
"sayang.. nanti kita jalan-jalan ya?" ucap Laura dengan nada manja. Gadis itu mengusal dilengan Kenzo.
Kenzo yang sedang menikmati makanannya mengangguk "hmm"
Laura yang mendapatkan reaksi datar dari kekasihnya mendengus "kamu kelihatannya malas pergi" gerutunya sembari memberengut. Dia menjauhkan kepalanya dari lengan Kenzo. Menunjukkan jika ia merasa kesal.
Kenzo menoleh dan menatap wajah Laura yang terlihat kesal "aku akan menemanimu jalan-jalan nanti" ucapnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk bersikap lembut seperti biasanya. Meski sebenarnya ia merasa jengah setengah mati mendapati Laura yang selalu merengek dan memintanya untuk menuruti semua ucapannya.
"Benar ya?"
Kenzo mengangguk dan mengusap kepala Laura. Membuat gadis itu mengembangkan senyumnya lagi.
Tak tak tak
Kenzo menoleh kearah depan. Dia melihat asistennya berjalan yang mana diikuti oleh Aruna. Gadis itu terlihat melirik dirinya tapi sejurus kemudian Aruna melengos.
Kenzo hanya acuh tak peduli. Dia memilih untuk melanjutkan makannya saja. Tapi tetap saja matanya tak bisa teralihkan dari gadis yang sedang berjalan mengikuti Raka.
Kenzo hanya diam saat Laura terus mengoceh tentang tempat yang akan mereka datangi nanti. Menjawabnya dengan sedikit asal, dan sesekali berdehem hanya sekedar untuk menyahuti ucapan Laura yang tak ada habisnya.
Setelah selesai makan, Kenzo melihat Raka keluar dari area dapur. Sendirian. "Dimana gadis itu?" batinnya berucap. Tapi sejurus kemudian Kenzo menggeleng dan kembali mendatarkan wajahnya "Apa yang kupikirkan? Masa bodo dengan keberadaan gadis itu" batinnya kembali berucap. Menyangkal ucapannya yang pertama.
Dia kembali berdecak saat Raka melewati ruang makan kembali. Pria itu membungkukkan badannya dengan hormat dihadapan Kenzo saat tahu tuannya itu menatapnya.
"Raka kenapa bolak-balik terus sih! Mengganggu pemandangan saja!"
Kenzo menoleh kearah Laura saat gadis itu menggerutu. "Kau kembalilah kekamar!"
"Kenapa?" tanya Laura dengan nada ketus. Sepertinya ia tak suka saat Kenzo menyuruhnya pergi. Padahal ia masih ingin berlama-lama dekat dengan Kenzo, jangan sampai Aruna nanti mendekati kekasihnya ini saat ia tak berdaya disisi Kenzo mengingat gadis itu belum pergi dari dapur.
"Bukankah kau harus bersiap-siap sekarang? Katanya mau jalan-jalan"
Laura yang awalnya memberengut kembali tersenyum. Dia merasa sangat bahagia sekali mendengar ucapan Kenzo. Kekasihnya ini tak akan mungkin bisa digoda oleh gadis itu sehingga ia memilih untuk menuruti ucapan Kenzo "baiklah.. aku akan bersiap-siap" ucapnya sembari berdiri dari duduknya.
Cup
Laura mengecup pipi Kenzo sebelum ia pergi.
Sedangkan Kenzo, ia mengusap pipinya bekas kecupan Laura setelah kekasihnya itu tak terlihat. Entah kenapa ia yang biasanya senang saat dicium oleh Laura sekarang merasa tak nyaman.
Dia berdiri dari duduknya. Lalu melangkah kearah dapur. Dapat Kenzo lihat saat ini Aruna yang sedang duduk disisi kulkas dengan Raka yang juga duduk bersebrangan dengan Aruna, mereka hanya terpaut oleh meja kecil.
Alisnya menukik saat melihat wajah Raka yang biasanya datar sekarang melembut saat menatap Aruna. Entah apa yang sedang Raka pikiran sekarang Kenzo tak tahu. Tapi yang pasti ia merasa tak suka jika ada yang memperhatikan Aruna sedemikian rupa.
Raka terus memperhatikan Aruna yang terlihat sedang makan roti. Tanpa mengalihkan sedikit pun dari wajah cantik Aruna.
"Minumlah obat ini nona" ucap Raka terdengar. Memberikan obat yang tadi ia pegang.
"Obat? Apa dia sakit?" Batin Kenzo sembari terus memperhatikan setiap gerak gerik kedua orang tersebut.
Jika Kenzo lihat memang wajah Aruna terlihat pucat sekarang. Dia melihat tangan Raka yang terangkat, sepertinya ia hendak mengusap sudut bibir Aruna yang kotor bekas selai .
Ehem
Kenzo berdehem membuat Raka terkesiap dan menoleh kearahnya. Tanagnnya yang tadi hampir mendekati Aruna ia tarik kembali.
"Raka! Ikut denganku!" ucap Kenzo dengan suara datar sama seperti biasanya.
Pria tampan itu membalik badan, dan segera pergi dari sana.
***
Kenzo menatap datar asistennya yang berdiri dihadapanya. Entah apa yang ia pikirkan tapi rasanya Kenzo kesal sekali menatap wajah asistennya itu sekarang "duduklah!"
Raka mengangguk. Dia duduk disofa yang bersebrangan dengan tuan Kenzo. Wajahnya masih tenang seperti biasanya. Dia memang pandai menutupi perasaannya. Padahal aslinya ia merasa tak nyaman ditatap setajam itu oleh tuan Kenzo.
"Kau memberikan apa padanya tadi?" Kenzo bertanya padahal ia sudah mengetahuinya.
Raka memberanikan diri menatap netra tajam bosnya ini. Hanya sekilas saja, karena detik berikutnya Raka memilih untuk mengalihkan tatapannya karena merasa begitu terintimidasi "Obat tuan. Nona Aruna demam sehingga saya memberikan obat Paracetamol tadi" ucapnya menjelaskan dengan detail.
"Cih.. aku tak peduli akan keadaannya" ucapnya terdengar kesal saat Raka menjelaskan kondisi Aruna.
"Tidak peduli tapi bertanya" batin Raka menggerutu. Dia hanya berani membatin karena ia tahu seperti apa temperamen tuan Kenzo. "Ah.. maaf tuan" hanya permintaan maaf yang keluar dari bibir Raka. Dia memilih meminta maaf agar ia selamat.
Kenzo hanya berdecih lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Tapi tatapan matanya masih saja tajam. Tak tahukah dia jika Raka saat ini merasa benar-benar takut.
"Tuan.."
Kenzo menatap wajah Raka. Alisnya terangkat sebagai jawaban bahwa Raka boleh melanjutkan ucapannya.
"Apa nona Aruna---"
Kenzo memotong ucapan Raka yang hendak membahas Aruna. Dia mengangkat tangannya agar Raka berhenti bicara. "Aku tidak peduli padanya kau dengar!"
"Tapi tuan.. sepertinya nona akan bosan saat dipulau, apakah saya boleh membawanya jalan-jalan ketika demamnya sudah turun?"
Alis Kenzo menukik. Dia sepertinya keberatan. "Terserah kau saja! Bawalah gadis itu kalau kau mau!" ucapnya dengan datar seperti biasanya. Padahal tadi ia memberikan tatapan keberatan, tapi yang keluar dari mulutnya adalah kebalikannya.
Raka mengangguk, dia memang benar-benar merasa kasihan pada Aruna jika gadis itu tak melakukan kegiatan apapun selama berada dipulau ini.
"Sayang.."
Kenzo menoleh kesumber suara. Dan mendapati Laura yang sudah selesai bersiap. Wanita itu terlihat cantik dan seksi dengan balutan dress pres bodynya.
"Aku sudah selesai bersiap. Ayo pergi"
Kenzo mengangguk dan pergi meninggalkan Raka tanpa berucap lagi. Dia menggandeng Laura dengan mesra pergi.
Raka memperhatikan interaksi bos dan kekasihnya "ck.. bodohnya aku yang mengira tuan bersimpati pada nona Aruna" ucapnya sembari menepuk keningnya sendiri. Tadi ia hanya mencoba mengetes perasaan tuannya tapi sepertinya Kenzo memang masih sangat bucin pada kekasihnya.
Raka menghela nafasnya panjang "kasihan sekali nasib anda nona" gumamnya saat teringat akan gadis yang terlihat loyo karena demam. Gadis yang terlihat lemah lembut itu harus berada di situasi yang menurutnya aneh.
Raka tak habis pikir akan hubungan antara tuan dan nonanya. Entah mau dibawa kemana hubungan seperti ini.
Kenzo yang selalu bersikap dingin, serta gadis yang telah menjadi istrinya tampak tak peduli walaupun pria yang berstatus sebagai suaminya bermesraan dengan wanita lain.
"Bodo amat lah! Yang terpenting gajiku lancar, jadi mau bagaimana pun hubungan mereka aku tak peduli" ucapnya pada akhirnya yang memilih untuk tak memikirkan bagaimana rumitnya hubungan bosnya dengan sang istri.