
"Jangan-jangan dia... kekasihnya" batin Aruna menerka sembari memperhatikan gerak-gerik dua orang tersebut.
"Sial.. tentu saja mereka sepasang kekasih" batinnya kembali berucap saat melihat Kenzo yang tengah tersenyum kearah wanita cantik yang ada didekapnya saat ini. Senyumnya yang langka itu bahkan tak kunjung memudar. Sepertinya wanita yang ada didekapnya itu cukup berarti dihati Kenzo.
Aruna melipat kedua tangannya didepan dada. Menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nya secara perlaha. Malas sekali ia melihat kearah sepasang kekasih yang sepertinya sedang melepas rindu itu sehingga ia memilih untuk melengos dan memperhatikan sekeliling.
Dan tanpa sangaja ia bersitatap dengan seseorang yang langsung menganggukkan kepalanya kecil padanya. "Eh--" Aruna terkejut saat tak menyadari kehadirannya.
"Selamat pagi nona" sapanya dengan sopan.
Aruna yang tadi terkejut mengangguk. Dia tersenyum kaku karena tak mengenalnya. "Pa-pagi"
Pria itu tersenyum tipis saat wanita cantik yang adalah istri dari bosnya itu membalas ucapannya.
"Kau! Kemarilah"
Aruna menoleh kearah Kenzo, dia melihat pria yang baru saja menyapa dirinya mendekat. Alisnya menyernyit saat ia melihat Kenzo membawanya cukup jauh.
Mereka sedang berbicara dengan serius , gadis itu tak terlalu mendengar padahal ia penasaran sekali dengan pria yang tadi menyapa dirinya. Dari gestur tubuh pria itu sudah jelas sih jika ia pasti adalah bawahan Kenzo.
Kemudian Aruna menoleh kearah wanita yang tadi berpelukan begitu mesra dengan suaminya. alisnya kembali menyernyit saat melihat tatapan matanya menatap dirinya dengan wajah kecut, sepertinya ia memang tak menyukai kehadiran Aruna .
Jika dilihat dari tatapannya itu, ia sedang mengibarkan bendera perang pada Aruna sekarang. Tatapan matanya seperti serigala yang menemukan mangsa.
Laura berjalan dua langkah mendekati Aruna. Dia menatap dari atas sampai bawah penampilan gadis yang telah merebut posisi nyonya Smith darinya.
"Ada apa nona?" tanya Aruna pada akhirnya. Dia merasa tak nyaman ditatap dengan intens tapi penuh dengan penilaian.
Bisa Aruna simpulkan jika tatapan wanita ini tengah mencemooh atau ia mungkin sedang mengumpati nya dalam hati.
"Kau wanita murahan! Aku akan segera menendangmu dari sisi Kenzo!"
Aruna terdiam. Tangannya terkepal erat saat ucapan menyakitkan keluar dari mulut wanita ini. Dan juga ia mengancam akan menendangnya dari sisi Kenzo? Heh.. Aruna malah akan sangat berterima kasih kalaupun itu benar terjadi.
Tapi melihat tatapan mata wanita yang ada dihadapannya ini, membuat Aruna bernafsu ingin sekali mencakar wajahnya sekarang. "Apa kau bisa?" tanya Aruna dengan suara mengejek. Itu ia lakukan untuk membalas ucapan Laura tadi.
"Tentu saja aku bisa. Kau lihat kan bagaimana hubungan kami? Kami masih sangat mesra walau Kenzo sudah menikah. Kau itu tak lain hanyalah istri palsu!"
"Istri palsu? Padahal aku memiliki surat nikah loh"
Laura terlihat mengepalkan tangannya. Dia merasa kesal sekali saat wanita ini membalas ucapannya. "Bersiap-siaplah untuk menjadikan surat nikahmu menjadi akta perceraian! Dasar kau ***-***!"
"Hehehe.. aku mana mau meninggalkan pria tampan seperti kak Kenzo. Selain dia tampan dia juga kaya, apa kau kira aku akan melepaskan nya begitu saja?" ucap Aruna dengan santai. Dia melipat tangannya didepan dada dan menatap arogan wanita yang terlihat tambah marah, dia sengaja memanasi wanita yang belum ia ketahui namanya ini.
Laura mengepalkan tangannya. Sungguh, kalau saja sekarang ia tak berada ditempat umum sudah Laura remas mulut Aruna itu.
"Sayang"
Laura menoleh dan tersenyum. Wajah galaknya seketika berubah menjadi manis.
"Cih.. wanita ular bermuka dua!" Aruna mengumpati wanita yang langsung berubah seratus delapan puluh derajat setelah kedatangan Kenzo. Padahal tadi ia masih menunjukkan taringnya dihadapan Aruna.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya menyapa istrimu. Bagaimana? Sudah selesai urusannya?"
Kenzo mengangguk. Dia melirik Aruna yang hanya diam saja, tapi dari tatapan matanya terlihat sekali jika ia sedang kesal. "Ayo pergi"
Laura mengangguk dan tersenyum. Dia menggandeng mesra lengan kekar Kenzo lalu melirik sinis Aruna yang sekarang sudah mendatarkan wajahnya. Dia akan menunjukkan dimana posisinya sekarang.
Aruna yang hendak mengikuti Kenzo menoleh kesumber suara dengan bingung karena pria itu menyuruhnya berjalan berlainan arah dengan Kenzo.
"Bukankah aku harusnya mengikutinya?" tanya Aruna sembari menunjuk Kenzo yang semakin menjauh.
"Iya. Tapi kita naik pesawat yang berbeda dengan tuan"
"What?!" Aruna menatap tak percaya pada pria yang lumayan tampan itu. Lalu ia kembali menatap punggung Kenzo, menatapnya dengan wajah yang sulit diartikan.
Tangannya terkepal erat. Bukan ia keberatan jika harus pergi terpisah dengan Kenzo malah ia merasa tenang dan senang, tapi ia merasa tak dihargai.
Meski ia tahu jika Kenzo tidak menganggap nya ada, tapi apa dia takut jika dirinya akan mengganggunya didalam pesawat? Sunggu menjengkelkan sekali.
"Mari nona"
Aruna menyeringai kecil dihadapan pria yang adalah asisten Kenzo, Raka. Membuat pria itu terkejut bukan main. Dia merasa merinding karena tahu jikw wanita cantik ini tengah merencanakan sesuatu.
"Sayang..." Pekik Aruna kearah Kenzo. Wajahnya seketika berubah sendu.
Mata Raka terbelalak mendengar Aruna berteriak. Nah.. benar kan tebakan Raka, jika wanita yang ada dihadapannya ini merencanakan sesuatu.
Kenzo yang juga mendengar pekikan Aruna menoleh dan kemudian membalikkan badannya, matanya yang setajam silet itu menatap wanita cantik yang saat ini berdiri cukup jauh dengannya.
Gluk
Aruna menelan saliva susah payah, tapi ia tak boleh gentar. Dia akan membalas perbuatan Laura padanya.
" Kau tega meninggalkan istrimu?! Dan memilih wanita penggoda itu?!"
Alis Kenzo menyatu mendengar ucapan Aruna. "Ada apa dengan gadis itu? Apa dia gila?!" batin Kenzo berucap. Tapi saat ia menyadari keanehan, Kenzo menoleh kesekeliling dimana orang-orang yang mulai berbisik-bisik berkomentar.
"Ya ampun, padahal istrinya cantik sekali. Kenapa dia tega menduakannya ya?"
"Cih.. walaupun dia tampan tapi tukang selingkuh, aku lebih baik memilih pria jelek saja"
Obrolan orang-orang pun dapat Aruna dengar.
"Padahal aku sangat mencintaimu. Tapi kamu tega menduakan ku"
Kenzo menatap datar wajah Aruna yang saat ini sedang membuat drama. Dia mengepalkan tangannya saat emosi nya semakin naik. "Dia memang minta dihajar!"
Saat ia akan menghampiri Aruna Laura mencekal tangannya, kemudian menggeleng. Memohon melalui sorot matanya membuat Kenzo melunak. Lagian ia juga tak mau membuat keributan ditempat umum yang takutnya akan berdampak pada reputasinya.
"Awas kau nanti" Kenzo menarik tangan Laura meninggalkan orang-orang yang sedang menatapnya penuh kritik.
"Sabar ya nona. Kalau dia terus berselingkuh tinggal kan saja dia, dia tak pantas untuk wanita baik seperti mu"
Aruna tersenyum dan mengangguk. Hatinya menghangat saat ada seorang wanita yang menenangkan dirinya. "Terimakasih"
"Nona.. sudah waktunya berangkat"
Aruna menoleh kearah Raka. Dia mengangguk dan segera pergi setelah berpamitan pada orang-orang baik yang sepertinya termakan kebohongannya. Tapi dibalik ini semua, Aruna jadi melihat fakta ternyata masih banyak orang-orang yang peduli pada orang yang sedang kesulitan.
Aruna berjalan sembari tersenyum ceria. Rasanya puas sekali telah membuat pasangan tadi malu. Dia tak peduli entah apa yang akan terjadi nanti yang terpenting ia sudah membalas wanita ular yang tadi terus mengatainya.
Raka menatap punggung Aruna yang berjalan didepannya. Tadi ia sungguh terkejut saat wanita cantik ini membuat keributan. Dan berani melawan tuan Kenzo yang menakutkan. Dia saja yang sudah bekerja cukup lama bersama dengan tuan Kenzo masih tak berani menyela ataupun membantah ucapannya. "Nona Aruna cukup menarik"