Fatal

Fatal
bab 11



"Kak, langsung pulangkan?" tanya Aira saat mereka tengah membayar.


"Iya, tapi shalat Ashar dulu ya, takut waktunya keburu habis kalau nunggu sampe di rumah," jawab Aira. Sejka tadi dia menyadari kegelisahan Delisa. Karena itulah dia mengajak Delisa untuk Shalat dulu. Dengan menemui Sang Pemilik Kehidupan berharap segala rasa takut itu akan memudar. Perlahan hilang hingga yang tersisa hanya kebahagiaan yang berbalut rasa syukur.


Mereka memilih melaksanakan ibadah empat rakaat di masjid yang tak jauh dari tempat tadi mereka jajan bakso. Sesekali Aira memindai sekitar, mencoba mencari tahu apa yang menjadi sumber kegelisahan Delisa. Nihil. Tak ada apa pun yang mencurigakan.


'Wahai Allah Sang Pemilik Hidup, Aku harapkan pelindungan terbaik-Mu. Aku mohon Ridho-Mu atas jalan yang kupilih. Ampuni aku yang memilih menjauhi keluragaku sendiri. Engkau Maha Mengetahui.' Doa yang dipanjatkan oleh Aira.


Delisa sudah menunggu di depan. Matanya memindai sekitar memastikan apa ada orang yang sama yang tadi sempat dilihatnya. Baru saja bernafas lega karena tak menemukan orang itu, Delisa kembali terkejut saat melihat seseorang dengan jaket berwarna kuning menggunakan motor sprot warna hitam berhenti di sebarang.


"Astagfirullah," pekik Delisa saat Aira menepuk pundak.


"Ada apa, Del?" tanya Aira setengah berbisik sambil mengenakan sepatu.


Delisa mengikuti Aira, kemudian dia memeritahukan kegelisahannya. Mengajak Delisa mencoba beberapa kali pindah tempat. Aira juga pura-pura mencari taksi dengan melirik ke kiri dan ke kanan, sesekali melirik ponsel. Benar orang yang memakai jaket warna kuning serta helm dan tengah duduk di atas motor itu juga sempat dia lihat tadi di tempat jajan bakso. Tapi siapa dia? dan apa tujuannya. Apa dia orang suruhan bapaknua dari Bandung atau siapa? Kalau memang suruhan bapaknya kenapa tidak bapaknya menemui dia.


Aira mengehentikan taksi yang kebetulan tengah melaju ke arahnya. Dengan cepat dia memberi tahu tujuan pada sang sopir. Tak lupa dia pun mengatakan tengah di awasi oleh orang yang sedang duduk di atas motor.


Andai takdir mengharuskan celaka maka akan celaka sejauh apa pun berusaha. Andai sebaliknya sesulit apapun keadaan dan manusia berpikir tentang apa yang dilihatnya itu adalah hal yang tidak mungkin maka akan tetap mungkin. Percayalah akan ada jalan terang pada setiap jalan yang terlihat gelap.


Sopir taksi tetap menjaga jaga jarak dengan si motor yang mengikuti. Dia pun meyakinkan dua perempuan yang tengah merasa khawatir bahwa semua akan baik-baik saja. Berprasangka baiklah maka akan semua akan menjadi baik.


Entah apa yang terjadi, tapi sebuah dentuman terdengar begitu keras. Aira dan Delisa menoleh ke belakang ternyata motor tadi jatuh kemungkinan saat si pengemudi tengah berusaha menyalip.


Aira sempat melihat si pengemudi itu memperhatikan mobil yang membawa mereka menjauh. Dalam hati mulai bertanya-tanya tentang siapa dia dan tujuannya apa?


Keduanya tiba di rumah denga. keadaan selamat. Mengucapkan salam saat membuka pintu kemudian merebahkan bobot tubuh pada sofa yang tersedia. Helaan nafas panjang terdengar bersama detik yang terus berdetak.


Apa orang yang mengawasinya tadi adalah orang yang mengawasinya atau sedang mengawasi Delisa. Bisa saja. Pasalnya selama dia tinggal di kota ini tak pernah berurusan dengan seseorang hingga menimbulkan masalah.


Terdiam untuk beberapa waktu, hingga tak sadar waktu terus berlalu. Seruan untuk menunaikan kewajiban pun mulai terdengar bersahut-sahutan.


"Astagfirullah." Aira bangun dari segala diamnya tadi. Segera membersihkan diri sebelum menghadap Sang Maha Mamiliki. Dilanjut dengan murojaah untuk memberikan sedikit ketenangan pada hati yang tengah dilanda rasa khawatir.


Tiba adzan isya dia kembali menunaikan kewajiban. Setelahnya dia memilih merebahkan tubuh sambil menggulir layar ponsel. Mencari referensi untuk mencoba hal baru.


Sesekali dia membaca beberapa novel online di beberapa aplikasi hingga membawanya pada alam khayal sampai lelap menjemput.


Ketika Alarm terdengar tenyata hari sudah berganti.


***


Riuh tempat kerja mulai terlihat, ada yang tengah bersiap, tengah merapihkan penampilan pun ada yang asyik membahas gosip terupdate. Hal semacam itu memang terjadi hampir setiap hari. Kadang berpikir apa mereka tidak bosan membahas hal yang tidak ada hubungan dengan diri sendiri.


Aira menatap tumpuakan berkas yang baru saja di sodorkan oleh atasannya. Maklum akhir bulan. Sebagai seorang karyawan yang bekerja di bagian keuangan maka ini akan menjadi hal paling sibuk untuknya. Aira mulai menyicil pekerjaannya.


"Ra, diminta bu Nurul ke ruangannya!" Salah satu rekan kerjanya memberi tahu.


Aira mengangguk dan segera merapikan berkas yang barus saja dicetak kemudian membawanya menuju ruang sang atasan.


Atasannya mengangguk puas dengan hasil kerja Aira. Cepat tepat dan cermat. Sebuah pujian pun terlontar untuknya. Bolehkah merasa bangga? boleh saja asal tidak ditunjukkan di depan orang lain yang bisa menimbulkan kecemburuan.


Baru saja merasakan bangga pada diri sendiri yang mampu melangkah sendiri sejauh ini, teriakan dari rekan kerja lainnya serta goncangan kuat membuat dia lupa dengan rasa bangganya. Segera dia berlalu mencari tempat untuk berlindung. Sayang, karena rasa panik membuat dia lupa harus hati-hati. Kepanikan semakin bertambah saat Aira tergelincir di tangga hingga terjungkal beberapa kali.


Setelah beberapa saat goncangan itu mulai mereda. Barulah beberapa rekan sejwatnya menghampiri dan menolong.


"Bawa ke rumah sakit aja cepat," perintah salah seorang. Sementara yang lainnya mencoba membantu Aira untuk bangun.


Aira tidak pingsan hanya saja terjungkal beberapa kali da membentur lantai membuat matanya enggan untuk dibuka.


'Allah sampaikan permintaan adiku pada bapak andai ini hari terkahirku untuk melihat dunia.' hanya doa itu yang Aira ucapkan dalam hati. Setelahnya dia tak ingat apa-apa lagi.


"Ra, Ra bangun Ra!" Seorang perempuan menggoyahkan tubuh Aira.


"Udah-udah ayok bawa," timpal yang lain.


Aira dibawa ke rumah sakit yang dekat dengan tempat kerjanya. Dokter Andri yang kebetulan sedang tugas di bagian UGD langsung bertindak sigap. Apalagi saat dia melihat perempuan yang tengah tergeltak di ats blangkar iti adalah perempuan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.


Rasa takut dan khawatir jelas dirasakan oleh dokter itu. Memang yang namanya takdir bukan ditangan manusia, tapi sebagai manusia wajib untuk berusaha. Yang menjadi ketakutannya saat ini adalah bagaimana kalau usahanya tak berhasil.


"Sus, segera bersihkan lukanya!"


.


.


.


.


. Maaf ya authornya hilang timbul,