
Aira disarankan untuk rawat inap satu malam. Sebelumnya Aira lebih dulu menolak karena dia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, toh hanya luka pada kening dan rasa linu pada beberapa bagian tubuh saja. Nanti pun akan sembuh seiring waktu. Akan tetapi dokter Andri tetap kukuh kalau Aira harus dirawat dengan alasan untuk benar-benar memastikan kondisi kesehatan Aira.
Semua itu didasari oleh rasa khawatir dari dokter yang menanganinya. Dokter yang tidak bisa membunuh rasa yang mulai tumbuh. Padahal dia menyadari kalau hal ini adalah kesalahan besar nan fatal. Pasalnya dia bukan pria lajang yang bisa seenak hati menempatkan rasa. Apa hendak dikata rasa itu tumbuh secara tiba-tiba dari pertemuan-pertemuan yang tak disengaja. Andai bisa menghindar maka dia akan melakukan itu tapi apa daya dia hanya manusia yang tak luput dari dosa khilaf. Khilaf karena tak mampu menjaga pandangan, kemudian tak bisa mengontrol rasa dihati yang bergejolak.
Apalagi saat dia meminjam ponsel Aira dengan alasan untuk memberi kabar pada Delisa dan Ibu Kost-nya. Tak sengaja dia melihat aplikasi yang sama dengan yang sering dia gunakan. Terdorong rasa penasaran, dia membuka aplikasi tersebut. Hal yang mengejutkan dia lihat di sana. Barisan pesan seperti yang dia kirim untuk si gadis galau yang sedang patah hati. 'Kenapa mirip dengan pesan yang kukirim untuk gadis galau itu?' lelaki itu bertanya dalam hati. Menatap Aira sejenak kemudian kembali pada layar ponsel.
"Sudah kan, Dok?" Pertanyaan Aira mengalihkan perhatian dokter yang tengah menatap layar.
"Em, sudah. Sudah saya kabari Delisa tapi memang belum di balas."
Aira mengangguk dan menerima ponsel yang disodorkan oleh dr. Andri.
'Apa iya, Aira dan si gadis patah hati adalah orang yang sama? Tapi pesan tadi ...' gumam dr. Andri. Kalau memang iya, berati perasaan itu bisa saja bersambut. Akan tetapi tak ada yang tau apa yang akan terjadi esok. Apalagi jika mengingat statusnya saat ini.
Dia pamit bersama perawat yang mengiringi. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tempat Aira di rawat, dia menyempatkan mengirim pesan. Bukan menggunakan aplikasi pengirim pesan seperti biasa melainkan menggunakan aplikasi tadi.
"Apa kamu sakit, Dek? Kok mas tiba-tiba keinget kamu?" Begitu isi pesan yang dr. Andri kirim.
Saat mendengar notifikasi mata Aira yang semula hendak tertutup kini terbuka kembali. Pura-pura mengingatkan Aira untuk istirahat, dr. Andri menoleh. Padahal dia ingin memastikan. "Ah iya, saya lupa mengingatkan istirahatlah yang cukup. Main ponselnya nanti saja." Perkataan dokter itu membuat si perawat menahan senyum. Pasalnya dia paham gastur dan mimik yang ditunjukan oleh dokter tersebut.
Aira mengangguk. Setelah dokter dan perawat tadi hilang di balik pintu barulah dia membalas pesan yang tadi dia terima. "Enggak sakit sih, tapi tadi emang mengalami insiden kecil kok." Pesan terikirim.
Baru beberapa langkah dokter itu meninggalkan ruangan Aira, garis bibirnya kembali membuat lengkungan. "Bukan kecil kalau sampai menimbulkan luka dan sampai harus dirawat, Dek." Pesan terikirim.
Aira mengerutkan kening membaca pesan balasan yang dia terima. "Kok dia tau aku dirawat?" bertanya pada diri sendiri.
"Kok mas tau aku dirawat?" Pesan terkirim.
"Jelas tau karena perasaan tak pernah bohong,"
"Malika dong 😂"
Dua manusia tengah tersenyum menatap layar yang sama di tempat yang berbeda. Sejak pertama kali chat di aplikasi tersebut beberapa waktu lalu, Aira memang merasa nyaman saja bercerita dengan pemilik username 'Love but Hate'. Akan tetapi dia mengingatkan diri sendiri untuk tidak berharap lebih. Tak pantas berharap pada sesama mahkluk sebab awal atau akhir, cepat atau lambat rasa kecewa akan menghampiri.
Rasa yang awalnya hanya ditunjukan sebagai bentuk empati kini telah berubah. Bertunas menjadi rasa yang penuh harap. Sikap Aira yang dia lihat secara nyata benar-benar telah menggetarkan segumpal daging yang sulit untuk berbohong.
Andri menghela nafas panjang dan menghebuskannya secara perlahan untuk memberikan ketenagangan.
***
Jam praktek Andri sudah habis akan tetapi dia tak berencana untuk pulang. Bisikan itu telah mengahsutnya untuk melangkah menghampiri ruang rawat Aira.
Mata Aira masih terpejam. Melihat ada kesempatan, Andri mengeluarkan ponsel daei saku celana. Memfokuskan lensa kameranya pada wajah yang matanya masih terpejam. Mengambil beberapa gambar untuk dia tatap kala rindu mulai menggebu.
Aira menggeliat, kemudian matanya perlahan terbuka dan menyesuaikan dengan cahaya. Matanya menyipit saat tatapannya bertemu dengan wajah teduh yang tengah tersenyum. 'Kok diperiksa lagi?' tanya Aira dalam hati. 'Mau dipwriksa tapi kok gak sama suster? gak pake baju dinda lagi?' rentetan tanya hadir di benak Aira.
"Loh kan saya gak tanya, Dok?"
"Kamu memang gak bertanya dengan kalimat tapi dengan ekspresi." Jawaban Andri membuat Aira terkekeh.
"Jadi orang jangan kelewat pintar, Dok. Kan saya gak bertanya, tapi ya heran aja kirain mau diperiksa lagi. Tapi masa iya dokter yang meriksanya gak pake jas dokter sama gak ditemani perawat."
"Kalau saya gak boleh pintar terus bagaimana saya harus menjalankan tugas saya. Masa dokter gak bisa menyelesaikan masalah kesehatan pasien-nya." Andri menarik kursi yang tak jauh dari tempat Aira bebaring. "Kalau gak pintar nanti saya diketawain sama pasien."
Keduanya sama-sama tertawa. Ada rasa yang berdesir saat bisa duduk bersama dan bebrincang seperti ini. Apalagi melihat Aira yang tak lagi kaku, bisa tertawa lepas meski detik berikutnya perempuan itu membekap mulutnya sendiri.
"Dokter gak pulang?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Aira setelah hening memeluk keduanya beberapa saat.
"Enggak,"
"Kenapa?" tanya Aira lagi.
"Karena saya ingin memastikan keadaan kamu."
Basa-basi itu terhenti kala pintu didorong dari luar. Munculah wajah panik Ibu kost bersama Delisa. "Astagfirullah, Nak. Kok bisa seperti ini sih? Maaf ibu baru jenguk soalnya Delisa juga baru pulang dari kampus." Sedikit sesal terlihat pada wajah berusia empat puluh delapan tahun itu.
"Kak Aira maaf," rengek Delisa. Persis seprti seorang adik yang tengah meminta mainan yang direbut oleh kakaknya.
"Enggak papa, Del. Kan aku mah strong."
"Stres gak ketolong gitu?" tanya Delisa dengan ekspresi yang membuat semua yabg ada dalam ruangan tersebut tertawa.
"Eh ini?" Ibu kost menatap Aira dan dokter Andri berganti. Meminta jawaban pada keduanya.
"Ini dokter Andri, Bu. Dokter yang nangani aku tadi ...." Belum sempat Aira menyelesaikan kalimatnya, Delisa lebih dulu berdehem. Seolah tengah mengejek. Pasalnya dia yakin perhatian dokter itu bukan sekedar dokter dengan pasien. Akan tetapi ada hal lain.
Jika tak melihatnya sendiri maka tak akan percaya. Jika tak mencicipi maka tak akan tau bagaimana rasanya.
"Apasih, Del?" protes Aira. Sedangkan Andri tetap bersikap tenang. Toh apa yang dipikirkan Delisa itu memang kenyataannya.
"Jadi kapan?" lagi-lagi Delisa melemparkan bola panas panas pada keduanya. Membaut Aira semakin mendelik.
Memang Aira mengakui ada rasa yang sulit untuk dijabarkan saat berada di dekat Andri. Akan tetapi dia tidak ingin menyimpulkan begitu saja. Bisa saja rasa itu hanya sekedar rasa kagum sesaat yang akan lekang seiring waktu.
"Enggak papa toh, Ai. Lagian kamu juga gak mungkinkan lama-lama sendirian terus. Dokternya ganteng kok." Ibu kost menyiramkan bensin pada bola panas yang tadi dilemar oleh Delisa.
"Bu,"
"Ah ibu bisa saja." Dokter itu menanggapi dengan sopan. Dalam hati bersorak senang, setidaknya ada kalimat dukungan yang dia tangkap. Menjadi bahan bakar untuk terus melaju. Meski ada rasa bersalah saat hati kecil mengingatkan status dirinya. Pria beristri.