Fatal

Fatal
22



Pintu itu akhirnya dibuka, menampakan senyum yang dipaksakan. "Ada apa, Del? Kakak mau istirahat."


"Gara-gara ni orang nih, rese. Noh ngomong orangnya ada di depan mata." Delisa kalau kesengannya terganggu maka sikapnya akan begitu. Tapi hari ini dia bersikap seperti itu selain karena kesenangan yang terganggu, juga karena semalam dia yakin ada sesuatu yang terjadi dengan keduanya.


"Makasih ya, Del. Nanti mas top up-in saldo Gopay."


"Gak usah makasih," balas Delisa langsung meninggalkan keduanya.


Sekarang hanya ada Aira dan Andri yang tak dapat izin masuk. Dia hanya berdiri di depan pintu. "Boleh ngobrolnya di dalam aja, Ra?"


"Gak bisa, gak ada orang lain yang menemani."


"Tapi ini menyangkut kita..."


Belum Andri menyelesaikan kalimatnya, Aira lebih dulu memotong. "Sejak kemarin dan seterusnya gak ada yang namanya kita. Masih kurang jelas?" tanya Aira. Wajahnya datar tak menampakan ekspresi sedih sama sekali.


"Kamu gak tau alasan aku melakukan itu semua. Tapi aku gak bisa jelasin sambil berdiri kek gini."


"Mas... Aku gak mau tau alasan kamu. Karena ini gak akan ada kelanjutannya. Cukup mas, jangan kamu bikin aku tambah malu. Berhenti jangan lagi ingin menjelaskan apa pun padaku. Pulang ke rumah istrimu, sebab aku tak akan menerimamu. Ini kesalahan fatal yang pernah aku lakukan."


"Tapi aku mencintaimu."


"Jangan kamu mengatas namakan cinta untuk menutupi sikap ketidak beranian yang kamu miliki. Aku tak percaya cinta. Pulanglah aku mau istirahat."


"Tunggu Ai." Pintu sudah kembali tertutup dan terdengar dikunci dari dalam.


***


Hal yang berbau selingkuh pasti akan lebih cepat menyebar saat sosial media lebih banyak diminati.


Tampak jelas wajah Aira di sana. Sehingga ponselnya tak henti menunjukan adanya notifikasi masuk. Menanyakan kebenaran yang tertera di layar.


"Aira, apa benar itu kamu?"


"Ra, kamu pelakor?"


"Aira katakan itu bukan kamu?"


"Gak nyangka ya, ternyata Aira yang katanya enggan pacaran malah memilih jadi lakor. Dia pikir lakor lebih keren kali."


Beberapa pesan yang nampak pada pop up layar.


Aira mengusap wajah yang tampak gusar. Dia sudah menduga akan terjadi hal ini setelah labrak dadakan itu. Aira pikir dirinya akan mampu menghadapi ini, akan tetapi nyatanya tidak. Untuk sesaat dia terlihat bingung.


Dia hanya menatap layar yang tak kunjung diam.


***


Ketukan pada pintu terdengar kembali, kali ini sedikit memaksa. Aira mengintip sebentar dari balik tirai. Ibu dan Delisa berdiri di sana sambil mengetuk pintu tidak sabaran.


Pintu terbuka. Delisa dan Ibu masuk. Sejenak, keduanya memperhatikan wajah Aira. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Ibu mengawali pembicaraan.


Aira menggelang lemah.


"Ibu sudah lihat video itu?" tanya Aira.


Delisa dan Ibu mengangguk membuat Aira bingung untuk menjelaskan. Dia sendiri tidak tahu siapa wanita yang melabraknya itu. Apa itu istri Andri atau bukan?


"Aira bingung harus menjelaskannya, Bu." Aira berucap pelan sambil menunduk.


"Katakan saja, Ra!" ucap ibu sambil mengangguk lalu dia raih tangan Aira. "Ibu tidak akan menyalahkan. Tapi kamu perlu terbuka agar ibu tidak salah paham."


"Kemarin..." Aira pun mulai bercerita bagaimana manisnya Andri saat mengungkapkan perasaan padanya. Sampai pada akhirnya kisah yang baru genap 24 jam itu harus berakhir. "Dan akhirnya seperti yang ibu lihat, aku dilabrak seorang perempuan tadi sore."


"Sialan ya ternyata lelaki itu," sela Delisa di tengah percakapan Aira. "Pantas saja tadi dia ngotot ingin ketemu kak Aira."


"Kamu mencintai dia?" Ibu melemparkan pertanyaan yang sulit untuk Aira jawab.


"Aku... Ku akui iya, Bu. Tapi ini salah dan semestinya tak boleh terjadi." Aira mengusap sudut matanya.


"Bener-bener ya dokter itu, tenang kak nanti aku jambak rambutnya. Laki-laki emang gitu semua," sungut Delisa.


"Bapak engga kok, Del," timpal suami si ibu yang baru datang menyusul anak dan istrinya.


***


Tersebarnya video Aira yang tengah dilabrak menjadi titik terang pencarian keluarganya di Bandung.


Bapa mengusap dada beberapa kali saat menonton vidio yang diputar Aida. "Anak itu selalu saja buat masalah. Bapak gak ngerti tujuan hidup dia apa."


"Jangan berprasangka buruk dulu, Pak. Siapa tau perempuan itu salah labrak." Ibu yang duduk di sebelahnya mencoba tak memantik amarah sang suami. Bukan sedang ingin mencari muka.


"Ini daerah mana?" tanya Bapa pada Aida.


"Di kolom komen banyak yang nyebut ini di Jogja, Pak."


"Jogja? Astaga kenapa gak kepikiran kalau Aira pergi ke sana. Kan banyak sanak saudara yang tinggal di sana."


"Aku harus jemput dia, gara-gara dia kan Aida kamu menunda pernikahan?"


"Emh," Aida terlihat bingung untuk memberikan jawaban. Itu benar dia menunda rencana pernikahan dengan Ziad. Pertama karena dia ingin Aira menyaksiakan hari kebahagiaan itu. Dia tidak ingin menikah sementara saudaranya entah di mana.


Kedua, alasan karena dia belum yakin Ziad mencintai dirinya setelah laki-laki itu salah menyebut nama.


"Benarkan, Aida?" Bapak bertanya lagi.


Ibu menatap, dari tatapan itu menyiratkan kalau Aida tidak boleh membenarkan pertanyaan dari suaminya.


Bapak mendengus karena tak mendapat jawaban dari Aida. Lelaki itu meminta calon menantunya menemani untuk menjemput Aira.


Setengah jam kemudian Ziad sudah tiba di rumah calon mertua. Seulas senyum dia berikan pada Aida-calon istrinya.


"Aira kok ya sampai sejauh itu ya," ucap Ziad sambil melirik Aida.


"Gak ngerti juga aku, kenapa dia tiba-tiba meninggalkan rumah, terus sekarang ada dalam vidio itu," balas Aida.


"Aira itu seperti teta-teki yang sulit dipecahkan karena dia jarang terbuka sama kita. Dari sejak kedatangan aku dan ibu di rumah ini aku tak bisa akrab dengan dia. Mungkin dia merasa terganggu dengan kedatangan kami."


"Maksudnya?" Ziad mengerutkan kening.


Aida hanya mengedikkan bahu, dan melambaikan tangan saat Bapak mengajak calon suaminya untuk segera berangkat.


Perjalanan Bandung-Jogja memakan waktu lebih dari tujuh jam. Sehingga saat mereka sampai waktu sudah dini hari.


Bapak dan Ziad memilih istirahat lebih dulu di sebuah penginapan. Apalagi mereka belum tau lebih jelas tempat tinggal Aira.


Diakui atau tidak, adanya internet memang memudahkan seseorang dalam mencari informasi. Lewat komentar pada vidio viral itu akhirnya Ziad mulai menemukan titik yang memungkinkan menemukan Aira.


Senyum kelegaan tergambar jelas pada wajah yang kusut karena kurang tidur itu.


Semalam dalam perjalanan meski begantian dalam mengemudi tetap saja Ziad tak bisa tidur. Sungkan sama calon mertua. Mana mungkin dia terlelap sementara calon mertuanya mengemudiakan mobil seorang diri.


Ziad tidak mau dicap sebagai menantu yang kurang bakti. Dia terkekek mengingat kalimat itu. Sejurus kemudian kekehan itu sirna saat mengingat Aira. Benarkah perempuan itu pergi karena kecewa pada dia?


...


Selamat membaca, semoga suka. Tinggalkan jejak ya!