
Kenzo menatap datar wajah Aruna yang masih terlihat pucat. Meski ia sudah sembuh tetap saja wajahnya sangat kontras karena ketika ia sedang sehat wajah gadis ini bersinar. Tidak seperti sekarang yang terlihat sedikit loyo dan sayu.
Aruna yang ditatap sedemikian rupa hanya bisa menunduk karena merasa takut akan tatapan mata tajam Kenzo.
"Aruna William"
Aruna mendongak saat namanya dipanggil oleh Kenzo. Apalagi nada bicaranya rendah membuat bulu kuduk Aruna berdiri "ya tuan" memberanikan diri untuk menyahuti ucapan Kenzo.
"Kau senang ya membuang-buang uangku?!"
Alis Aruna menyatu karena gadis itu tak mengerti akan apa yang baru saja Kenzo ucapkan. Bahkan ia belum sempat berfoya-foya menggunakan kartu yang Kenzo berikan padanya, lalu apa yang membuatnya membuang-buang uang Kenzo? Aruna terlihat bingung harus menjawab apa karena ia memang tak pernah membuang-buang uang Kenzo.
"Kau berkeliaran saat baru sembuh, apa kau kira aku membayar dokter menggunakan daun?!"
Aruna menggut-manggut mengerti. Lalu menatap Kenzo dengan pandangan jengah "dasar pelit medit kikir!! " batinnya berucap.
Kenzo yang berdiri tak jauh dari Aruna menuding kening gadis itu "jangan memakiku!"
Mata Aruna terbelalak mendengar ucapan Kenzo. Lalu ia meringiskan giginya "hehehe mana ada saya mengumpati anda tuan. Saya diam saja dari tadi loh"
"Apa kau kira aku tak tahu apa yang kau pikirkan dengan otakmu yang kecil ini"
Tuing
Kenzo menonyor kening Aruna menggunakan jari telunjuknya. Sehingga membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.
Aruna mengusap kening tersebut, meski tak sakit tapi ia merasa kesal sekali "Dia keterlaluan sekali sih!" gerutunya dalam hati. Aruna tak mungkin berani jika ia menyuarakan isi hatinya. Bisa saja pria kasar ini tak hanya menonyor kening Aruna tapi juga menyiksanya.
Memikirkan hal itu membuat Aruna merinding takut.
Tak tak tak
Aruna menoleh kearah belakang Kenzo saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia sedikit bernafas lega karena kedatangan nya kemungkinan bisa membuatnya tak berada dalam situasi yang tak menguntungkan untuk Aruna.
"Sayang... Apa yang sedang kalian lakukan?" Ucap wanita seksi yang langsung melendoti lengan Kenzo seperti parasit.
Wajah datar Kenzo berubah sedikit hangat hanya beberapa detik saja, hanya sedikit sekali tapi dapat Aruna lihat dengan jelas karena ia sedang memperhatikan reaksi wajah Kenzo sedari tadi.
"Kau bawa dia kekamar! Jaga dia dan kalau sampai dia keluar dari sana selangkah saja, aku akan memotong gajimu bulan ini!"
Raka yang mendapatkan ancaman mengangguk dengan pasrah "Baik tuan"
"Dan kau! Kalau kau berani merepotkan Raka, aku tak akan segan untuk mengikatmu digenteng!"
Gluk
Sekarang wajah Aruna yang terlihat pias setelah digertak seperti itu oleh Kenzo. Dia mengangguk dengan cepat sembari menelan saliva dengan susah payah. Bagaimana bisa pria ini mengancam Aruna dengan cara mengikatnya digenteng. Jika diperhatikan kembali, ucapan Kenzo terdengar sangat konyol.
"Sayang.. ayo kita ngobrol disini" rengek manja Laura.
Aruna melirik sekilas interaksi antara Kenzo dan Laura. Sudah jelas sekali jika hubungan itu hanya sang wanitalah yang berinisiatif.
Kenzo selalu bersikap dingin meskipun dia bersama dengan wanita yang mungkin Kenzo cintai itu. Yah.. meski ia tadi dapat melihat sorot hangat dari mata Kenzo hanya beberapa detik saja, sepertinya Laura memang memiliki arti tersendiri didalam hatinya.
"Cih.."
Raka yang mendengar Aruna berdecih pun pada akhirnya menoleh karena merasa penasaran. "Anda tidak papa nona?"
"Tapi suami anda bersama dengan wanita lain. Seharusnya anda menjambak rambut wanita itu!"
Aruna menatap tak percaya akan ucapan yang tercetus dari mulut Raka "heh.. kalau sampai tuan mu tahu apa yang baru saja kau katakan, bagaimana reaksinya ya?" ucapnya santai tapi tatapan matanya terpancar keseriusan.
Wajah Raka tampak sedikit terkejut. Atau malah takut jika apa yang nona Aruna ucapkan barusan adalah hal yang serius.
"Hahahah" tawa Aruna pecah saat melihat betapa lucunya wajah pias Raka. Sangat menghibur ditengah suasana hatinya yang buruk akibat berbicara dengan Kenzo. Padahal tadi saat ia melihat sunset moodnya membaik, eh ketika ia melihat wajah dingin Kenzo membuat moodnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sungguh ia tak merasa bersalah sama sekali saat ia mengumpati Kenzo sepanjang dia berjalan masuk kedalam villa.
Plak
Aruna memukul lengan Raka "jangan khawatir. Aku hanya bercanda kok" setelah berucap Aruna berjalan kembali.
Raka mengusap lengannya yang baru saja dipukul oleh nona Aruna. Pukulan tersebut tak membuatnya sakit, tapi ia semakin mengetahui bagaimana karakter nona mudanya itu. Gadis ini sangat ramah kepada siapapun kecuali Kenzo tentunya.
Nona Aruna tak segan untuk memukul lengannya, dia tak seperti anak orang kaya yang membatasi perilaku dan tingkah nya.
Gadis ini juga cukup ceria kecuali ketika sedang dihadapan tuan Kenzo. Nona Aruna seperti berubah menjadi orang lain, yang ada diwajahnya hanya ketakutan.
"Oh. Raka! Kau cukup mengantar ku sampai disini. Aku berjanji tak akan pergi dari kamar"
Raka menggeleng "ini perintah tuan. Jadi saya harap nona tidak mempersulit saya"
Aruna mendengus "terserah kau saja!" setelah berucap, Aruna mulai menaiki tangga karena kamar yang ia huni disini ada dilantai dua.
Setelah sampai didepan pintu Aruna menoleh kebelakang. Raka berdiri dengan sigap disana "tolong pergilah! Aku akan merasa ruang gerakku terbatas kalau kau tetap berada didepan kamarku"
Raka mendatarkan wajahnya. Sepertinya pria ini tak akan beranjak dari tempat ini setelah mendapatkan titah dari yang mulia kaisar "ck.. ternyata tak berhasil ya? Kalau begitu terserah apa yang akan kau lakukan aku tak peduli." Setelah berucap seperti itu, Aruna membuka pintu kemudian membantingnya. Itu dia lakukan untuk memberi tahu Raka jika ia sedang kesal.
Raka menghela nafasnya panjang. Kenapa juga ia yang pekerjaannya adalah mengurusi pekerjaan Kenzo sekarang harus menjadi penjaga pintu? Sungguh malangnya nasib pria itu.
Tapi mengingat seberapa besar gaji yang ia terima tiap bulan membuatnya harus berlapang dada untuk bekerja lembur setiap harinya. Dan mengurus urusan pribadi Kenzo juga mau saja ia lakukan.
Raka memilih untuk memanggil pelayan untuk mengambilkan ia leptop, lebih baik ia bekerja dari pada nanti Raka mati kebosanan.
**
Aruna langsung meletakan ponselnya diatas nakas kemudian masuk kedalam bathroom untuk mandi. Dia mengisi bathub dengan air hangat sampai penuh. Lalu ia menuangkan aroma terapi kedalam bathub. Tangannya ia masukkan kedalam bathub lalu ia mulai mengobok-obok air tersebut supaya keluar busa.
Dan setelah semua persiapan itu selesai. Aruna menanggalkan seluruh pakaiannya dan kemudian masuk kedalam bathub untuk berendam.
Rasa hangat dan harum dari aroma terapi membuat Aruna merasa sangat nyaman. Tubuhnya merasa rileks dan otot-otot yang selalu tegang saat berada disekitar Kenzo mulai kendur. Aruna memejamkan matanya menikmati sensasi nyaman yang ia dapatkan.
Aruna paling senang saat berendam seperti saat ini, dia akan sangat lama berendam sampai air hangatnya berubah menjadi dingin. Tapi kali ini Aruna tak selama biasanya karena mengingat jika ia baru saja sembuh dari demam.
Jangan sampai ia nanti sakit lagi, dan membuat si pelit itu mengeluh karena harus membayar dokter untuknya.
Mengingat wajah datar dan dingin Kenzo membuat Aruna menjadi dongkol.
Gadis itu memukul air yang ada dihadapannya untuk melampiaskan emosinya.
"gunung es menyebalkan! Rasanya aku ingin sekali memukul wajahnya yang dingin itu. Tapi aku bahkan untuk menatap matanya saja aku tak sanggup. Hiks.. aku memang pecundang"
Setelah lelah Aruna membilas tubuhnya dibawah shower kemudian keluar menuju ketempat ganti baju. Dia memilah apa yang hendak ia kenakan. Karena hari sudah malam, Aruna memutuskan untuk memakai piyama tidur saja.