
Aruna menggeliat dan mulai mengerjap-erjapkan kedua matanya. Matanya menyernyit karena silau saat cahaya masuk kedalam kornea matanya.
"Sudah bangun?!"
Aruna yang sedang berusaha mengumpulkan nyawanya terkesiap kaget mendengar suara bariton seseorang. Aruna secara spontan langsung terduduk, lalu menoleh kesumber suara dimana seorang pria tampan tengah duduk disofa sembari menatap nya tajam.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya karena ia benar-benar kaget. "I-iya" jawabnya terbata.
"Cepat bersihkan diri dan kita bicara!"
Aruna mengangguk dan segera turun dari tempat tidur. Dia berjalan kearah pintu bathroom dan segera masuk kedalam sana untuk membersihkan diri.
Setelah hampir dua puluh menit, Aruna keluar dalam keadaan segar. Dia sudah mengenakan dress cantik rumahan yang dia ambil ditempat ganti baju. Ruangan tempat baju terhubung dengan bathroom sehingga Aruna tak perlu khawatir pria yang ada diluar sana melihatnya melihatnya hanya mengenakan handuk saja.
Gadis cantik itu berjalan menuju sofa. Dimana pria yang berstatus suaminya itu tengah duduk dengan pandangan arogan menatapnya.
Deg deg deg
Jantung Aruna berdetak dua kali lebih cepat saat langkah kakinya semakin dekat dengan sofa.
"Cepatlah atau aku akan menyeretmu kemari"
Aruna dengan cepat duduk didepan pria yang baru saja membentak dirinya. Dia tak berani menatap mata pria yang sedang menatapnya dengan begitu tajam.
"Aku tahu kau menikah denganku dengan terpaksa"
Suara bariton Kenzo membuat Aruna yang tengah menunduk takut memberanikan diri mendongak. Manik mata hazel milik Aruna bertemu pandang dengan mata elang Kenzo yang berwarna coklat.
"Bukan hanya kau, akupun terpaksa! Aku harus menikah dengan gadis menyedihkan yang baru saja ditinggal pergi oleh kekasihnya. Cih.. ayahku memang benar-benar keterlaluan" ucap Kenzo ketus dan menyebalkan.
"Apa?! Meski benar apa yang baru saja dia ucapkan. Tapi entah kenapa saat mendengar nya yang mengatakan hal itu terdengar begitu menjengkelkan sekali sih.." batin Aruna berteriak.
"Kenapa? Tak terima aku berkata demikian? Aku bicara fakta Aruna William" tanya Kenzo saat melihat raut wajah Aruna yang berubah kesal.
Aruna menghela nafasnya panjang "jadi apa yang mau anda bicarakan tuan?" Aruna gemetar takut sebenarnya. Tapi ia berusaha bertanya dan mencoba menguasai dirinya agar tak gemetar takut yang nantinya bisa saja pria dingin yang ada dihadapannya ini akan menemukan kelemahannya dan hak itu bisa saja digunakan untuk menekan dirinya.
"Kita jalani hidup kita masing-masing! Jangan pernah kau mencampuri urusan ku!" Ucap Kenzo dengan suara serius.
Aruna mengangguk. Dia merasa senang sekali saat pria yang ada dihadapannya ini mengatakan hal ini. "Baiklah"
Kenzo menatap tajam gadis yang dengan entengnya menyetujui ucapannya. Dia menatap manik hazel itu untuk melihat dengan teliti perubahan raut wajah Aruna
Tapi gadis itu tak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Sepertinya dia memang benar-benar menerima semua ucapan keterlaluan Kenzo dengan lapang dada.
"Selama dihadapan ayahku. Kau harus bersikap bagaimana istri pada umumnya!"
Aruna mengangguk. "Tuan. Bisakah kita tidur terpisah? Saya tidak nyaman tidur bersama dengan orang asing"
Kenzo menatap kesal gadis cantik ini. Bagaimana bisa ia menolak tidur dengannya? Bahkan jika ia mau, banyak sekali wanita yang mau dengan senang hati menghangatkan ranjangnya. "Apa kau kira aku sudi tidur denganmu?!"
Aruna menunduk dan menggeleng.
"Tapi mengingat bagaimana kerasnya ayahku kau harus membiasakan diri tidur disisiku! Kau tak mau kan ayahmu yang sedang sekarat itu tahu bagaimana kondisi rumah tangga puteri tercintanya?" Ucapnya dengan seringai tipis dibibirnya.
Aruna mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan gejolak amarah yang siap meledak kapan saja. Meski hatinya sebenarnya sangat sakit sekali tapi ia mencoba bersabar. Benar apa yang pria arogan ini ucapkan jika ayahnya tahu bagaimana kondisi rumah tangga nya yang seperti ini pasti ayahnya akan sangat sedih.
Aruna kembali mendongak, menatap wajah tampan suaminya. Patah hatinya saja belum sembuh, dia harus membiasakan diri untuk tidur disisi pria menyebalkan ini? Sungguh.. kalau saja bunuh diri tidak sakit Aruna sudah dari kemarin menghabisi nyawa nya sendiri.
Aruna mengangguk dan mengikuti Kenzo yang berjalan duluan. Tak ada kehangatan diantara mereka berdua padahal mereka adalah pengantin baru.
"Selamat malam" sapa Aruna dengan sopan. Dia menyapa kedua orang tuan Kenzo.
"Malam.. kamu sudah bangun Aruna?" Tanya tuan Leon Keith dengan ramah. Pria paruh baya itu adalah mertua Aruna.
Aruna mengangguk "sudah. Maaf membuat kalian menunggu" ucapnya sembari menoleh kearah ibu mertuanya yang hanya diam.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya sekarang adalah ibu sambung dari Kenzo. Ibu Maria namanya. Jadi tak heran saat wanita paruh baya itu tak terlalu hangat memperlakukan Aruna.
Aruna sedikit tahu mengenai keluarga ini saat ibunya memberi informasi bagaimana kondisi keluarga yang akan ia masuki.
Kenzo menarik tangan Aruna sehingga gadis itu segera duduk ditempatnya.
Gadis cantik itu tertegun saat melihat tatapan tajam suaminya "apa?" tanyanya pelan melalui sorot mata.
"Ck gadis bodoh! ambilkan makanan untukku!"
Ayah Leon menatap tajam anaknya itu "jangan membentak Aruna!"
Kenzo tampak menghela nafas kesal, dia yang awalnya menatap jengah ayahnya menoleh kearah Aruna "tolong ambilkan makanan untukku istriku tersayang! Kau bisa lihat bagaimana cara ibu Maria yang terhormat melayani suaminya bukan? Kau bisa mencontoh perilaku sok perhatian nya itu"
Brak
"Kenzo!" bentak Leon pada anaknya. Dia yang melihat Aruna terkejut mencoba menahan dirinya "maaf Aruna. Ayah mengagetkanmu"
Aruna menggeleng panik "tidak ayah. Maaf karena aku tidak bisa melayani kak Kenzo dengan baik. Aku akan belajar mulai saat ini"
Leon tersenyum. Dia memang sangat menyukai gadis cantik dan baik ini. Gadis lembut yang Leon harapkan bisa meluluhkan hati es anaknya.
Aruna mengambilkan makanan untuk Kenzo. Dia meniru apa yang dilakukan oleh ibu Maria. Meski menadapatkan tatapan tak suka dari wanita paruh baya itu Aruna tak peduli.
Setelah makan malam yang cukup canggung bagi Aruna. Aruna kembali kekamar.
Gadis cantik itu sedikit takut karena suasana hati Kenzo yang buruk akibat perdebatan yang terjadi dimeja makan.
Saat Kenzo kembali kekamar. Tak ada lagi obrolan karena pria dingin itu langsung masuk kedalam selimut untuk tidur. Mengabaikan keberadaan gadis cantik yang ada didalam kamarnya.
Aruna bernafas dengan lega saat Kenzo langsung tidur.
Gadis itu menoleh kearah sofa. Sofa itu cukup besar dan panjang. "Apa aku tidur disofa saja?" gumam-gumam kecil sembari berdiri disisi ranjang.
Tapi sejurus kemudian, Aruna menggeleng. Dia takut jika nanti ayah Leon masuk kedalam kamar dan mendapatinya tidur diatas sofa. Bagaimana nanti ia akan menjawab pertanyaan pria paruh baya yang sangat baik padanya itu.
Aruna menghela nafasnya panjang lalu dengan pelan naik keatas tempat tidur. Berbaring dan memberi jarak dirinya dan Kenzo menggunakan guling.
Mata hazelnya menatap langit-langit kamar. Dia melirik Kenzo yang memunggunginya. Sepertinya ia sudah tertidur.
"Rasanya seperti mimpi aku menikah dengan orang yang arogan sepertinya. Wajahnya tak pernah ramah dan selalu berbicara ketus padaku. Entah mau dibawa kemana pernikahan ini" batin Aruna. Dia memilih untuk memejamkan matanya dan tidur.
***
Entah pukul berapa sekarang. Kenzo terkejut saat ia menyenggol tubuh seseorang. Dengan mata mengerjap Kenzo menatap wajah cantik Aruna. Gadis itu tidur dengan menghadap kearahnya.
Dia memperhatikan wajah Aruna hanya sebentar. Karena detik selanjutnya Kenzo melengos "dasar gadis jelek!" umpatnya lalu pria itu memilih untuk kembali tidur dengan membelakangi Aruna lagi.