Fatal

Fatal
Bab 3



Sebuah rekaman suara berisi lagu yang berjudul "Risalah Hati" masuk di gawai Aira. Dia menolah ke kiri dan ke kanan untuk menemukan orang tersebut. Sayangnya orang itu tak kunjung ditemukan oleh Aira. Saat melirik jam di layar benda pipih berukuran lima inch itu dia baru sadar dan dia harus segera pulang. Bukan karena takut karena panggilan dari sang ayah sejak tadi diacuhkannya tapi karena sadar kalau dia melewati kewajibannya sebagai seorang muslim.


Sepanjang perjalanan pulang hati Aira terus merapalkan kalimat istighfar, mengharap ampunan dari Dzat Sang Pemilik Kehidupan. Lagi dia tersadar kalau patah hati telah membuatnya lupa pada apa yang selalu dipesankan oleh ibunya.


Saat tiba, lampu rumah sudah terlihat gelap. Wajar mungkin para penghuni rumah sudah pada mengarungi samudera mimpi, begitu pikir Aira. Begitu Aira masuk seketika lampu langsung menyala. Sang ayah berdiri di depan pintu kamarnya sambil bersedekap tangan. Matanya menatap tajam ke arahnya. Aira tidak kaget, sebab ini bukan kali pertamanya sang ayah bersikap seperti itu.


Hari ini terasa cukup berat bagi Aira, dia sudah tidak punya sisa tenaga kalau harus berdebat. "Maaf." Hanya satu kata itu saja yang keluar dari mulut perempuan itu. Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah dia lebih dulu masuk ke dalam kamar.


Malam semakin larut tapi Aira tetap memaksa tubuhnya agar mandi. Setidaknya setiap Air yang menyentuh kulitnya memberikan sedikit kesegaran. Ah, Aira yang malang, ucapnya saat menatap bayangan diri pada cermin di kamar mandi.


Sebelum tidur Aira menyempatkan menemui Sang Pemilik Kehidupan, meskipun dia sendiri merasa malu karena dia mengadu saat dia sendiri merasakan hidupnya tidak baik-baik saja. Lama dia mengadu, air mata pun sampai menganak sungai membasahi kain shalatnya.


Setelah merasa hatinya sedikit tenang, segera dia melipat kain shalat serta sajadah dan menyimpannya di tempat biasa ia meletakkan. Berhubung rasa ngantuk tak kunjung datang, dia memilih membuka laptop, mencari tahu tentang bagaimana kehidupan di sebuah kota yang sekiranya akan dia jadikan pelarian. Itu pun kalau keadaan tak kembali sesuai dengan keinginannya. Jogjakarta, iya sepertinya daerah itu akan menjadi tujuannya. Di sana dia bisa melanjutkan mengambil kuliah S2 atau mungkin melakukan hal lain.


Sebuah notifikasi mengalihkan perhatian Aira. [Belum tidur, Dek?] Ternyata pesan dari teman barunya itu.


[Belum,] pesan terkirim


[Masih galau? lagu tadi berarti cocok ya 😊]


Aira merasa nyaman dengan orang yang baru dikenalnya kemarin itu. Tutur bahasa laki-laki itu menujukan sikap kedewasaannya. Ah andai laki-laki seperti itu tak hanya ada di dunia maya. Bibir Aira melengkung saat membayangkan laki-laki seperti itu menjadi teman hidupnya nanti.


***


Pagi yang cerah membuat mereka yang sedang bersikap beraktifitas merasa senang. Hal itu tidak berlaku bagi seorang Aira pagi ini. Mereka yang lebih dulu berada di meja makan terlihat asyik berbincang. Aira tidak berminat untuk bergabung. Dia memilih membuka lemari es, mengambil susu kemudian menghangatkannya.


Melihat Aira memanaskan susunya sendiri, membuat hati Amira tergerak untuk membantu. Baru akan melangkah dia menurunkan kembali niatnya mengingat sudah pasti niat baiknya akan di tolak oleh Aira. Padahal dalam hatinya dia ingin sekali dekat dengan perempuan berusia dua puluh lima tahun tersebut.


"Enggak sarapan, Ra?" Aida bertanya saat Aira berlalu tanpa menyapa mereka.


"Gak tertarik,"


"Tapi nati sore kamu pulang cepat kan?" lagi, Aida melontarkan pertanyaan. Melihat Aira tak memberikan respon apapun membuat Aida kembali bersuara, "Nanti malam kita akan makan malam sama keluarga Ziad. Kalian kan teman baik, jadi kamu bisakan ikut bergabung?"


Aira hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban, malas sekali dia mengeluarkan suara. Dia menganggap mahal suaranya, jadi sekiranya ada hal yang dianggap tidak terlalu penting, pantang bagi dia berbicara banyak.


Satu gelas susu dianggap cukup oleh Aira sebagai sarapan, dia kemudian menggulir layar ponselnya hendak memesan ojek online. Dia yang hendak melangkah terpaksa menghentikan langkahnya saat mendengar sang ayah meneriakkan namanya.


"Aira!" Teriak sang ayah. Aira menolah tapi tidak menjawab. "Semakin hari kamu semakin kurang ajar. Dimana sopan sabtu yang dulu bapak ajarkan? Aida, ..." Bapak menunjuk putrinya yang masih berdiri di dekat meja makan. "Aida adalah kakakmu, Amira adalah ibumu yang harus kamu hormati, salah apa dia sampai kamu menunjukan sikap tidak hormat seperti itu?"


Nafas Aira terasa tercekat di tenggorokan, dia menolah pada Aida. "Iya, mereka tidak punya salah, Aira hanya capek. Maaf." Nada suara Aira terdengar bergetar bukan karena takut tapi karena dia merasa cape bersikap seperti itu. Semua sikap yang dia tunjukan hanya ingin bapaknya menyadari kesalahannya. "Maaf." Sekali lagi Aira berkata sebelum akhirnya dia melangkah saat melihat ojek online yang dipesannya sudah tiba.


Sepanjang perjalanan Aira hanya menikmati lamunannya, berbicara pada hatinya, berdisuksi dan berusaha menghibur diri. Dadanya terasa sesak, dia ingin menangis tapi dia harus tetap tegar.


Ojek yang ditumpanginya berhenti di depan pintu gerbang. Selembar uang seratus ribu dia sodorkan, tanpa menunggu kembalian dia meninggalkan ojek online tersebut.


Sampai di meja kerja, dia kembali memeriksa hasil kerjanya kemarin. Memastikan agar tidak mengulang kesalahan. Aku harus menunjukan sikap profesional meski entah sampaikan aku akan bertahan, gumamnya.


"Tumben, Ra" Ziad yang baru datang kemudian menyapa. Dia merasa ada yang berubah dari Aira sejak jari ulang tahunnya.


"Enggak tumben sih, karena tuntutan pekerjaan," jawab Aira tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.


Jutek amat, lagi datang bulan kali, ucap Ziad dalam hati. Sebenarnya dia ingin berbincang dengan Aira dan mengingatkan perempuan itu untuk datang nanti malam. Akan tetapi melihat sikap calon adik iparnya seperti itu rupanya tidak akan memungkinkan untuk diajak bicara.


"Kalian lagi berantem ya?" Eren yang baru datang berbisik pada Ziad karena sebelumnya sempat memperhatikan interaksi keduanya.


"Sotoy, Lu," jawab Ziad meninggalkan Eren dengan rasa penasarannya.


Duh jatuh cinta itu memang ribet ya? Apalagi saat cinta kita tak bersambut, nyesek sampe ke tulang. Kita yang berharap tapi dia yang dapat duh serasa dunia sedang menghakimi kita. Padahal kita sendiri sama-sama tau cinta itu tak bisa dipaksa. Benar, Kita jangan terlalu mencintai makhluk ciptaan-Nya sebab kecewa akan didapat.


.


.


.


.


. love sama bunganya ditunggu ya manteman 😊