FAKE WIFE

FAKE WIFE
Mantai



Cuaca pagi ini sangat cerah. Matahari sudah terbit. Cahayanya yang hangat membuat gadis yang tengah berdiri didepan tralis balkon kamarnya memejamkan matanya. Menikmati sensasi hangat dari sang surya. Rambutnya yang masih sedikit lembab itu diterbangkan oleh angin.


Meski masih pagi, tapi angin disana cukup besar karena villa ini berada tepat ditepi pantai.


Menghela nafasnya panjang. Gadis itu sejak semalam terkurung didalam kamar, ia hanya bisa pergi kebalkon saja. Makan malam dan sarapan diantar menuju kamar, hal itu tidak bisa untuk ia jadikan alasan untuk keluar dari kamar ini.


Meski ia harus melihat keromantisan Kenzo dan Laura itu lebih baik dari pada ia didalam kamar sendirian.


Aruna menyisir rambutnya kebelakang, dia membiarkan rambutnya kering dengan sendirinya padahal dikamar tersedia hairdryer. Entahlah, sepertinya ini adalah kebiasaan Aruna.


"Apa ini yang namanya terkurung disangkar emas?" Ucapnya sembari mendesah kesal. Dia mengetukkan kepalanya ketralis besi dengan pelan.


"Aku harus melakukan sesuatu atau aku nanti mati disini karena kesepian"


Setelah menghela nafas panjang Aruna berbalik badan. Dia berjalan menuju kearah kamar kemudian menuju pintu. Tangannya terangkat untuk membuka pintu. Kepalanya melongok untuk memperhatikan sekitar.


Matanya terbelalak saat tiba-tiba matanya bertemu pandang dengan iris seseorang. Pria yang sejak semalam duduk disofa yang berada disisi tangga. Dengan meringis Aruna melambaikan tangannya kearah Raka "hai Raka. Kau sedang bekerja ya?" tanyanya dengan tenang, dia berusaha menutupi wajah paniknya. "Aku tidak keluar kamar loh!" tambahnya lagi. Kakinya memang masih berada didalam kamar. Jadi ia tak keluar kamar satu langkahpun kan?


Raka hanya menatap datar nona Aruna yang hanya menyembulkan kepalanya dipintu. "Selamat pagi nona. ada yang bisa saya bantu?"


"oh Raka. Pagi yang sangat cerah. Apa boleh saya pergi keluar, kumohon Raka. Aku hampir mati kebosanan didalam kamar." rangek Aruna seperti bocah kecil.


Raka mendesah. Dia juga sebenarnya merasa lelah, harus menjaga pintu sepanjang malam. Bahkan semalam ia harus tidur disofa ini. "Akan saya tanyakan pada tuan. Nona kembalilah kekamar nanti akan saya sampaikan pada anda jawaban tuan"


Aruna tersenyum cerah. Sehingga lesung pipinya yang cantik itu terlihat. Raka selalu terpesona akan keunikan wajah Aruna, rasanya istri dari bosnya itu akan berkali-kali lipat lebih cantik saat tersenyum. Sungguh tuan Kenzo sangat bodoh, lebih memilih ondel-ondel seperti Laura dari pada istrinya yang cantik nya tak membosankan itu.


"Terimakasih Raka. Maaf merepotkan mu"


Raka mengangguk lalu berdiri dari duduknya. Melipat leptop yang ia gunakan untuk bekerja, lalu memutuskan untuk berjalan menuju kearah kamar tuannya.


Tok tok tok


Raka mengetuk pintu. Cukup lama sampai ia diperbolehkan masuk kedalam kamar tuan Kenzo. Dia membungkuk saat berada dihadapan Kenzo, pria tersebut tengah duduk bersandar disofa dengan nyaman. "maaf mengganggu anda tuan. Tapi nona Aruna merengek minta untuk keluar dari kamar" ucap Raka menjelaskan kedatangannya.


"Merengek?" Alis Kenzo menyatu. Sepertinya ia sedikit terkejut mendengar ucapan Raka. Karena setahu Kenzo gadis itu tak pernah menunjukan sisi lain selain takut saat berada didepan Kenzo.


Raka mengangguk "iya tuan"


"Dia merengek dihadapan Raka? Tapi dihadapanku hanya bisa menunduk!" Batinnya berucap kesal. Dia menatap tajam Raka.


"Ada apa ini? Kenapa aura tuan semakin menakutkan? Apa tuan tidak mengizinkan nona pergi? "  Batin Raka sembari menautkan kedua tangannya. Dia khawatir. Karena kalau sampai tidak diizinkan nona Aruna pasti akan mengeluh padanya.


Terdengar helaan nafas kasar dari Kenzo. "Biarkan dia pergi. Tapi tetap awasi dia!"


Raka mengangguk. "Baik. Saya permisi"


Kenzo tampak tak peduli. Dia terlalu malas untuk sekedar menjawab ucapan Raka.


**


Tok tok tok


"Tuan memperbolehkan anda keluar"


"Yeaaah" pekik girang Aruna. Dia sampai melompat saking senangnya.


"Aku akan pergi kepantai saja. Sayang sekali berada ditempat indah tapi tak ditelusuri, aku juga ingin berenang"


"Anda baru saja sembuh. Saya sarankan untuk tidak berenang dulu nona"


"Ah benar... Ck padahal aku ingin sekali melihat keindahan bawah laut" gerutunya terdengar kesal. Padahal melihat bagaimana cantik dan jernihnya air pantai, Aruna sudah membayangkan bagaimana cantiknya batu karang dan hewan lautnya.


Tapi dari pada harus terkurung dikamar ini jauh  lebih baik. Dia tak akan mengeluh.


Gadis itu dengan ceria berjalan kearah tangga. Tapi sebelum turun ia membeku disana.


"Ada apa nona?" tanya Raka sedikit khawatir.


"Oh astaga. Aku belum mamakai sunblok. Jangan sampai aku gosong setelah pulang." Setelah berucap seperti itu Aruna berlari kearah kamarnya untuk memakai sunblok ditangan kaki dan wajahnya. Dia juga mengganti dress yang tadi ia kenakan dengan celana pendek dan kaos yang nyaman.


Dia dengan riang keluar kamar. Menuruni tangga dengan bersemangat.


"Mau kemana kau fake wife?"


Aruna menoleh sinis saat mendengar ucapan Laura. Gadis itu tengah duduk sembari memakai masker diwajahnya. Jangan lupakan tatapan tajamnya seperti hendak ******* tubuh Aruna, tapi dia sama sekali tak takut. Satu-satunya orang yang ia takuti hanyalah Kenzo, suaminya. Kalau Laura ia tentu saja berani melawan meski hanya dengan kata-kata "Aku mau jalan-jalan ke pantai." memilih untuk menjawab dari pada Laura mengganggunya.


"Ya sudah sana pergi! Kalau kulitmu terbakar aku akan sangat senang! Kalau aku lebih baik disini, diruang AC yang nyaman"  Setiap wanita pasti akan ketakutan jika kulitnya berubah menjadi kusam, begitupun dengan Laura.


"Ini masih pagi! Cahaya matahari masih bagus untuk kulit. Dasar wanita manja!" Aruna berucap ketus. Padahal tadi dirinya juga panik saat lupa memakai sunblok.


"Apa kau bilang?!" pekik marah Laura.


"Dasar tuli! Aku lebih baik pergi, malas sekali berada disekitar wanita simpanan" ucapnya sembari berlalu.


Mata Laura terbelalak mendengar ucapan Aruna. Tangannya terkepal erat mendengar ucapan menyakitkan dari mulut wanita itu "dasar gadis sialan! Sini kau! Ayo kita bertarung" berdiri dari duduknya sembari bertolak pinggang.


Tapi Aruna tampak acuh tak peduli. Dia hanya mengacungkan jari tengahnya sembari berlalu pergi.


Pfftt


Laura menoleh kearah seseorang yang sedang berusaha menahan tawanya. Dia tatap tajam wajah pria yang adalah asisten Kenzo itu.


"Saya permisi nona" setelah berucap. Raka berlalu, setelah agak jauh Raka memecahkan tawanya.


"Kau pria rendahan! Menyabalakan sekali" pekik Laura sembari mencopot masker yang ada diwajahnya. Meleparkannya kearah Raka, tapi pria itu dengan sigap menghindar yang mana membuat Laura bertambah kesal. "Awas kau! Akan kusuruh Kenzo untuk memecatmu!"


Raka angkat bahu acuh. Dia memilih untuk mengikuti nona Aruna dari pada ia yang nantinya emosi menghadapi wanita pemarah itu. Sikap lembut dan lugunya hanya sebuah topeng untuk menipu Kenzo. Raka merasa jengah dan kesal karena tuannya itu tak kunjung mengetahui bagaimana sifat dan perilaku Laura.


Dia menatap nona Aruna yang sepertinya terlihat senang dan pertemuan nya dengan Laura tak membuat mood nya berantakan. Sepertinya gadis itu memiliki pertahanan diri yang kuat. "Nona Aruna jelas sangat cocok berada disisi tuan Kenzo. Dengan kepribadiannya nona bisa menghempaskan wanita-wanita yang mencoba mendekati tuan"  ucapnya sembari memperhatikan nona Aruna yang sedang menatap pantai dengan wajah berbinar.