Fatal

Fatal
Bab 14



Tak baik berharap pada sesama mahkluk, berharaplah pada Pemilik sesungguhnya. Benar kalimat itu adanya, tapi memang pada kenyataanya banyak yang lebih berharap pada sesama makhluk apalagi kalau sudah menyangkut tentang perasaan.


Pada hari berikutnya Aira sudah diizinkan untuk istirahat di rumah. Siapa yang tak akan senang meninggalkan gedung yang membuat hati selalu menanti dengan harap-harap cemas.


"Kok dokter yang ngasih izin pulang? Kan Kak Aira itu pasien dr. Andri," tanya Delisa saat melihat dokter yang melakukan visit bukan dokter Andri yang menaganani kemarin. Rasa penasaran Delisa selalu menggebu. Tak jarang perempuan itu mengeluarkan kalimat prontal asal mendapat jawaban yang memuaskan.


Pertanyaan Delisa mewakili rasa penasaran Aira. Ada yang terasa kurang saat yang memeriksa bukan orang yang diharapkan.


"Hari ini dokter Andri ada seminar di Pekan Baru jadi beliau meminta saya untuk memastikan keadaan pasiennya dan salah satunya Bu Aira. Kondisi Bu Aira memang tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, jadi ibu bisa lanjutkan istirahat di rumah." Dokter itu memaparkan dengan baik. Pun tidak terlihat ekspresi tersinggung atas pertanyaan Delisa.


Setelah menyelesaikan administrasi barulah Aira ditemani Ibu kost dan Delisa meninggalkan rumah sakit. Rencananya mereka pulang akan menggunakan taksi berbubung Bapak-Delisa tidak bisa menjemput dikarenakan pekerjaan.


"Pulang naik taksi aja gak papa kan, Ra?" tanya Ibu Kost


"Ya gak papa, Bu. Kan yang penting mah selamat sampai tujuan." Tentu saja menggunakan taksi bukan masalah.


Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka berdiri. Yang di mobil dan yang tengah berdiri sama-sama memicibgkan mata.


"Loh bukannya lagi seminar?" Kali ini Aira yang bertanya. Kaget sekaligus juga senang. Saat seseorang jatuh cinta jangankan pergi berkencan di malam minggu, atau makan romantis berdua, hanya sekedar bersitatap saja sudah menimbulkan getaran.


Senyum manis menjawab pertanyaan Aira lebih dulu. Dokter itu turun dari mobil. "Iya tapi saya ketinggalan pesawat gara-gara ada hati yang tertinggal."


Delisa berdeham mendengar jawaban Andri, sedangkan Aira merindukan wajah menyembunyikan semburat merah yang timbul di pipi.


"Kok bisa hati ketinggalan, kan dokter." balas Ibu Kost datar tapi berhasil menimbulkan tawa pada mereka.


"Bagaimana kalau saya antarkan pulang. Kebetulan hari ini memang tidak ada jadwal praktek saya."


"Gak ada jadwal kok ke rumah sakit! Bilang aja mau nganterin pulang pasien spesial," timpal Delisa yang tak jauh beda dengan Ibu. Seolah acuh. "Pasiennya kesenangan kalau gitu." lanjutnya lagi.


Aira menyikut perut Delisa. Ada malu, ada rindu, tapi Aira masih bisa bersikap normal meski bertolak belakang dengan hati.


Ibu kost duduk di kabin depan sedangkan Aira dan Delisa di kabin tengah. Berhubung tadi pagi dia hanya sarapan sehelai roti dan segelas air putih, cacing di dalam perut pun mulai berdemo. Maklum sebagai seorang dokter dia biasa teratur soal makan. Meski tak disiapkan oleh istri itu bukan masalah besar. Sebab sejak istrinya mulai merentangkan jarak, dia pun mulai membiasakan diri. "Bu, keberatan gak kalau mampir dulu ke rumah makan," tanya Andri sopan. Dia melirik kaca spion tengah kebetulan Aira pun sedang melakukan hal yang sama. Tatapan mereka bertemu pada satu garis lurus.


"Ibu gak keberatan, coba tanya sama Aira barang kali dia malah ingin lebih cepat istirahat di rumah. Kalau Delisa gak ditanya pun pasi oke." balas


"Ibu, ...," sanggah Delisa.


"Keberatan, Ai?" Andri menoleh pada yang ditanya melalui kaca spion tengah.


"Ga papa, pan kesehatan lebih penting. Ntar dokternya malah pingsan gara-gara telat makan."


Mobil yang dikemudikan oleh Andri berbelok menuju sebuah rumah makan penyaji makanan khas kota Parahyangan. Semua turun, Andri berjalan lebih dulu. Selain karena faktor lapar, hal itu dilakukan juga karena demi menjaga syahwatnya. Lebih baik bejalan di belakang seekor singa ketimbang berjalan di belakang seorang perempuan. Goadaan setan akan semakin dahsyat.


Semua sepakat ingin mencoba olahan bebek. Kata Andri olahan bebek di sini itu enak, dagingnya manis tapi tidak bau amis.


Aira memilih fokus pada makanan padahal ia yakin kalau dirinya tengah diperhatikan. Sesekali dia membedakan posisi duduknya.


Andri paham perempuan yang duduk di seberang Delisa itu tengah salah tingkah karena dirinya. Maka dari itu dia semakin menunjukan rasa ketertarikannya. Andri mulai menunjukkan perhatian-perhatian kecil. Dia yakin cintanya tak akan bertepuk sebelah tangan. Perkara dirinya dengan Nita biarlah dia pikirkan nanti. Fokus saat ini bagaimana dia mendapatkan merpati yang indah ini.


***


Di bawah teriknya matahari mobil hitam milik Andri terus melaju membelah jalanan kota Jogja sampai akhirnya berhenti di depan sebuah gang.


Letak tempat tinggal Aira itu persis di belakang rumah milik keluarha Delisa. Sebenarnya mobil bisa saja berganti di depan rumah Delisa tapi Aira lebih suka melewati gang kecil ini.


"Ra, ibu ke rumah dulu ya. Enggan enak banget ini aroma tubuh, kan tadi pagi enggak sempet mandi dulu di rumah sakit,"


"Iya ga papa bu, makasih sudah mau menemani Aira. Maaf sudah direpotkan,"


"Kamu tuh kayak ke orang lain saja, Ra. Sudah ya, Delisa bantu Kak Aira." balas Ibu kost.


"Siap Bu Ratu," jawab Delisa yang katanya siap tapi malah merebahkan bobot tubuhnya pada sofa.


Ibu Kost tak khawatir dokter Andri masih di sana. Dia percaya Aira tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Apalagi di sana tidak hanya berdua. Setidaknya bekal agama itu akan membentengi dirinya meskipun hanya mengetahui dasar-dasarnya saja.


Andri sudah dipersilakan duduk, Aira segera menyiapkan minum untuk tamunya. Perkara memuliakan tamu itu sudah tertulis dalam Al-Quran pun dicontohkan oleh nabi Ibrahim a.s.


"Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarga, kemudian dibawanya anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya pada mereka (tamu Ibrahim) sambil berkata 'mengala tidak kamu makan?" (QS Az-Zariyat: 26-27)


Memuliakan tamu merupakan amal salih yang kebikannya tidak hanya di dapat di akhriat tetapi juga dapat balasan langsung di dunia. Salah satunya mempelajari silaturahmi yang tentunya akan membuka pintu rezeki.


"Hanya air minum, Dok. Silahkan!" Segelas air minum disodorkan Aira pada lelaki yang namanya mulai mengusik segumpal daging di sana.


Kian hari keduanya kian akrab. Tak jarang dokter itu menunggu di depan temlat kerja Aira demi bisa menggantarkan dan memastikan keselamatan si pujaan hati.


Di hari libur keduanya sering menghabiskan waktu dengan buku-buku. Memiliki hobi yang sama, selera makanan yang sama semakin pun memiliki perasaan yang sama semakin meyakinkan keduanya tentang jodoh. Andri lupa status dirinya, bahkan dia menghubungi Nita terkahir ya malam itu.


Pantang untuk kembali mengemis. Allah menciptakan akal bukan hanya untuk berpatok pada sati titik. Ketika pintu satu tertutup makan akan ada pintu lain yang terbuka.