Fatal

Fatal
Bab 5



Alarm di gawai milik Aira terus saja berbunyi. Dia segera bangun dan mencuci wajah. Setelah meyakinkan diri bahwa ini adalah keputusan yang benar, Aira menarik koper yang telah disiapkannya sejak semalam.


Ada rasa sedih saat mimindai setiap sudut kamar yang 25 tahun ditempatinya. Dia juga tak meninggalkan sepucuk surat pun untuk keluarganya. Biarlah, toh mereka tak ada yang peduli sama sekali.


Pukul 05:15 Aira sudah sampai di stasiun. Dia menyodorkan beberapa lembar uang pada pengemudi becak yang mengantarkannya. Setelahnya dia masuk dan mencetak boarding pass terlebih dahulu kemudian menunjukan identitasnya.


Sambil menunggu kereta yang akan membawanya ke tempat baru, dia mencopot SIM Card dan membuangnya. Dia bertekad akan memulai hidup tanpa ada bayang-bayang dari masalalunya. Begaimana dengan keluarga? dia akan mengabarinya saat merasa waktunya sudah tepat. Biarlah sekarang dia pergi tanpa ada yang mencegah begitu pikirnya.


Tepat pukul 06:00 kereta yang akan membawanya ke tempat tujuan sudah tiba, dia segera naik dan mencari tempat duduk. Dia berharap bangku yang disebelah serta disebrangnya tidak ada yang mengisi. Sebab dia ingin menikmati perjalanan. Harapan menikmati perjalanan pupus sudah saat seorang ibu muda yang membawa dua anak kecil duduk di kursi sebrang. Tinggal berharap kursi di sebelahnya tetap kosong.


Untuk beberapa saat dia merasa lega, saat dia bangun dari tidurnya kursi di sebelahnya masih kosong. Hingga dia kembali menikmati perjalanan sampai tertidur tanpa komando. Entah sudah berapa lama dia tidur, dan berapa stasiun yang dilewati. Sebab di terbangun karena merasa ada yang bersandar di pundaknya.


Astagfirullah, Aria terpekik saat menolah ada seorang pria dewasa tengah tertidur dan bersandar di bahunya. Kalau tau gini aku mending pakai kereta bisnis aja sesalnya. Mau melanjutkan tidur, tapi berat, membangunkan pun rasanya sungkan.


Hari terus beranjak hingga terik matahari mulai terasa. gerbong yang tadinya terasa sunyi karena sebagian penumpang tidur kini mulai riuh saat prama dan prami menawarkan pelayanan mereka. Pria yang tadi tidur di sebelah Aira pun sudahh tidak ada.


Begitu pun dengan Aira yang hendak ikut memesan makan siang. Kasian cacing di perutnya sudah pada demo. Baru hendak memesan, pria yang tadi sempat bersandar di bahu Aira, datang membawa dua box nasi goreng dan menyodorkan satu boxnya pada Aira.


Melihat kebingungan seorang Aira, pria itu tersenyum kemudian berkata, "anggap saja sebagai permintaan maaf saya karena tadi saya tidur sambil bersandar di pundakmu. Pasti berat kan?"


Aira mengangguk membenarkan, barulah dia ambil satu box nasi kotak yang disodorkan oleh pria di sebelahnya. Tak ada lagi obrolan panjang setelahnya. Mereka sibuk menikmati makan siangnya masing-masing.


***


Sementara orang rumah sibuk mencari keberadaan Aira. Beberapa kali mencoba menghubungi no Aira tapi tetap tidak bisa. Semua orang panik apalagi saat bapak menyadari koper milik putrinya tak ada di tempat penyimpanan biasanya.


Semua orang rumah terlihat bingung, tidak tahu lagi harus mencari Aira kemana. Tempat kerjanya sudah dihubungi tapi mereka bilang Aira tidak masuk. Pun dengan Ziad yang memastikan keberadaan Aira di kantor. Teman sejawatnya termasuk Eren menjawab tidak tahu. Selama ini memang Aira jarang terbuka dengan siapa pun. Bahkan teman dekat pun tak ada.


"Mau kemana, Pak?" tanya Amira saat melihat suaminya berjalan tergesa ke arah carpot.


"Bapak, harus cari Aira," jawab bapak sambil menghela nafas panjang "sebenarnya tadi malam dia chat bapak katanya dia dia ada lembur tapi bapak mengabaikannya," lanjut bapak dengan nada penuh penyesalan.


Satu persatu tempat yang diperkirakan akan dikunjungi oleh Aira dia datangi tapi sampai hari beranjak sore anak itu tak kunjung ditemukannya. Mencoba menghubungi no putrinya tapi tetap nada yang sama dia terima.


***


Kereta yang Aira tumpangi berhenti di stasiun Tugu Jogja. Tempat pertama yang Aira kunjungi ialah penginapan. Setelah chek-in dan mendapatkan kunci kamar, dia segera menuju kamar. Melewati perjalanan panjang itu sungguh melelahkan. Belum lagi dia harus melangkah menyongsong masa depan sendirian.


Menentukan jalan sendiri berarti siap dengan segala konsekuensi. Saat kita memilih berarti kita harus siap dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Menjaga agar tetap waras saat masalah demi masalah hadir. Memilah mana benar mana salah, mengatur eego agar mampu bertahan dan berbaur. Kadang kita merasa benar tanpa melihat dari sudut orang lain. Ingin benar sendiri padahal hati kecil kita menyadari bahwa yang kita lakukan adalah salah. Akan tetapi, hanya karena demi ego hal semacam itu kita anggap wajar.


Satu minggu sudah Aira tinggal di kota Jogjakarta. Dia sudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal. Berkenalan dengan orang baru dan berkutat dengan segala kesibukan membuat dia sedikit lupa dengan rasa itu.


Rencananya, sore ini Aira akan belanja kebutuhan makanan untuk stok satu minggu ke depan. Aira berjalan menyusuri trotoar berhubung tempat kerja dan tempat yang akan dituju tak terlalu jauh. Sebuah teriakan dari orang orang yang tak jauh darinya membuat dia menolah. Dia berlari ke arah tempat sekumpulan orang berkerumun. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun, masih mengenakan seragam sekolah tergeletak.


"Astagfirullah, ini kenapa bu?"


"Ketabrak dek, tuh mobil yang nambraknya." Seorang ibu menjawab pertanyaan Aira dan menunjuk ke arah mobil yang juga dikerumuni oleh beberapa orang.


Aira memeriksa denyut nadi anak laki-laki tadi, beruntung denyut nadinya masih ada. "Adeknya masih bisa di selamatkan. Ayo tolong bantu saya bawa adeknya ke rumah sakit"


"Tapi dek,"


"Enggak ada tapi-tapian, Bu. Nunggu polisi lama kasian adeknya."


"Ya udah ayok tapi nanti kalau ada-apa kamu yang tanggung jawab," timpal salah satu orang yang ikut berkerumun juga.


Aira mengangguk, dia segera menghentikan sebuah mobil angkutan. Tiba di rumah sakit, segera dia mencari pertolongan setelahnya dia mengurus administrasi lebih dulu.


Setelah adzan maghrib, dokter yang tadi menangani baru mengabarkan kalau anak yang tadi di tolong Aira Alhamdulillah bisa diselamatkan. Hembusan nafas yang menandakan kelegaan terdengar. Barulah dia merasa benang untuk meninggalkan rumah sakit.


Rencana untuk belanja dia urungkan. Hari sudah mulai gelap dan hanya diterangi lampu. Aira menunggu angkutan yang biasa mengantarkannya pulang. Satu setengah jam menunggu tapi kendaraan umum tak kunjung melintas di tempatnya menunggu. Sampai sebuah mobil berwarna hitam berhenti tetap di depannya.


'Siapa?' tanya Aira dalam hati. Tentu saja merasa was-was, terbalik selama satu minggu ini dia belum terlalu mengenal kehidupan di kota ini.