
Andri pamit setelah berbincang beberapa saat. Tidak mungkin dia harus mengatakan kalau dirinya ingin berada di sana. Menjaga Aira, menjadi pelindung, menjadi tempat bersandar kala duka menyapa.
Andai ada yang lebih indah dari sekedar sebuah senyum yang tulus. Tawa lepas tanpa paksa.
Sedih dan bahagia adalah dua rasa gang selalu berdampingan mengiringi kata sebuah cinta.
Sampai di rumah, Andri melepaskan sepatu dan mengambil air minum oleh sendiri. Hal itu sudah menjafi kebiasaan sejak istri tak lagi memedulikannya. Entah suami kelaparan, entah suami tidak nyaman dengan pakaiannya, entah sumi tidak nyenyak dalam tidurnya semua tak lagi dipedulikan.
Dering ponsel yang tadi diletakan di atas meja memaksa langkah untuk menghampiri. Segera dia geser tombol hijau. Wajah lucu nan menggemaskan muncul hampir memenuhi layar. Tak ketinggalan aduan serta rengekan dari si buah hati yang kini menjadi penawar lelahnya.
Ayah kapan pulang? Ayah aku rindu tidur bersama ayah. Ayah aku ingin ikut ayah saja, aku tidak mau dirumah karena rumahnya sepi. Ayah aku ingin disuapi sama ayah, Ayah aku ingin jalan-jalan lagi, ayah aku ingin diantar ke sekolah sama ayah lagi. Ayah ... ayah ... dan ayah.
Hatinya kembali dicubit oleh kenyataan. Bunga-bunga harap yang tadi mulai bermekerana seketika layu. Kenyataan memaksanya untuk sadar. Akan tetapi bisik dan hasutan pun turut serta. Bimbang, dilema.
Mundur bukan pilihan, maju pun bukan jalan. Dia berada di jalan kecil yang tak memberikan opsi lain. Hatinya ingin bersama Aira tapi otaknya terus mengingatkan kenyataan. Ada anak ada istri.
"Ayah kenapa ayah melamun?" Suara si kecil mengejutkan dari balik layar. Andri memasang senyum seakan dirinya baik-baik saja. Toh si kecil tak akan mengerti juga.
"Kata siapa ayah melamun? Ayah hanya sedang melukis kebahagiaan yang akan kita raih bersama nanti."
"Boleh aku lihat lukisan yang ayah buat?" tanya si kecil yang polos. Duh gimana mau diperlihatkan sementara dirinya hanya melukis dalam angan bukan diatas canvas.
"Nanti saja kalau kita bertemu, biar itu jadi kejutan untuk jagoan ayah. Sudah buat PR hari ini?"
"Sudah tadi, ... ayah, ayah janji akan pulang kan?"
Andri menjawab dengan anggukan. "Bunda mana?" tanya Andri.
Si kecil berdecak, sejurus kemudian wajah cemberut yang terlihat. "Kalau bunda ada mana mau aku telepon ayah." Jawaban si kecil membuat Andri terkekeh. Selain karena jawaban yang bisa saja dia benar ka juga karena ekspresinya. Ah jadi rindu rumah, gumamnya dalam hati.
Selepas panggilan dengan si kecil terputus, Andri mencoba menghubungi sang istri. Mana tau hubungan mereka masih bisa diperbaiki. Tak apa mengalah lagi untuk kesekian kalinya. Bukankah hasil tergantung usaha kita.
"Apa?" suara dari severang sana terdengar datar. Tak ada kalimat manis yang menenangkan, tak ada lagi senyum yang menyejukan.
"Kamu tidak di rumah?"
Pertanyaan Andri tak langsung mendapat jawaban. Sepertinya dia yang diseberang sana teramat sibuk.
"Kamu tidak di rumah? Ayolah Nit kasihan Azlan, kita ..." Belum sempat Andri menyelesaikan kalimatnya, Nita istrinya lebih dulu mengatak sibuk dan mematikan sambungan telepon tanpa menunggu Andri membalas.
Semakin hari hubungan keduanya semakin renggang. Entah siapa yang harus disalahkan, dirinya atau Nita?
***
Nita masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ponsel pun masih dalam genggaman. Dia sendiri terlihat bingung. Mengatakan sibuk dan mematikan sambungan telepon itu pun dia sendiri masih merasa bingung. Untuk apa dia melakukan itu? Apa ini menyakitkan untuk dia? Apa dia kecewa? Beberapa pertanyaan terlintas di benaknya.
Nita menoleh, tapi enggan memberikan jawaban. Dia hanya memperbaiki posisi duduk dan meletakan ponsel kembali pada tas jinjingnya.
"Sebenarnya yang kamu cari itu apa sih, Nit? Suami? ganteng. Harta? cukup. Keturunan? udah."
"Cinta," jawab Nita dengan wajah minim ekspresi.
"Azlan 'kan bukti cinta kalian. Nit perahu tidak akan jalan jika hanya didayun sebelah, burung terlihat cantik saat mengepakkan kedua sayapnya. Paham kan maksudku?"
"Kamu akan mudah mengatak itu karena kamu tak mengalami. Andai kamu yang ada di posisiku, aku tak yakin kamu masih akan berkata demikian."
"Oh ya?" Rizal menggeser posisi duduknya. "Lalu untuk apa adanya rukun iman dan rukun islam? Nit, tak ada makkluk ciptaan-Nya yang tak diuji. Hanya saja kadar beratnya tergantung setiap makhluk itu sendiri. Nih contohnya ..."
"Gue capek, Zan." Air mata ibu beranak satu itu luruh seketika. "Lo gak tau gimana rasanya bertahan dalam pernikahan tanpa restu salah satu keluarga. Apa yang gue lakukan mau itu baik tetap saja salah di mata mereka."
"Bertahan sampai lima tahun itu luar bisa loh. Tapi memang rata-rata ujian pernikahan itu datang di tahun ke empat atau ke lima. Gini lo masih sayang sama dia?"
Nita hanya menjawab dengan menggelengkan kepala pelan. Entah rasa itu masih ada atau sudah lebur tak tersisa.
"Kalau nih, kalau nih ya masih ada. Coba deh salah satu di antara kalian menurunkan ego. Kalau ego sama tinggi, ya kapal lo pasti karam juga. Ingat lagi ada Azlan di antara lo dan Andri."
"Lucu lo, ngasih nasehat kaya udah pernah ngalamin aja," balas Nita. Ibu satu anak itu memilih meninggalkan Rizan yang hobi berceramah. Membaca skrip lebih menarik ketimbang mendengarkan petuah-petuah Rizan.
Masalah rumah tangga biarlah jadi urusan nanti, selalu kalimat itu yang diucapkan Nita. Ini salah satu kekurangan Nita, menganggap gimana nanti saja. Kalau kata bahasa sunda itu 'Kumaha ngke' padahal seharusnya 'engke kumaha?'
***
Di rruang rawat, Aira diberondong pertanyaan oleh Delisa. Ibunya sampai pusing mendengarkan anak perempuannya terus melontarkan pertanyaan yang bersipat privasi.
Aira menatap Ibu Kost yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Meminta tolong agar Delisa tak lagi bertanya hal-hal yang bersangkutan dengan Andri. Meski tak dapat dipungkiri dia sendiri mengakui setiap pernyataan Delisa tentang dokter yang menanganinya tadi.
"Nih, nih nih ya kalau seandainya, ..."
"Gak boleh berandai-andai, Del."
"Ih shut dulu kan aku belum menyelesaikan kalimatnya,"
"Udah selesai," potong Aira.
"Belum kan belum jadian masa udah selesai aja. Kalau dokter Andri sampai melamar, kira-kira bakal diterima gak, Kak?"
"Emang yakin dia bakal melamar?" Aira membalikkan pertanyaan.
"Jawab aja dulu bukannya balik bertanya." Meski kesal dengan jawaban Aira, perempuan yang usia nya tak begitu jauh itu masih saja semangat memberikan pertanyaan yang dijawab sebagai doa oleh Aira. Tentu yang tahu akan hal itu hanya dirinya dan Tuhan yang tau.