
Aira pikir kalau rasa sukanya terhadap ziad akan dayung bersambut. Sikap manis yang ditunjukkan Ziad menjamin tak akan membuat hati seorang Aira patah. Nyatanya hal itu hanya menjadi sebuah harap yang tak bertepi.
Sama seperti gadis lain, Aira selalu merasakan detak jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya setiap berhadapan dengan Ziad. Awal-awal dia menepis rasa tersebut. Akan tetapi seiring waktu bergulir dan mereka sering bertemu di tempat kerja ternyata rasa itu semakin nyata disadarii oleh Aira. Apalagi dengan perhatian lebih yang gencar Ziad tunjukkan membuat Aira semakin yakin kalau rasa itu akan bersambut.
Hari ini Aira berulang tahun yang ke-25. Dia tengah membayangkan kalau di hari ulang tahunnya akan mendapat kejutan kebahagiaan. Senyum simpul terlihat jelas di bibirnya.
Seperti hari sebelumnya, Aira yang hendak pulang selalu dicegah Ziad di pintu gerbang tempat kerja. Ziad selalu memaksa untuk bisa mengantarnya pulang. Tanpa Aira tau alasan Ziad bersikap seperti itu. Yang dia harap apa yang menjadi khayalnya akan menjadi kenyataan apalagi hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Gak usah, Ad. Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Aira ya meskipun apa yang dia ucapkan bertentangan dengan hatinya.
"Ayolah, Ai. Gak baik anak gadis pulang sendiri, tar kamu diculik om-om loh. Mau?"
"Heh, sembarangan. Kamu pikir aku mau sama om-om?"
Ekspresi Aira membuat Ziad tertawa lepas bahkan bahunya terlihat sampe berguncang.
"Duh, Ad. Hati adek meleleh nih" Seperti biasa kalimat seperti itu spontan melintas di benak Aira.
"Dah, gak usah sungkan, ayo naik!" Ziad langsung memasangkan helm yang tiap hari dia bawa untuk mengantar Aira pulang. Entahlah maksudnya apa?
Jarak antara rumah dan tempat kerja tak begitu jauh, jadi harapan Aira untuk bisa berlama-lama dengan Ziad pupus saat motor yang mereka tumpangi sudah memasuki pekarangan tempat tinggal Aira.
"Kok sepi, Ai?" tanya Ziad setelah memastikan kendaraan parkir dengan benar.
"Gak tau ya. Biasanya mereka kalau mau pergi suka ngasih kabar dulu."
Aira mengerutkan kening saat memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci tapi rumah terlihat sepi. Tiba-tiba prasangka buruk menghampiri tanpa permisi. Seger dia masuk untuk memastikan bahwa keluarganya dalam keadaan baik-baik saja. Ya, meskipun sebenernya hubungan mereka beberapa tahun terakhir ini kurang baik. Setiap pintu yang ada di dalam rumah dia cek tapi tetap tak ada tanda-tanda keberadaan anggota keluarganya.
Panik, tentu saja dan Aira segera menghampiri Ziad yang masih menunggu di teras depan. "Ad, gawat?"
"Gawat kenapa?" Ziad yang sedang memainkan ponsel di teras depan rumah langsung terlihat panik.
"Semua orang gak ada di rumah, aku telpon berkali-kali juga gak ada yang nganggat,"
"Coba telpon sekali lagi!"
"Duh batrenya low lagi, bentar Ad aku ambil charger dulu di kamar." Aira berlari menaiki setiap undakan menuju kamarnya.
Saat pintu kamar terbuka Aira sangat terkejut, "surprise!" teriak semua anggota keluarganya yang tadi dia khawatirkan. Begitupun dengan Ziad yang ternyata ikut andil rupanya. Mimik paniknya tadi sepertinya hanya sebuah keputusan-puraan.
"Ih! nyebelin tau."
Semua anggota keluarga telah kembali berkumpul di ruang keluarga. Berkumpul menikmati kue ulang tahun untuk Aira dibarengi tawa saat salah satu diantara mereka melemparkan kalimat candaan. Ziad masih ada di sana pun ikut bercanda.
Pendar bahagia jelas tergambar di wajah imut milik Aira apalagi saat Ziad berkata ingin menyampaikan maksud baik. Aira dan yang lain menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir plum lelaki itu. Semoga saja Ziad memintaku untuk jadi istrinya, tapi jadi kekasihnya dulu juga tak apa, doa Aria dalam hati.
"Selamat ulang tahun,Ra. Oh iya mumpung semuanya lagi kumpul menikmati kebahagiaan, izinkan saya menyampaikan sesuatu yang akan membahagiakan pula." Hati Aira berdegup kencang pun dengan pipi yang terasa panas serta semburat merah merona menyertai. "Saya ingin menjalin silaturahmi lebih jauh dengan keluarga ini dengan cara meminta Aida untuk menjadi pendamping hidup saya. Seandainya bapak dan ibu mengizinkan maka saya akan segera meminta keluarga saya untuk meminta Aida kepada ibu dan bapak secara resmi.
Tak ada hujan tak ada angin, tapi rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Aira diam seketika, lidahnya mendadak terasa kelu, kue yang ada di mulutnya pun terasa pahit. Sepahit kenyataan yang dia terima hari ini.
Tak pernah terpikir oleh Aira kalau ternyata Ziad menaruh rasa pada Aida sang kakak. Hari yang seharusnya bahagia untuk Aira ternyata tak berlangsung lama saat Ziad mengutarakan isi hatinya. Aira pikir kebaikan Ziad selama ini karena memang Ziad tertarik padanya tapi nyatanya dia salah. Salah mengartikan sikap seseorang. Ternyata aku cukup bodoh untuk mengartikan sikapnya selama ini, ucap Aira dalam hati.
"Kapan orang tua nak Ziad akan datang kemari?" tanya bapak serius. Bapak memang selalu seperti itu saat ada yang mengatakan ingin bertanggung jawab terhadap salah satu putrinya.
Raut bahagia tergambar jelas di wajah Aida, perempuan yang selalu menjadi kebanggaan bapak dan ibunya. Hal itu semakin membuat Aira merasa iri terhadap Aida sang kakak.
"Pak, Aira izin ke kamar untuk istirahat," pamit Aira.
Aira yang sudah masuk kamar kini duduk termenung di jendela kamar, melihat air sisa hujan yang bergelayit manja pada daun buah mangga.
Ingin menangis tapi rasanya tak pantas untuk menangisi, tapi rasa gundahnya terus saja menyelimuti. Karena sebuah notifikasi menggoyahkan lamunannya, Aira memilih memainkan benda pipih berukuran lima inch tersebut. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah aplikasi dating dan mendapat satu teman yang obrolannya nyambung.
Setalah sekian banyak kalimat basa-basi keluar dan obrolan mereka nyambung akhirnya Aira memilih bercerita kepada teman barunya tersebut. Tak apalah bercerita kepada orang baru toh kemungkinan untuk bertemu rasanya sangat kecil. Jadi Aira mungkin tidak akan merasa malu.
Senja mulai tenggelam bersama gelapnya cakrawla, namun Aira masih betah bercengkrama dengan teman barunya itu. Hingga malam semakin larut obrolan melalui chat itu belum berhenti.
"Jadi apa rencanamu setelah ini?" Pesan pertanyaan yang diterima oleh Aira.
Untuk beberapa detik jari Aira mengetuk-ngetuk meja sebelum akhirnya jari lentik itu menari membalas pesan dari teman barunya itu.
"Kurasa aku tak bisa terus diam di sini bersama mereka, tapi aku juga belum tau aku harus ke mana dan harus apa?" Pesan terikirim.
"Kenapa tidak melanjutkan pendidikan saja, ambil S2 gitu?" Mata Aira memicing membaca deretan tulisan yang dikirim dari orang yang etah di mana keberadaannya.
"S2? berarti kuliah lagi tapi kalau kuliah di sini sama aja." Aira berkata dalam hati.
Tiba-tiba dia teringat dengan brosur yang dia terima tempo hari. Aira mencari brosur tersebut di laci nakas dekat tempat tidurnya. Tidak ada. Di laci meja rias pun tak ada. Hampir nyerah tapi dia baru ingat kalau tidak salah brosur tersebut di selipkan pada sebuah buku. Untungnya Aira termasuk orang yang rapi hingga tak perlu lama menemukan brosur tersebut diantara deretan buku.
Membaca sejenak brosur tersebut kemudian dia mulai menjelajahi situs web yang tertera di pojok bawah brosur tersebut.
Setelah melihat-lihat web tersebut termasuk beberapa foto bangunan yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu nanti.
Saat sedang asik menjelajah perempuan yang tadi siang merasakan para hati itu baru teringat kalau dia belum membalas pesan dari teman barunya. Cepat-cepat dia menghentikan browsingnya dan segera mengirimkan pesan balasan.
"Kebiasaan," ucap Aira sambil menutup lapotopnya setelah pesan yang dia tulis terkirim.
Aira merebahkan bobot tubuhnya pada pembaringan, menatap langit-langit kamar mencari jawaban atas kebingungannya. Iya dia masih dilanda bimbang antara harus bertahan di sini atau pergi sejauh mungkin. Bukankah jika ingin benar-benar melupakan harus pindah tempat pula.
Belum sempat Aira menemukan jawaban, rasa kantuk lebih dulu menghampirinya. Mengarungi samudera mimpi yang indah.
Lamat-lamat adzan subuh terdengar berkumandang. membangunkan Aira yang belum kembali dengans sempurna dari indahnya alam mimpi. Tersadar waktu subuh itu hanya sebentar Aira segera beranjak ke kamar mandi, mencuci muka dan mengambil wudhu. Segera dia adukan segala keluh kesahnya.
.
.
.
.
.Love yang banyak ❤❤❤