya. Lama tak mendengar kabar dari dia.


"Dek," pesan terkirim


Lama tak ada balasan, mungkin sid ia sedang sibuk. Andri beranjak ke kamar untuk membersihkan diri. Selesai mandi sia cek kembali pesan yang dia kirim. Ternyata masih belum di baca juga. Bukankah dia berencana untuk mengambil S2.


Aira.


Sebuah notifikasi membuyarkan lamunan Andri. Dia tersenyum menatap foto yang dikirim oleh seorang pekerja di rumahnya. Ada rindu yang sulit dijabarkan. Ribuan kata tak akan cukup untuk menguntainya.


"Makasih,Bi. Apa ibu ada di rumah?" pesan terkirim. Ada rindu ada pula sesal, hanya karena demi ego dia harus meninggalkan putranya.


"Sudah dua hari ibu belum pulang, Pak."


Asataga, Andri mengusap wajahnya kasar. Dia pikir dengan perginya akan sedikit menggoyahkan hati sang istri tapi ternyata dia salah. Dia malah membuat Kenzo-putranya seperti tak memiliki orang tua. Tak ada ibu dan bapak di sampingnya. Tak ada yang memperhatikan dari dekat. Ego kedua orang tualah penyebabnya.


Keluarga dia banyak yang menyalahkan pilihannya. Padahal dia sendiri tak tau akan jadi seperti ini. Kisah yang awalnya manis kini tinggal ampas. Seperti tak ada lagi kasih sayang yang mereka dulu impikan bersama. Membangun keluarga yang penuh cinta dan kasih.


"Iya," balasan dari pesan yang dia kirim tadi. Dikirim pesan jam tiga sore sekarang dapat balasnya jam delapan malam.


"Sehat? jadi ambil kuliah S2?" terkirim.


"Alhamdulillah sehat. Belum, sekarang ade lagi di Jogja, Mas."


"Benarkah? Mas juga lagi di Jogja. Kapan-kapan bisa kita bertemu ya. Ngobrol secara nyata," terkirim.


"Insyaallah kalau adeknya ada waktu."


"Masih sibuk mikirin si dia?" terkirim.


"Enggak, ngapain di pikirin. Nanti juga kalau jodoh gak bakal kemana 😂"


"Kalau ternyata mas yang jadi jodoh mu gimana?" terkirim.


"Enggak mungkin."