
Setelah meyakinkan semuanya akan baik-baik saja, Aira memberanikan diri menyerahkan hasil kerjanya kemarin. Semoga tidak sampai harus revisi ulang kalimat tersebut selalu dirafalakan dalam hati seiring kakinya melangkah.
Saat sudah berada di depan pintu ruangan kerja sang atasan, Aira menghirup udara banyak-banyak. Meski sudah meyakinkan semua akan baik-baik saja, nyatanya rasa gugup masih saja enggan pergi jauh darinya.
Seletah mengetuk pundi dan dipersilahkan masuk, Aira menyodorkan hasil kerjanya. Untu beberapa saat dia hanya menunggu.
"Mudah kan Aira?"
Aira sendiri merasa malu, sebab yang sebenarnya mudah dia buat sulit gara-gara patah hati. "Kalau begitu saya permisi kembali ke meja kerja saya, Pak."
"Ok, silahkan. Oh iya semua sudah kembali ok kan?"
"Maksud bapak?"
"Maksud saya, tidak harus lembur dulu kan untuk mengembalikan performa kerja kamu?"
Aira tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh atasannya. Jangan sampe kejadian seperti ini terulang lagi.
Meja Aira berada di depan meja kerja Ziad, otomatis saat dia keluar dari pintu ruangan sang atasan akan lebih dulu melewati meja kerja Ziad. Melirik sejenak kemudian kembali melangkah. Bisa hancur ini hati kalau kayak begini terus, batin Aira.
Tumpukan pekerjaan gara-gara kegagalan kemarin. Andai saja kemarin tidak melakukan kesalahan sudah pasti pekerjaan dia hari ini tidak akan menumpuk. Sebelum kembali bekerja Aira menyempatkan melihat layar ponselnya. Ada satu pesan di sana.
"Aku ramal harimu akan menyenangkan kalau hatimu iklas menjalaninya, Semangat ya , Dek!" Sebuah pesan yang dibubuhi emotikon senyum.
"Terima kasih," terkirim.
Aira mencoba kembali fokus pada pekerjaan. Akan tetapi sekuat apapun dia bekerja nyatanya cacing di dalam perut tak mampu menahan untuk tak menabuh genderang perang. Pantas saja cacingnya sudah demo, ternyata sudah waktunya untuk makan siang terlebih tadi pagi kan hanya dikasih minum segelas susu.
Teman sejawatnya sudah lebih dulu istirahat untuk makan siang. Sejak kemarin hanya dirinyalah yang selalu paling akhir.
Di kantin, Ziad dan Eren duduk satu meja. Rupanya perempuan berambut sebahu itu penasaran dengan Ziad yang sejak dua hari terkahir wajahnya selalu berseri. Setelah memesan makanan Aira memilih duduk sandiri hanya terhalang sayu meja dari meja Ziad dan Eren.
"Iyalah happy kan sebentar lagi nikah,"
"Nikah? Serius?"
"Seriuslah masa nikah main-main,"
Jangan-jangan si Aria galau gara-gara ini ya? Mereka kan deket banget, Eren berujar dalam hati. Dia melirik Aria yang tengah sibuk mengisi perutnya. Ada rasa penasaran tapi masih dia tahan.Sementara Aria dia memilih pura-pura tak mendengar, meski kembali rasa sakitnya terusik.
Masih ada waktu istirahat sebelum kembali bekerja. Perempuan yang sedang berada dipase sakit hati itu memilih melaksanakan ibadah empat rakaat lebih dulu. Hatinya selalu berdenyut nyeri tatkala mendengar desas desus pernikahan Ziad. Belum tentu jadi, udah rame aja pemberitaan, ucapannya dalam hati sambil mencebikkan bibir.
Lagi-lagi hatinya tercubit saat ada beberapa orang tengah membicarakan Ziad dan Aida. Bahkan ada yang sempat membandingkan dirinya dengan Aida.
"Pantes si Aira kelihatan kayak galau ya, orang Ziad dapetnya yang lebih cakep," ucap salah satu teman sejawatnya.
"Benar, jauh banget bedanya," timpal salah satunya.
"Ya logika aja, gue aja kalau jadi si Ziad pasti milih tuh cewek ya, gak?" timpal yang lainnya.
***
Sebenarnya Aira enggan pulang tepat waktu hari ini. Kalau boleh memilih dia lebih baik kerja lembur seperti malam kemarin. Sayangnya hari ini tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dirinya menambah jam kerja.
Pulang atau ngayap? Kalau pulang tentu dia akan kembali merasa sakit melihat sang pujaan hatinya dengan orang lain. Kalau tidak pulang maka akan semakin memperbesar katakan dengan sang ayah. Maju kena, mundur pun kena.
Tak kuat membayangkan kebahagiaan yang akan dilihatnya nanti, Aira memilih untuk duduk sejenak di bangku taman yang dilaluinya. Membiarkan air mata jatuh agar tak ada lagi yang tersisa. Selain itu menangis juga memberikan sedikit kelegaan baginya.
[Maaf, Pak sepertinya Aira tidak bisa ikut makan malam bersama. Aira harus lembur.] Pesan terkirim, tapi belum di baca dia yakin kalau bapaknya saat ini sedang sibuk. Mana pernah bapak memikirkan aku, ucapnya membuat air mata semakin menganak sungai.
Aira kaget saat ada seorang laki-laki dewasa ikut duduk di bangku yang sama dengannya. Aira menoleh kiri kanan memastikan keadaan aman untuknya.
Pria itu tak menyapa Aira yang ada di sebelahnya. Dia hanya menatap buket bunga yang dipagangnya. Tatapannya menyiratkan sebuah kekecewaan.
Aira yang tadinya merasa paling tersakiti kini menarik salah satu ujung bibirnya saat memperhatikan pria yang ada di sebelahnya. Ada yang senasib ucapannya salam hati. Padahal belum tentu ah dasar Aira.
Hampir lima belas menit Aira duduk berseblahan dengan pria tersebut, tapi mereka tak ada yang mencoba menyapa lebih dulu. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya tawa sekumpulan anak muda yang sedang menikmati senja saja yang terdengar.
Berkali-kali Aria melihat layar ponselnya. Berharap akan ada pesan dari bapak dan mengkhawatirkanya. Nyatanya pesan darinya saja belum dibaca. Air mata kembali jatuh saat menyadari tak ada lagi satu orang pun yang mengkhawatirkan dirinya. Dia benar-benar merasa sendiri.
Ok, Aira sekarang pulang! jangan berharap akan ada orang yang peduli padamu. Bapakmu saja tidak bisa di harapkan. Sebelum beranjak dia menyempatkan menoleh pria di sebelahnya. Kebetulan pria itu menoleh kemudian mereka saling melempar senyum.
***
Aira mematung di depan pintu rumahnya. Tadi dia kira acara makan malam sudah selesai ternyata belum. Yang membuat hatinya semakin tercubit dia merana sendirian sementara di dalam rumah penuh canda, tawa serta kehangatan. Tak terdengar saru orang pun menyebut nama dirinya. Bahkan saat dia masuk tak ada satu orang pun yang menyadarinya.
Aira tersenyum getir, tanpa dikomando air matanya kembali menganak sungai.
***
Di kamar, Aira memasukan pakaiannya serta kebutuhannya ke dalam sebuah koper. Sejak melihat kejadian tadi, dia memutuskan untuk pergi. Percuma ada di sana kalau tak dianggap begitu pikir Aira. Melihat pesan yang dia kirim ke bapaknya masih belum di baca membaut Aira semakin yakin untu pergi.
Dia segera menulis surat pengunduran dirinya. Dia yakin dia tidak akan mampu menjaga kewarasan jika masih tinggal disana. Meski ada rasa berat meninggalkan rumah yang dulu penuh kenangan tapi dia harus tetap melangkah. Sejauh apapun kaki melangkah, kenangan indah akan tetap indah. Ia takan terhapus hanya karena kaki melangkah semakin jauh.
.
.
.
.
.
.