
Tak ada hal paling membahagiakan bagi seorang insan selain keinginanannya terpenuhi. Entah berupa harta, cinta, kedamaian atau yang lainnya.
Suasana malam yang menenangkan, ditemani kelip bintang yang menjadi hiasan dalam gelapnya cakrawala. Hembusan angin menerpa kulit meyakinkan lelaki berusia tiga puluh delapan tahun itu untuk mengungkapkan perasaan.
Tatapan yang teduh, senyum yang menenangkan serta perhatian yang kudapat menjadi sumber energi untuk menyongsong hari. Saat lelah mendekap, hanya senyummu lah yang aku harapkan untuk menjadi pelipurnya.
Sepanjang malam menjelang, melangkah hingga pagi menyapa aku tak bisa mengalihkan diri dari bayangmu. Andai kamu halal maka itu akan menjadi ibadah untukku. Akan tetapi sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan rasa yang aku sendiri bingung mendeskripsikannya. Apakah ini rasa yang disebut cinta atau hanya bentuk rasa kagumku pada mu.
Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu tetapi lidahku kelu saat tatapanmu menghunus relung terdalam. Aku mernidu sepanjang waktu. Aku menginginkanmu. Oh hati siapkah untuk kecewa andai dia menolak?
"Ra, andai ada seseorang yang ternyata diam-diam mengagumi. Mengharapkanmu menemani sepanjang hari. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Andri saat mereka tengah menikmati makan malam.
Benar tadi siang Andri sudah mereservasi tempat ini. Rencananya malam ini dia akan mengungkapkan segala rasa di dada. Sebelum malam ini, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu telah memikirkan berulang-ulang. Meyakinkan perempuan yang kini tengah duduk di seberangnya adalah orang yang tetap. Lantas bagaimana dengan Nita? Lelaki itu meyakini sudah tak ada harapan untuk mempertahankan Nita.
Berulang kali dia menghubungi, berusaha menjalin kembali rajutan yang hampir putus. Semua yang dia lakukan hanya menjadi kesia-siaan. Nita seolah berjalan semakin jauh darinya, semakin sulit hatinya untuk disentuh.
Apakah perjalanan cintanya dengan Aira akan mulus begitu saja? Andai suatu hari perempuan yang tengah menikmati hidangan khas kota Jogja itu mengetahui status sesungguhnya. Siapkah dirinya menjelaskan.
"Yang pasti aku akan diam saja, Mas," jawab Aira.
"Diam?" Andri mengerutkan kening.
"Iya diam. Toh lelaki itu tak berani kan mengungkapkan perasaannya. Mas, yang aku butuhkan itu lelaki yang bisa menjadi temanku menikmati sisa hidup. Berjalan beriringan menuju ridho-Nya. Lelaki yang meminjamkan bahunya untuk bersandar, lelaki yang menjadikanku rumah untuknya pulang. Tentunya lelaki itu jujur."
Jujur? Astaga mendengar satu kata itu saja rasanya Andri sudah ditampar ribuan orang. Lelaki itu memalingkan wajahnya, menatap gelapnya malam yang dihiasi kelip bintang.
"Memangnya ada laki-laki yang mau sama perempuan sepertiku? ..."
"Perempuan yang meninggalkan rumah karena hatinya terluka saat lelaki yang selama itu dia puja memilih saudaranya. Perempuan yang tak pernah aku dengan ayahnya sejak ibunya memilih pergi. Perempuan yang memilih hidup sendiri demi mendapatkan ketenangan menurutnya. Bahkan perempuan itu memilih meninggalkan rumah yang selama dua puluh lima tahun menjadi tempatnya bernaung." Andri memotong pembicaraan Aira. Andri yakin kalau perempuan yang ada di seberangnya akan mengatakan itu. Dia tau sebab selama ini dia adalah teman chat perempuan itu di salah satu aplikasi chat.
Mata Aira menyipit. Dia tak mampu menutupi rasa kagetnya. Bagaimana bisa lelaki yang dia kenal baru beberapa bulan itu mengetahui tentang dirinya.
"Dalam hatimu pasti sedang bertanya-tanya bagimana aku bisa mengetahui tentangmu sejauh itu. Benarkan?" tanya Andri.
Aira membenarkan dengan anggukan.
Aku adalah orang yang selalu menjadi temanmu bercerita di aplikasi itu. Aku orang yang menggunakan username 'Love but Hate'. Dan aku adalah orang yang mengagumi diam-diam. Kalimat itu hanya jadi ungkapan dalam hati saja. Rasa bimbang masih setia memeluknya. Padahal yadi sore dia sudah meyakinkan diri untuk hal besar ini.
Aira berdehem, pun Andri mengerjap kaget. "Jadi dari mana Mas mengetahui tentangku sampai sejauh ini? Apa Mas mata-mata dari keluargaku? Kalau iya katakan pada Bapak aku tidak akan pulang," ujar Aira. Iya perempuan itu menebak seperti apa yang dikatakan. Sejauh ini Aira merasa dia tidak pernah menceritakan hal seperti yang diucapkan oleh Andri. Bahkan pada keluarga Delisa yang lebih dulu dekat dengannya.
"Tunggu!" Andri menghentikan gerakan Aira yang hendak meninggalkan tempat duduknya. Aira salah menerka sehingga percikan adalah langsung menggebu seketika. "Aku bukan mata-mata keluargamu, bahkan aku tak kenal siapa ayahmu. Aku hanya teman dari seseorang yang selalu mengagumi dalam diam."
Aira kembali duduk, menarik nafas kemudian membuangnya secara perlahan. Dia lakukan berulang-ulang agar amarahnya tak serta merta menggebu. Dia tidak boleh memandang sesuatu hal hanya dari satu sudut pandang. Sedangkan sudut pandang lainnya tak dia pedulikan.
"Siapa dia? Kenapa dia tidak berani menunjukan siapa dirinya bahkan untuk soal perasaan pun dia mengandalkan orang lain. Bagiaman aku bisa menerima seorang seperti itu?"
Kedua mata itu beradu pandang, dan bertemu pada satu titik. Setelahnya Aira langsung memutus dan beralih menatap langit yang bertabur bintang.
Andri merutuki diri sendiri dalam hati. Benar kata Aira bagaimana perempuan itu akan menerima lelaki yang bahkan untuk mengungkapkan perasaan saja masih tak berani.
Dering ponsel dari tas Aira lumyan mengurangi hening yang tercipta. Rupanya panggilan dari Delisa. Beberapa pesan juga terpampang pada layar.
"Panggilan dari siapa?" tanya Andri.
"Delisa, boleh aku jawab dulu panggilan ini?" Andri mengangguk, membiarkan Aira menjauh sejenak. Setelah perempuan itu lumayan jauh darinya, barulah dia melepaskan segala sesak yang tadi menghimpit. Mencaci diri sendiri yang begitu pecundang, akan tetapi begitu serakah. Dia menginginkan perempuan lain sementara masih ada perempuan lain dalam hidupnya.
"Delisa nungguin aku, katanya ada orderan bikin cake lagi untuk acara besar. Boleh kita pulang sekarang?" Raut wajah Aira sudah berubah, yang tadinya tegang kini terlihat binar bahagia. Jalan untuk usahanya kini semakin terbuka.
"Bikin cake? Ya sudah ayo pulang. Sudah kenyang kan?"
Setelah membayar mereka pun meninggalkan tempat tadi bersama harapan yang gagal diungkapkan oleh Andri.
Ada rasa kecewa saat Aira lebih fokus pada ponsel yang tentunya sedang berbalas pesan dengan Delisa. Aira seolah lupa dengan ketegangan tadi yang sempat tercipta.
"Ra?"
"Hmmm,"
"Aku serasa mahluk astral loh, dianggap gak ada dari tadi," Sudah hampir setengah perjalanan dirinya diacuhkan.
Aira menoleh kemudian tertawa, "masa?"
"Iyalah, aku tuh seperti antara ada dan tiada. Bahkan lebih parah dari itu," kekeh Andri. Pun Aira yang melakukan hal sama.