
"Ra," Aira menjauhkan ponsel dari telinga. Suara dari seberang sana begitu memekakan telinga.
"Rey, suaranya biasa aja bisa kali," Aira tengah bicara dengan Reya melalui sambungan telepon.
Terdengar suara kekehan dari seberang sana. "Maaf, tapi aku senang banget akhirnya bisa telepon kamu malam-malam."
"Iya tumben, gak dines?" Aira terkekeh saat menyebut kata dines yang berarti dinas. Dinas yang dimaksud sudah pasti hal yang sering dilakukan seorang wanita yang sudah bersuami seperti Reya.
"Libur, suami lagi sibuk dengan kerja sama-nya sama sepupu. Eh iya masih ingatkan aku pernah cerita tentang sepupu aku yang dokter?"
"Oh yang itu, inget lah ceritanya."
"pasti ingatlah kan kamu mah panjang ingetan. Oh iya aku sampe lupa tujuan aku telpon kamu. Kamu masih suka dengan cake?"
"Masih, kenapa mau pesan?"
"Emang jualan? bukannya kamu kerja ya?"
"Iya kerja, tapi sambil nyari tambahan sampingan."
"Oalah berati aku emang gak salah hubungi kamu. Dengar nih, suamiku dan sepupuku lagi kerja sama untuk buka kafe. Nah rencananya kafe itu tak hanya menjula minuman aja."
"Oh, i see. Aku paham. Kamu mau jual makanan juga gitu, model cake atau yang lainnya?"
"Aira emang pinter. Lumayanlah otaknya masih berguna," Memuji tapi menusuk. "Besok ketemu bisa gak?"
"Oke sepulang aku kerja."
Mereka masih berbincang banyak hal lainnya. Sampai Reya izin tutup teleponnya karena sang suami minta dipijit katanya.
Hari ini dua kabar baik menghampirinya. Dia pun menghampiri kotak yang tadi diberikan Andri kemudian membukanya. Memanfaatkan pasmina itu di kepalanya.
"Cantik." Memuji diri sendiri.
***
"Aku jemput kamu ya biar gak terlalu sore, ini aku udah mau nyampe," ucap Reya dari sambungan telepon. Tadi siang dia meminta Aira mengirim lokasi.
"Tunggu di depan gerbang ya."
Reya melambaikan tangan saat melihat Aira keluar dari gedung tempat kerja. Mereka berpelukan seperti teletubies. Kembali melepas rindu sebagai sahabat. Beberapa waktu kebelakang memang mereka pernah bertemu tapi tak sengaja di sebuah acara. Tak sempat berbincang banyak jadi tak puas melepas rindu.
"Temani aku ke bandara dulu ya," pinta Reya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan kota jogja menuju bandara Adjisucipto-Kulon Progo.
"Boleh, mau jemput siapa?"
"Sepupunya nak anak."
Jarak tempuh menuju bandara hanya memakan waktu satu setengah jam. Jadi sebelum maghrib mereka sudah tiba di sana tujuan.
Menunggu beberapa menit sampai akhirnya yang ditunggu pun terlihat sambil melambikan tangan berjalan ke arah mereka.
"Anak kecil?" tanya Aira saat melihat seorang anak laki-laki berjalan ditemani perempuan yang memakai seragam baby sitter.
"Iya, mereka itu keluarga ribet." Jelas Reya terlihat jengkel saat membahas soal keluarga sepupunya.
Aira yang biasanya tak banyak tanya hari ini justru sebaliknya. Entah kenapa dia merasa penasaran dengan keluarga sepupu temannya.
"Ribet gimana? keluarga kan emang gitu-gitu aja kebanyakan. Ada suami, ada istri ada anak."
"Hay ponakan kesayangan onty." Reya memeluk anak laki-laki itu. Berbincang sebentar dengan pengasuhnya kemudian mereka masuk ke dalam mobil yang dikemudialn oleh Reya.
"Nanti aku ceritain soal tadi. Pokoknya hampir miriplah dengan kamu kalau dimirip-mirip mah.
***
"Ayo masuk, Ra" ajak Reya saat mereka sudah tiba di rumah Rejya dan keluarga. Reya masuk lebih dulu. Sambutan kecil dari dua anak Reya terasa lucu di mata Aira. Apalagi saat dia mengingat momen kemarin sore.
Dia pun mengeluarkan ponselnya hendaknmengirim pesan pada lelaki yang katanya akan menikahi. "Aku lupa ngasih kabar, aku pergi sama teman masa sekolahku."
Belum pesan itu terkirim sesuatu sangat mengejutkan terjadi di hadapannya. Anak kecil laki-laki yang dijemput olehnya bersama Reya berteriak memanggil lelaki yang disebut ayah.
"Ayaaaaah!"
Yang lebih mengejutkan lagi lelaki yang dipanggil ayah itu adalah lelaki yang kemarin sore mengungkapan perasaan kepadanya.
Andri belum menyadari keberadaan Aira. Lelaki itu segera berjongkok untuk mensejajarkan posisi tubuhnya dengan si buah hati. Tersenyum kemudian memeluknya.
"Maaf ya dijemputnya sama tente Reya,"
"Iya, ayah kan kerja terus sampai lupa sama aku. Seru kok dijemput tante Reya sama temannya."
Andri baru ingat sola itu, dia menilik ke arah pintu. Aira berdiri di sana menatapnya dengan tatapan kecewa.
"Loh kok malah berdiri di situ, Ra. ayo masuk," ajak Reya yang sudah berganti pakaian.
Meski rasa kecewa memenuhi dada tapi dia tidak boleh drama. Apalagi kalau sampai membuat kegaduhan. Dia harus hati-hati karena jaman sekarang banyak orang membawa alat perekam. Bisa saja mereka memanfaatkan itu untuk mengejar view dan follower.
Aira mengangguk. Lidahnya mendadak kelu untuk mengucapkan kalimat.
"Oh ya Mas Dri, ini teman sekolahku dulu di Bandung. Namanya Aira." Reya mengenalkan keduanya. "Ai, ini masku yang pernah aku ceritain ke kamu. Namanya Mas Andri. Dokter."
"Hai," sapa Andri meski perasaanya sedang tak menentu. Tak menyangka kalau semua ini akan terbongkar lebih cepat.
Lagi. Aira hanya kembali mengangguk. Duh rasanya dia ingin pulang saja kalau tau keadaan akan seperti ini. Hal menyakitkan harus kembali dia dapatkan. Lebih sakit dari saat Ziad mengatakan akan melamar Aida saudara tirinya.
Segala rasa berkecamuk dalam dada. "Tenang Aira, tenang. Astagfirullah," ucapnya dalam hati.
Andri, Aira, Raya dan suami duduk bersama di ruang tamu. Membahas perihal kafe yang sudah dibangun dan tinggal menjalankan. Suami Reya mulia memaparkan isi proposal yang dia buat.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Reya yang menyadari ketidak enakan Air.
"Gak papa kok, aman, lanjut aja!"
"Bener gak papa ya, Ra,"
"Enggak."
Duduk bersebalahan dengan orang yang tadinya kita cinta dan berubah benci itu gak enak. Ibarat duduk di pinggir tebing.
Aira ingin menolak saat suami Reya meminta dirinya bergabung. Andai dia menerima, sudah tentu dia akan lebih sering bertemu Andri. Sebaliknya jika menolak dia pin akan kehilangan kesempatan mengembangkan potensi.
Sering bersa dengan orang yang dicinta tentu akan sangat menyenangkan. Pekerjaan akan terasa ringan dan lelah pun tak akan terasa. Berbeda jika bersama dengan orang yang dibeci, sehari akan terasa setahun. Suasana akan terasa panas dan menyiksa.
"Jadi gimana, Aira tidak keberatan kan kalau gabung. Kamu gam harus meninggalkan tempat kerjamu yang sekarang. Kamu bekerja part time di tempat kita."
Andri melirik Aira yang terlibat bingung. Sudah pasti itu karena dirinya. Dia sendiri merasa kesal dengan apa yang terjadi hari ini. "Aira pasti tidak akan menolak, dia kan suoer pekerja keras," ucap Andri mencoba menarik kembali hati Aira dengan pujian. Lelaki itu pujiannya akan sedikit menggoyahkan hati Aira. Bukankah perempuan senang akan pujian.
Sayangnya Aira bukan penganut paham itu. Bahkan tak sekalipun perempuan itu melirik Andri. Menganggap Andri tak ada di sebelahnya. "Akan aku coba pikirkan, gak usah terlalu berharap. Soalnya masih ada ahli-ahli yang lebih baik untuk membuat makanan itu."
"Ra," Reya memohon
"Aku belum yakin, Rey." Dia berusaha bersikap biasa saja meski nyatanya memang tak biasa. Perempuan memang paling ahli menutupi perasaan.
.
.
.
.Selamat membaca, semoga suka. Kalau sempat tinggalkan kesan atau koreksi di kolom komentar agar author tau. Terima kasih. Enjoy!