
"Bapak." Aira kaget saat membuka pintu. Ternyata yang mengetuk pintu sebegitu keras bukan Delisa. Biasanya kan memang gafis itu yang selalu bertingkah seperti debt collector.
Aira menunduk saat tatap tajam dari Bapak terlihat begitu menghujam. Saking takutnya perempuan itu lupa mempersilakan tamunya untuk masuk.
"Masuk, Pak!" Setelah sepersekian detik dia diam.
"Jadi berbulan-bulan..." Ziad menggelangkan kepala sambil menyentuh tangan calon mertuanya. Dia mengingatkan agar lelaki yang usianya hampir setengah abad itu bisa mengontrol emosi.
"Eh, ada tamu, Ra?" seloroh ibu yang baru datang lagi sejak tadi malam sudah mengetahui tentang pelik yang dihadapi Aira.
"Bu," sapa mereka bersamaan.
Mereka berkenalan, saling menyebutkan nama. Barulah Bapa mengatakan tujuan kedatangan. "Saya sangat berterima kasih atas kebaikan ibu selama beberapa bulan ini pada putri saya. Tapi Aira tidak bisa selamanya di sini, dia harus segera kembali."
"Kalau saya sih gak punya hak untuk menahan Aira, Pak. Tapi kalau Aira mau ke sini lagi nanti pintu rumah saya selalu terbuka."
"Terima kasih, Bu," serempak ketiganya mengucapkan terima kasih.
"Maaf jika selama di sini Aira banyak merepotkan Ibu," lanjut Bapak. Tidak sekalipun lelaki itu mengucapkan putrinya.
Kemarahan yang menggulung sungguh telah menutup hatinya.
Dibantu oleh Ibu kost Aira mengemas barang-barangnya. Sungguh Aira tak ingin pulang dari sini. Sebab di sinilah dia merasa menemukan apa yang disebut keluarga.
"Titip salam sama Delisa ya, Bu," ucap Aira sebelum mobil yang ia tumpangi mulai melaju.
Hening....
Setelah melewati perjalanan hampir tujuh jam Aira masih tak mengeluarkan suara. Sebab bapak hanya bicara dengan Ziad.
Enggan menambah penat pada pikiran, Aira memilih untuk tidur. Perasaan baru saja dia memejamkan mata Ziad sudah membangunkannya. "Kenapa, Ad?"
"Tenaga perlu di charger, Ra. Aku gak bisa nginjak pedal gas kalau tak ada tenaga." Ziad memasang wajah memelas membuat Ara tertawa.
"Bilang aja laper." Aria tertawa sambil menoyor pundak Ziad.
"Cepetan turun, sebelum cacingku berontak!"
***
Pertengkaran antara bapak dan anak kembali terjadi. "Jadi itu alasan kamu pergi dari rumah, Aira?" Bapa sudah tak kuat lagi menahan letupan amarah sejak masih di Jogja.
"Apa?" Aira membalas dengan nada suara yang lantang. Sejenak dia lupa tentang yang namanya sopan santun.
"Ingin hidup bebas di luar sana. Bahkan dengan beraninya kamu menjalin hubungan dengan pria beristri. Di mana akal sehatmu?" sengit bapak. Sementara Aida dan mamanya tidak bisa berbuat apa-apa untuk melerai bapak dan anak yang tengah bersitegang. Keduanya memiliki karakter yang sama.
"Aku tidak semurah itu. Andai sejak awal aku tau kalau dia adalah pria beristri, aku tidak akan sudi menerima. Bahkan untuk sekedar berteman." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga akan tetapi perempuan itu masih berdiri dengan tegap.
"Satu lagi jangan tanyakan soal akal sehat kalau bapak sendiri tidak memiliki itu."
"Benarkan, Bapak tidak memiliki itu? Aku membutuhkan bapak saat itu tapi bapak malah pergi lalu esoknya bapak datang membawa mereka." Aira menunjuk Ibu dan Aida.
Kini Aida dan ibunya paham kenapa selama ini Aira terlihat dingin pada mereka. Tak mendengar sanggahan dari bapak, Aira memilih masuk ke dalam kamar yang beberapa bulan ke belakang ditinggalkan.
Dia duduk terpekur di ujung tempat tidur dengan Air mata yang tak mampu dibendung. Aira merasa bersalah telah berkata kasar pada bapak tapi dia juga ingin bapaknya mengerti penyebab perubahan sikapnya.
Suasana harusnya hangat saat satu anggota keluarga yang telah lama pergi akhirnya kembali.
Bukan momen seperti ini yang seharusnya terjadi. Tapi apa daya, tidak ada yang mau mengalah diantara mereka. Ibarat kata magnet bertemu pada ujung yang sama tentu saling tolak menolak.
***
Sudah beberapa hari Aira dan bapak tak bertegur sapa. Ibu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua manusia beda generasi itu.
"Cobalah mengalah, Pak. Sejak Ibu dan Aida masuk ke dalam rumah ini, Ibu tidak pernah melihat bapak dan Aira duduk bersama. Mungkin Aira merasa kehilangan bapak sejak kehadiran kami. Sesekali tidak masalah 'kan kalau kita sebagai orang tua mengalah demi mengerti apa yang mereka inginkan." Ibu berusaha membujuk bapak. Beberapa hari setelah pertengkaran itu, ibu mencoba mengurai kejadian demi kejadian selama dirinya ikut bapak.
Sebelumnya dia tidak tau bagaimana sifat Aira, akan tetapi bapak mengatakan kalau putrinya itu sangat baik. Yang terjadi saat hari dia menginjakan kaki untuk pertama kalinya di rumah bapak, Aira bersikap acuh. Awalnya dia kira Aira remaja butuh waktu menerima kehadiran dirinya. Akan tetapi sikap acuk itu terus Aira tunjukan seiring berjalan waktu.
Bapak membuang nafas kasar, "nanti aku coba."
"Apa ibu perlu bicara padanya? Sepertinya Aira salah paham sama kita."
"Tidak perlu biar bapak saja," tukas lelaki yang warna rambut sudah mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan bapak, ibu memilih menemui Aira di kamar. Ketukan pertama, kedua dan ketiga tak ada jawaban sampai ketukan berikutnya barulah kunci pintu terdengar dibuka.
Handuk yang membungkus rambut menandakan kalau Aira baru saja keluar dari kamar mandi.
"Boleh ibu masuk?"
Mengangguk tanda menizinkan. Bersyukur karena sikap sopan santunnya tak luntur bersama air mata.
"Aira ... Ada yang ingin ibu ceritakan satu hal padamu." Aira diam tak menyela, memberikan waktu pada perempuan yang menjadi ibu sambungnya.
"Ibu tidak menyalahkan kalau kamu membenci kehadiran ibu dan Aida. Entah benar atau tidak sepertinya perubahan sikapmu terjadi saat kami datang. Sebelumnya bapak mengatakan kalau kamu adalah anak yang manis, memiliki sopan santun yang tinggi juga pandai bergaul.
"Aira, aku dan bapakmu menikah saat kami sama-sama lulus kuliah. Kehidupan kami berjalan seperti keluarga pada umumnya. Bahagia meski saat itu keadaan ekonomi kami tidak seberapa. Akan tetapi kisah kami harus berakhir saat bapak menolong ibumu yang hampir dilecehkan. Akibat kejadian itu mental ibumu mulai terganggu. Setiap hari mengurung diri dan enggan bicara pada siapa pun. Dia hanya merasa aman saat bapak mengunjungi.
Aira mulai mengerti. "Ibu mengalah?" Ibu mengangguk membenarkan. Itu artinya pernikahan mereka menjadi korban.
"Entah apa yang terjadi setelah sekian pululuh tahun bapakmu tak pernah mengunjungi kami, hari itu dia datang. Percis saat Aida membutuhkan pertolongan."
"Maafkan aku," sesal Aira. Hati yang tadinya beku kini sedikit mencair. Dia tidak boleh lagi menyalahkan orang lain atas kehancuran dalam keluarga.
Bisa saja kehancuran itu terjadi aras kesepakatan mereka berdua atau salah satunya main belakang.
Aira memilih tidur saat ibu sudah keluar. Lagi pula untuk beberapa hari dia tidak punya agenda yang harus dikerjakan.