Fatal

Fatal
Bab 17



Jika tak mampu memberikan bahagia setidaknya jangan menorehkan luka. Saat akan melangkah, pastikan tak ada sisa ikatan masalalu pada dirimu agar tak tersandung. Jangan biarkan dia hidup dalam bayangan orang lain itu sangat menyakitkan.


Kalimat itu terus terngiang dalam benak Andri setalah dia mengantarkan Aira pulang. Dia memejamkan mata untuk mengusir gundah yang setia memeluk dirinya. Rasa bersalah mulai menelusup dalam dada, hatinya bertanya kenapa tuhan seolah tak mengizinkan dirinya untuk meraih bahagia. Dia lupa dengan rasa syukur.


"Kamu sudah pulang, Dri?" Seketika mata yang tadi hampir menjemput lelap langsung terbuka. Terlihat kedua orang tuanya berdiri tak jauh dengan dirinya. Andri mengucek mata beberapa kali takut retina-nya salah tangkap.


"Kok mama sama papa ada di sini?" Kenapa gak ngabarin aku dulu?" Beralih memposisikan diri untuk duduk.


"Gimana mau ngabarin Dri, ponsel kamu saja sejak tadi gak aktif-aktif."


Andri ingat kalau ponselnya memang belum di charger sejak kemarin malam.


"Mama udah masak makanan kesukaan kamu tuh, masih tersedia di meja," mama Andri menunjuk meja makan.


Ingin menolak tapi merasa sungkan tetapi perutnya memang tak mungkin lagi untuk diisi. Andri mendesah.


"Kamu gak suka mama masakin?" tanya mama saat melihat Andri tak beranjak. Sedangkan papa sudah duduk di dekat putranya.


"Bukan gitu ma, tapi Andri udah makan sebelum pulang." balasnya


"Sama perempuan 'kan?" Pertanyaan papa membuat Andri menoleh pun dengan mamanya. Diamnya Andri menjadi jawaban bagi pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Akan tetapi pria itu masih terlihat gagah karena ditunjang pola hidup sehat pun dengan makanan sehat.


"Dri?" Mama minta penjelasan dari Andri. Perempuan itu pun duduk di dekat putranya yang memilih diam untuk beberapa saat.


"Papa bukan ingin menghakimi, Dri. Hanya mengingatkan, kamu masih memiliki seorang istri dan tentunya ada anak di dalamnya. Apa tidak menyakitkan saat dua perempuan yang hadir dan merasa istimewa dalam hidupmu mengatahui satu sama lainnya. Anita akan merasa tersakiti karena kamu telah dzolim padanya. Pun dengan perempuan baru itu."


"Andai kamu ingin memulai satu hubungan baru, setidaknya selesaikan dulu kisah lama." Papa menarik nafas dalam saat menjeda kalimatnya. "Tetapi andai perahu rumah tanggamu masih bisa diperbaiki, cobalah perbaiki." Papa mencoba menasihati anak lelakinya.


"Tapi, Pa, Nita-nya kan..."


"Shuuut. Jangan katakan keburukan pasangan di belakangnya. Itu hanya akan terlihat seolah kamu tengah mengadu. Ajak istrimu untuk bertemu Mama dan Papa! itu akan lebih baik ketimbang kamu mengadu sendiri."


***


Dering dari ponsel Nita terdengar beberapa kali tetapi perempuan itu masih mengabaikannya. Riza mengambil ponsel itu dan menyodorkannya pada Nita. "Suami-mu!"


"Tau, tapi aku masih malas bicara sama dia."


Nita mengambil ponsel yang disodorkan oleh Rizan sedikit kasar. Dia merasa tak suka dengan nada bicara lelaki yang masih berdiri menatapnya. Bagi Nita, Rizal terlalu ikut campur. Nita mematikan ponsel itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Kalau gue mau bicara, gak perlu dia yang telepon duluan." Nita melangkah meninggalkan Rizan. "Oh iya, satu lagi, gak usah terlalu ikut campur."


Rizan membuang nafas kasar saat Nita semakin menjauh darinya. Dasar perempuan bebal, umpatnya dalam hati.


***


Andri menatap nomor yang tertera pada layar ponsel. Entah sudah berapa kali dia melakukan panggilan pada nomor itu tetapi tetap saja tak ada satu pun yang terjawab. Sekarang malah nada sambung dari operator yang terdengar. Nomor Nita tidak aktif.


Masalah tidak akan selesai jika duduk permasalahannya tak ditemui. Saling menghindari merupakan bukan solusi yang tetap, apalagi keduanya terikat dalam kata yang disebut rumah tangga.


Sebelum matanya tertutup untuk menjemput lelap, lelaki itu mengirim pesan pada lebih dulu pada pengasuh anaknya.


***


Lepas Isya, Aira mulai merinci perlengkapan yang harus dia beli besok sepulangnya dadi bekerja. Sesekali dia melirik ponsel yang sejak tadi tergelatak di sampingnya. Berharap ada notif berisi pesan dari orang yang di harapkan. Akan tetapi sampai rincian itu selesai dan kantuk mulai menghampiri ponsel itu masi berada paxa mode sama yaitu sepi.


"Lagi-lagi kamu berharap selain pada pemilik mu, Ra. Wajar saja jika sakit kembali jadi temanmu." Aira bicara sendiri sambil membereskan alat tulis yang tadi digunakan. Dia mulai terbiasa dengan apa yang disebut kerapiahan.


Tak ada lagi pakaian kotor yang terongok di sudut kamar. Tak ada lagi meja rias yang berantakan pun dengan lantai yang kini jarang terlihat benda berserakan. Kamarnya selalu rapi dan wangi.


Sebelum tidur kembali dia cek ponselnya tapi tetap saja tak ada notifikasi dari siapapun. Emang begitu derita seorang jomblo 😁


Seorang yang tidak punya kekasih lebih sering membaca pesan lama dari orang terkasih. Bahkan bisa sampai berulang kali. Bener gak? Bener aja sih.


Pun itu yang dilakukan Aira dia membaca pesan dari tanggal pertama chat itu masuk. Sampai tak sengaja dia menekan tombol panggil tak lama terlihat berdering. Asataga dia panik dan segera mematikan ponsel lalu meletakkannya di bawah bantal. Padahal menaruh ponsel di bawah bantal itu tidak baik.


Menaruh ponsel di bawah bantal bisa berakibat buruk salah satunya ponsel bisa meledak. Selimut, bantal, secara alamiah bisa menerap panas sehingga membuat suhu ponsel lebih tinggi. Kedua pengaruh dari radiasi elektromagnetik ponsel bisa mengurangi kualitas tidur.. Sehingga saat bangun tak jarang kita mengalami pegal dan pusing.


Tak lama ponsel yang tadi disimpan di bawah bantal terdengar berdering. Aira semakin panik saat nomor yang tertera adalah nomor dr. Andri.


"Angkat? Jangan? Angkat? Jangan? Kalau diangkat aku mesti bilang apa? Kepencet? Ah enggak enggak." Bertanya sendiri dijawab sendiri pula sambil berguling guling. Meski Andri tak sedang menatapnya, tetapi rona di pada wajah mulai terasa panas.